Waspadai, Sugar Dating Menyerang Generasi

cup of cocoa with whipped cream

Waspadai, Sugar Dating Menyerang Generasi

Oleh: Anim Munifah

Healthy-sharia.com – Miris. Ngenes. Melihat pergaulan remaja hari ini. kebebasan dijunjung tinggi tanpa peduli lagi batas agama, moral dan nilai yang ada. Gaya hidup yang serba materialistik dan hedonis menjadikan mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhinya.

Sugar dating, sugar baby, sugar dady merupakan istilah baru dalam pergaulan remaja. Fenomena pergaulan gaya baru itu mulai digandrungi oleh remaja dan menjadi sebuah sindrom baru di kalangan mereka. Istilah ini mulai ramai dibicarakan di media sosial. Kemunculan istilah ini dimulai sejak tahun 2018 dan menjadi topik viral di media sosial Twitter.

Lalu sebetulnya apa itu sugar dating, sugar baby dan sugar dady? Mengutip dari wikipedia.org, sugar dady adalah seorang pria kaya dewasa yang menawarkan dukungan finansial kepada wanita yang lebih muda. Sedangkan sugar baby adalah istilah untuk wanita yang lebih muda yang biaya hidupnya ditunjang oleh sugar dady.

Hubungan keduanya disebut sebagai sugar dating. Hubungan di mana wanita lebih muda berpasangan dengan pria lebih tua yang bisa memenuhi kebutuhannya secara finansial, dengan imbalan wanita tersebut bersedia menjadi ‘teman’ romantis. Pada tahap ini, hubungan keduanya akan bertahan selama sugar dady mampu membiayai semua kebutuhan sang wanita. Tujuan melakukan hubungan sugar dating adalah untuk keamanan ekonomi bagi sugar baby.

Dalam hubungan ini, sugar baby mendapat keuntungan materil. Bentuknya bisa berupa uang, baju tas mewah dan tunjangan hidup lainnya. Hubungan ini dibangun dengan asas “balas budi” antara sugar dady sebagai pemberi, dan sugar baby sebagai penerima. Sehingga, apa yang diminta oleh sugar dady, sugar baby akan melakukannya

Jerat Kapitalisme Liberal

Aktivitas Sugar Dating sejatinya adalah prostitusi gaya baru yang dibalut dengan istilah yang keren. Psikolog Elizabeth T Santoso menyebut tingkah Sugar Baby sebagai bagian dari bentuk prostitusi (kumparan.com, 5/7/2018).

Muncul dan merebaknya sindrom sugar baby memang tanpa alasan. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa seorang remaja memilih untuk memiliki hubungan sugar dating ini, di antaranya: pertama, tidak mendapatkan atau kurangnya kasih sayang seorang ayah di dalam rumah. Kedua, untuk memenuhi gaya hidup hedonis tanpa harus susah payah bekerja.

Tak heran, fenomena sugar dating semakin dilirik di tengah sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dalam sistem kapitalisme liberal hari ini. Pasalnya, kehidupan yang diukur dari sisi materi ini menjadikan manusia menghalalkan segala cara demi gaya hidup.

Sedangkan liberalisme dijunjung tinggi untuk bebas melakukan apa yang diinginkan dengan pandangan hidup YOLO (You’ll Only Live Once). Sehingga sugar dating menjadi pilihan dan jalan pintas sebagian remaja untuk memenuhi gaya hidup hedonis yang dianutnya.

Generasi Muda dalam Pandangan Islam

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah peradaban Islam. Selain itu, maju mundurnya sebuah peradaban tergantung pada kondisi pemudanya. Bahkan Allah telah mengabadikan kisah para pemuda Ashabul Kahfi di dalam Al-Qur’an yang artinya, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhannya, dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18)

Selain itu, dalam sejarah Islam yang lain, kita mengenal sosok pemuda-pemuda hebat seperti Ali bin abi Thalib Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf dan masih banyak lagi. Merekalah para pemuda yang menghabiskan umurnya untuk Islam. Pemuda yang loyal terhadap agama, Allah dan Rasul-Nya.

Sejatinya, para pemuda itu tidak muncul begitu saja, namun ada tangan Rasulullah yang secara langsung mendidik dan membina mereka. Pendidkan yang berlandaskan akidah Islam serta membentuk mereka menjadi pribadi yang bersyakhsiyah Islam (kepribadian Islam). Seharusnya beginilah kita hari ini dalam mendidik para generasi muslim. Menjadikan Rasulullah sebagai teladan satu-satunya.

Sayangnya, dalam sistem kapitalisme liberal hari ini sangat berat untuk dilakukan. Bagaimana tidak, faktanya karena tidak adanya keterkaitan antara keluarga, masyarakat dan negara. Dan semua itu hanya akan terwujud dengan adanya Daulah Khilafah Islamiyah.