Viral Odading Mang Oleh, Hilangnya Adab Muslim pada Makanan?

Viral Odading Mang Oleh, Hilangnya Adab Muslim pada Makanan?

Oleh: Noviza Efrina

“Odading Mang Oleh, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Belilah odading Mang Oleh di dieu karena lamun teu ngadahar odading Mang Oleh, maneh teu gaul jeung aing, lain balad aing, goblok. Ikan hiu makan tomat, goblok mun teu kadieu. Odading Mang Oleh, rasanya anjing banget.”

Viral melalui akun Instagram, seorang pria dengan nada “ngegas” mempromosikan odading Mang Oleh di Bandung. Odading adalah roti goreng dari Bandung berbentuk kotak menggelembung dengan tekstur lembut dan rasa manis. Warung Odading Mang Oleh berjualan odading dan cakueh sejak tahun 1987.

Semula warung Mang Oleh ini setiap harinya hanya menghabiskan sekitar 30 sampai 40 kilogram adonan odading dan cakueh. Sejak diviralkan oleh selebgram Ade Londok di media sosial dengan kata-kata kasar dalam video review kulinernya, warung odading Mang Oleh mampu menghabiskan hingga satu kuintal setiap hari.

“Memang bapak awalnya merasa kurang enak dengan kata-kata itu. Tapi, alhamdulillah ternyata jadi viral, jadi enakin bapak malah sekarang. Enggak masalahlah sama Kang Ade. Justru saya mengucapkan terima kasih sama Kang Ade,” tutur Mang Oleh (kompas.com, 15/9/2020).

Viral demi Konten Versus Adab

Review kuliner makanan oleh selebgram melalui media sosial marak dilakukan saat ini. Hal ini penting bagi penikmat kuliner sebagai referensi dalam mencoba makanan yang sedang in atau viral.

Tren penggunaan kata “hiperbola” yang cenderung negatif menjadi sesuatu “kekinian” yang disukai masyarakat. “Enak mampus”, “Anjir enak parah”, “Mau mati aja plis”, adalah sebagian kecil kosakata yang digunakan untuk menggambarkan citarasa makanan yang dinikmati dengan penggunaan konotasi negatif. Apakah makanan harus diboomingkan dengan celaan?

Muslim, Jagalah Adab pada Makanan

“Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikitpun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Disadari atau tidak, kita sering melupakan adab terhadap makanan. Menampik aturan dan teladan Rasullullah demi konten dan eksistensi diri di dalam masyarakat. Bukankah mencela makanan itu dilarang? Dan bukankah ucapan itu adalah doa? Mengapa tak kita ucapkan kalimat baik saja saat menyampaikan kenikmatan dalam makanan?

Sungguhlah berat pertanggungjawaban kita nanti di hari akhir, yang timbul dari perkataan negatif dan menyebarkan keburukan adab kita terhadap makanan. Hendaknya sebagai seorang muslim, kita menjalankan aturan dan petunjuk yang sudah diturunkan dalam syariat, yang tujuannya tidak lain menjadikan kita patuh dan mengharap ridho-Nya.

Segala keburukan yang kita ajarkan dan sebarkan akan menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Sekiranya pembelajaran ini dapat menjadi cambuk kita untuk memperbaiki dan lebih mawas diri dalam berperilaku dan bertutur kata. Pada akhirnya, semua “kehebohan” di dunia hanyalah jalan setan bagi kita agar kian jauh dari ketaatan kepada-Nya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholih, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya.” QS. Yunus: 5).[]