Tragedi Pandemi, Akankah Berakhir Sebentar Lagi?

photo of child sitting by the table while looking at the imac

Tragedi Pandemi, Akankah Berakhir Sebentar Lagi?

Oleh: Sitha Soehaimi

Healthy-sharia.com – Rasa bosan kian merayapi diri. Jenuh menghitung hari demi hari yang seolah tiada bertepi. Tak terasa, kini hampir sepuluh bulan pandemi Covid-19 menggelayuti bumi.

“Assalamualaikum, apa kabar? Maaf, aku ingin berkabar. Barusan ditelpon rumah sakit, hasilnya positif Covid-19. Jika ada salah dan dosa, aku minta maaf ya. Wassalam.”

Tak percaya rasanya saat kubaca pesan dari sahabatku, Dija (nama samaran). “Ya Allah, Dija terkena Covid,” pekikku.

Aku dan Dija tinggal di sebuah perumahan, di kota Bogor. Sejak suaminya meninggal di awal tahun 2020, kami tak pernah bertemu. Lalu berlanjut pandemi. Hingga datanglah kabar pada 6 November lalu yang cukup mengagetkanku.

Kabar orang terpapar Covid-19 terus berseliweran. Tingkat penularan pandemi di Bogor memang termasuk tinggi. Beberapa hari sebelumnya, dua tetanggaku meninggal. Keluarga mereka pun terpapar.

“Andai pemerintah dari awal membuat kebijakan yang tepat, kondisi ini tidak akan separah ini,” bisikku. Setengah mengeluh atas kondisi ini.

Nampak kebijakan dibuat setengah hati. Buka tutup area yang tidak jelas syaratnya. Imbauan tinggal di rumah, tapi tanpa bantuan bagi yang tak mampu. Diminta perketat prokes, sementara tempat wisata dan pusat belanja dibuka kembali. KRL kembali dinormalkan.

Pun, sanksi yang digembar-gemborkan di awal, tak ada realisasi. Banyak masyarakat tidak mampu membeli masker. Apalagi membayar denda. Ah, sudahlah! Berharap ada pemimpin seperti wali Amr bin Ash di zaman ini seperti mimpi di siang hari.

Covid-19 memang misterius. Tidak pandang bulu siapa yang terpapar. Dija yang taat prokes atau siapa saja berpotensi terkena. Justru orang-orang di kampung dekat perumahan kami, seolah kebal. Atau mungkin tidak terdeteksi, sebab mereka tidak mampu membayar tes.

“Punya info tentang Covidkah? Empat hari badanku tak enak. Ciri-ciri Covid. Aku bermasker terus. Takut menular ke anak-anak.” Pesan via whatsapp masuk lagi di telepon genggamku.

Kali ini dari Ana (nama samaran), temanku. Dia tinggal di daerah Ciawi, Bogor. Dia ingin tes Rapid atau PCR. Namun, suaminya baru saja di-PHK karena pandemi. Harga rapid tes sekitar dua ratus ribuan dan PCR sekitar satu juta, tak terjangkau buatnya.

Tadinya aku baca di health.grid.id , Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, mengabarkan ada tes gratis di Puskesmas. Ternyata syaratnya bagi orang riwayat kontak dengan ODP dan PDP.

Lalu, bagaimana dengan orang yang terpapar karena kontak OTG? Sehingga tidak tahu kapan kontak? Yah, inilah keniscayaan di sistem kapitalisme. Tidak ada makan siang gratis. Mencari keuntungan kapan saja, termasuk saat pandemi.

Belum lagi stigma negatif masyarakat terhadap penderita Covid-19. Dija dan Ana termasuk yang menyembunyikan kondisinya. Meski akhirnya kondisi Dija terdata di kelurahan dan sampai pada Bu RT. Kemudian tersebar ke tetangga kami.

“Alhamdulillah, semua kebutuhan sudah ada stok. Mohon doanya saja ya. Selama isolasi mandiri, aku banyak membaca ayat-ayat tentang kematian. Jadi lebih tenang,” jawab Dija ketika aku tawarkan bantuan untuknya.

Masya Allah, dari sini aku semakin yakin. Bahwa, kita sangat membutuhkan peran negara ketika pandemi. Pertama, kita butuh pemimpin negarawan yang mampu berpikir cepat dan tepat. Tentu saja pemimpin yang mempunyai pemikiran ideologis. Kedua, negara menerapkan sistem terbaik termasuk dalam pandemi.

Sistem Islam tentulah alternatif terbaik. Terlebih, sistem kapitalis yang diterapkan saat ini, terbukti tak mampu menyelesaikan pandemi. Aku harap, kerinduan akan tegaknya sistem ini segera terobati. Salah satunya, demi mengakhiri pilunya tragedi pandemi saat ini.