Tarbiyah Jinsiyah, Konsep Seksualitas Menjaga Fitrah

crop person touch palms with newborn baby on gray backdrop

Tarbiyah Jinsiyah, Konsep Seksualitas Menjaga Fitrah

Oleh: Annisa Mayu Reksi

Sungguh mengerikan. 32.760 janin dibunuh di klinik aborsi ilegal, di Jalan Percetakan Negara III, Jakarta Pusat, oleh dokter yang praktik abal-abal. Klinik meraup keuntungan mencapai Rp 10 milyar setiap hari (Tribunnews.com, 24/9).

Dalam kasus lainnya, polisi membongkar pesta gay di sebuah apartemen di Kuningan, Jakarta Selatan. Polisi menyebut penyelenggara sudah menggelar pesta gay di lokasi yang sama selama 2020. Komunitas ini di tahun 2018 dan 2019 masing-masing dua kali membuat event (pesta seks). Di tahun 2020 juga dua kali di bilangan yang ada di Jakarta dan berpindah-pindah tempat, kata Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvin (detiknews.com, 4/9).

Itulah sekelumit fakta akibat konsep pendidikan seksual melalui persetujuan (consent) yang membuka ruang bagi kebebasan seksual. Konsep ini mengajarkan bahwa aktivitas seksual yang benar adalah berdasarkan kesepakan (suka sama suka), tanpa memedulikan legal atau tidaknya hubungan seksual. Padahal bukti – bukti empiris menunjukkan banyaknya kejahatan seksual dimulai dari hubungan tidak legal dan menyimpang (cintakeluarga.org, 20/9).

Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, Kamarudin mengatakan bahwa pendekatan sexual consent tidak mementingkan halal-haram dalam agama, melanggar hukum atau tidak, apakah itu pantas atau tidak. Yang paling penting adalah kedua belah pihak setuju atau consent untuk melakukan aktivitas seks. Ini tentu bahaya (Tempo.co, 22/9).

Dalam webinar CSE @ailaindonesia, Dr Ir Sodik Mudjahid, Msc mengatakan memang seharusnya berhubungan seksual dilakukan dengan kesepakatan, tetapi bukan kesepakatan model liberal yang tanpa menikah alu bisa mudah melakukan hubungan seksual seenaknya. Di Indonesia, kesepakatan model seperti itu tidak ada, karena Indonesia masih memegang teguh nilai luhur, maka kesepakatannya harus melalui lembaga yang agung yaitu pernikahan.

Kini, selain pandemi Covid-19, ada yang menyeramkan lainnya yaitu kampanye sex bebas yang sudah berjalan lama dan sasarannya adalah anak-anak dan pemuda Indonesia. Menurut Dr.p Dewi Inong Irana, Sp.KK., pelaku kampanye seks bebas sudah masuk ke dunia pendidikan. Anak-anak kita dibebaskan memilih apakah ingin menjadi heteroseksual, biseksual, homoseksual, atau axesual, dan kita lalai. Jadi tidak heran jika sekarang ini penyimpangan seksual itu banyak terjadi.

Hal ini hendaknya
menyadarkan kita untuk terus mewaspadai pergaulan dan bahan pembelajaran sekolah anak-anak. Anak perlu diberi pendidikan khusus sebagai pencegahan
agar tidak melakukan perbuatan menyimpang atau menjadi korban penyimpangan. Pendidikan itu adalah tarbiyah jinsiyah.

Mengenal Tarbiyah Jinsiyah

Tarbiyah jinsiyah adalah pendidikan seks dalam Islam
yang mengacu pada pendidikan akhlak dan adab yang
berlandaskan keimanan kepada Allah dan sesuai syariat
yang termaktub rinci di Alquran
dan Hadits. Hal ini untuk menjaga fitrah.

Tarbiyah jinsiyah adalah upaya
mendidik nafsu syahwat agar sesuai dengan nilai-nilai
Islam. Nafsu ini ada dua. Pertama, nafsu yang dirahmati Allah Swt. Kedua, nafsu yang tidak dirahmati Allah Swt. Karena nafsu seks adalah sesuatu yang fitrah, maka Islam tidak mematikan tapi menyalurkannya sesuai jalur.

Ketika nafsu yang tidak dirahmati Allah Swt berkembang, maka timbul berbagai jenis penyimpangan seksual. Misal, homoseks, lesbi, onani, masturbasi dan lain-lain. Nafsu ini akan berkembang dengan liarnya. Tidak terkendali karena dalam pelampiasannya tidak sesuai dengan aturan syariat. Ingin menjerumuskan pelakunya, timbullah perzinaan, perkosaan.

Adapun tahapan dalam tarbiyah jinsiyah adalah sebagai berikut :

a. Umur 0-7 tahun

  1. Konsep thaharah atau bersuci
  2. Konsep aurat
  3. Menumbuhkan rasa malu
  4. Fitrah jenis kelamin dan sifatnya
  5. Khitan

b. Umur 7-10 tahun

  1. Etika meminta izin dan melihat. Baik yang sesama jenis maupun lawan jenis. Baik yang mahrom maupun yang bukan mahrom
  2. Konsep mahrom
  3. Perbedaan laki-laki dan perempuan secara hak dan kewajiban dalam Islam

c. Umur 10-14 tahun

  1. Konsep bersuci ( lebih kompleks seperti cara mandi besar)
  2. Reproduksi awal (seperti haid dan mimpi basah)
  3. Larangan dalam agama yang berkaitan dengan nafsu syahwat

d. Umur lebih dari 14 tahun

  1. Pendidikan pra nikah (fiqih munakahat)
  2. Fiqih jima’ atau adab berhubungan badan ketika akan menikah

Tarbiyah Jinsiyah Versus Sex Education

Kata tarbiyah jinsiyah terkesan lebih santun, lebih enak dan berwawasan lebih luas daripada “pendidikan seks” saja.

Apakah pendidikan seks ala barat sama dengan pendidikan seks pola Islam? Tentu saja tidak. Pendidikan seks pola Islam lebih mengacu kepada pendidikan ahlak yang berlandaskan keimanan. Sedangkan pendidikan seks ala Barat hanya mengajarkan “seksualitas sehat” meliputi: seks secara anatomis, fisiologis dan psikologis saja. Misal, cara mencegah kehamilan, tidak aborsi dan sebagainya.

Mari kita renungi ayat-ayat terkait tarbiyah jinsiyah, kita akan dapati sebagian diantaranya menggunakan kalimat konotasi untuk membahasakannya. Jika saja kita mau melihat lebih dalam untuk memahaminya, akan kita sadari bahwa kalimat Alquran ini begitu Indah, santun, tanpa mengurangi makna pembelajarannya.

Lantas mengapa kita mempelajari atau mengajarkannya dengan cara vulgar? Target tarbiyah jinsiyah ialah kesucian. Sudah sepantasnya kita mempelajari dan mengajarkannya dengan bahasa santun dan beradab.

Bagaimana bisa mengajarkan kesucian jika dijelaskan dengan bahasa vulgar? Alih-alih memberikan pemahaman benar, yang terjadi justru terprovokasi, mencari tahu yang tak perlu tahu,
membangkitkan imajinasi buruk.

Tarbiyah Jinsiyah, Solusi Menjaga Fitrah Seksualitas Anak

Tarbiyah jinsiyah adalah kewajiban orangtua untuk mengajarkan kepada anaknya. Merupakan ilmu yang mulia, dimana didalamnya ada akidah sebagai pondasi, syariat Islam dan syakhsiyah Islam sebagai bangunan di atasnya. Jika membahas syariat Islam, otomatis membahas hukum perbuatan, halal, haram, makruh. Hukumnya Jelas, tegas, dan tidak bias. Menggunakan hijab hukumnya wajib, menghindari zina juga wajib, kalau mau berhubungan seksual harus menikah dulu.

Praktik tarbiyah jinsiyah dalam banyak hal seringkali bersifat individual, sehingga informasi yang ada seharusnya hanya diberikan sebatas kebutuhan anak yang cara penyampaiannya pun disesuaikan dengan usia anak. Tatkala anak mendengar hal yang belum saatnya ia ketahui, efeknya seringkali justru memunculkan rasa ingin tahu.

Dengan demikian, tarbiyah jinsiyah memerlukan waktu dan tahapan, bukan penjelasan singkat dan tiba-tiba. Dan fikih adalah pintu utama dan mulia untuk menjelaskan pendidikan ini.

Islam memberikan pendidikan kepada anak-anak tidak hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tapi juga memberikan perlindungan kepada orang lain, karena tiap muslim itu bersaudara.

Menyitir perkataan Ustaz Budi Ashari, masyarakat model mana yang kita pilih untuk jadi model kita dalam perkara seksualitas? Masyarakat yang menjaga kesucian atau masyarakat yang “menelanjangi” diri mereka dengan kebebasan?