Stimulasi Akidah: Hijab Sejak Dini Bukan Masalah

Foto by Koleksi Pribadi

Stimulasi Akidah: Hijab Sejak Dini Bukan Masalah

Oleh : Siti Nur Rahma
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi )

Deutch Welle (DW), jurnal media asal Jerman, mencoba menyoal aturan Islam, dengan konten videonya tentang sisi negatif pembiasaan hijab sejak dini. Hal ini menarik netizen untuk menghujatnya, karena sangat mengusik benak umat Islam.

“Apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?,” tulis DW Indonesia.(jurnalgaya.pikiran.rakyat.com). Inilah serangan yang coba diberikan kepada umat agar mempertanyakan kebaikan syariat Islam dan enggan menerapkannya.

DW Indonesia mewawancarai psikolog Rahajeng Ika dan aktivis feminis muslim Darol Mahmada bahwasanya akan berdampak negatif pada kejiwaan anak di masa depannya jika hijab dikenakan sejak dini. Inilah yang dinarasikan agar umat Islam tidak lagi berdalil pada tuntunan Rasulullah SAW. Memberikan pandangan yang mengerikan terhadap pendidikan akidah yang diajarkan rasul kemudian diharapkan umat Islam akan enggan meneladaninya.

Sistem kehidupan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan itu sendiri akan memberikan peluang untuk menjauhkan umat dari ketaqwaan. Mereka diberikan dorongan untuk tidak paham aturan hidup yang sempurna, sehingga tak kenal kemudian tak mau taat pada aturan. Yakni dari usia balita yang menjadi awal masuk stimulus aqidah, malah dinarasikan sebagai pemaksaan. Pemaksaan itu hanya opini penggiring agar umat tak butuh pendidikan agama di usia dini. Padahal, pohon akan tumbuh subur dan kuat jika dirawat dan dipupuk sejak awal penanaman, bukan saat pohon sudah berukuran besar.

Begitulah yang terjadi ketika umat Islam ingin mencetak generasi rabbani, akan ada upaya yang melemahkan semangat mendidik pada orang tua dari pembenci kebangkitan Islam.

Kita bisa merasakan bahwa pendidikan yang sejak awal adalah yang datang dari Yang Maha Baik, maka akan mendatangkan kebaikan. Jika sejak kecil seorang anak diajarkan untuk berperilaku jujur, maka integritas anak tersebut saat dewasa akan dinilai positif oleh masyarakat. Sebab pembiasaan itu butuh proses. Bahkan dalam dunia parenting islami, orang tua diwajibkan untuk tidak fokus pada hasil, sehingga melalaikan proses yang dialami.

Misal, ketika orang tua mengajarkan anak untuk bisa berbicara, maka seharusnya saat masih bayi, anak diajak untuk berkomunikasi dengan bahasa ahsan agar terbiasa mendengar kata-kata yang baik. Sering didengarkan ayat-ayat Qur’an, meskipun belum bisa melafadzkan satu huruf hijaiyah. Sebab ketika dia sudah terbiasa merekam kata-kata yang baik, maka ucapan yang dia keluarkan dari lisannya adalah perkataan ahsan. Sehingga orang tua tak boleh menunggu anak sudah dewasa untuk mengajarkan kejujuran dan berkata benar. Begitupun dengan memperkenalkan dan melatih anak dengan hijab, mulailah sejak dini!

Berbeda dengan orang tua yang hanya fokus pada hasil tidak pada visi misi pendidikan, maka akan mengesampingkan proses pembelajaran yang benar. Yang penting anak bisa berbicara, sebisa mungkin berbicara lebih cepat di usia yang relatif masih muda, namun yang diucapkan anak jauh dari muatan akhlak. Tak heran jika di zaman sekulerisme ini kita bisa menemukan anak balita yang sudah bisa berkata jorok, yang sebenarnya tanpa mereka pahami makna dari apa yang anak itu ucapkan. Na’udzubillahi mindzalik.

Begitupun dengan hijab. Jika leher kepala bayi sudah mulai bisa tegak dan leher kuat menyangga kepala, sesekali kita stimulus dengan memakaikan kerudung. Bukan pemaksaan, inilah pendidikan dengan pembiasaan. Jikalau cuaca panas, orang tua pun dengan naluri kasih sayangnya akan memberikan kenyaman pada anak untuk mengurangi gerah anaknya, dengan membuka kerudungnya dan mengipasinya. Ketika anak sudah mulai bisa mengindra fakta dan mulai memikirkan apa fakta di depannya, orang tua mulai memberikan stimulus pendengarannya dengan kalimat-kalimat indah bertajuk tsaqofah Islam. Inilah pendidikan dengan pembiasaan, bukan pemaksaan.

Banyak fakta yang telah terjadi di kalangan masyarakat liberalis tentang hasil pendidikan sekuler yang sangat memperihatinkan. Anak balita yang dikenakan rok mini oleh orang tuanya pun juga tak punya pilihan untuk menolak. Anak hanya mengikuti kemauan orang tuanya. Pun ketika mulai beranjak usia sekolah dasar, jika masih diberikan pakaian ala liberal, maka anak pun tak akan menjauhinya. Didukung dengan media yang memoles bahwa pakaian tersebut adalah idaman. Lantas anak tak kenal pakaian yang hakikatnya akan melindungi dan menghormatinya. Hingga dia masuk usia baligpun, pergaulan hidup dengan teman-temannya juga akan mempengaruhi kehidupan di masa depannya. Sebab telah terbiasa dengan kehidupan yang tak islami. Maka jika ada tindak kriminal dari anak, orang tua lupa atas pendidikannya selama ini, kemudian barulah bertanya, dosa apa hingga anak seperti ini?

Para liberalis mempunyai strategi dan bentuk-bentuk teknis penyebaran liberalisme, yang berasal dari hal-hal yang dominan melanda kehidupan anak dan remaja. Misal, lagu, film, sinetron, novel percintaan, dan games yang disukai mereka.

Di era kejayaan Islam, pemerintahannya sangat memperhatikan kebaikan-kebaikan untuk rakyatnya. Melakukan penjagaan terhadap umat dan generasinya dari perusak akidah dengan berlapis-lapis penjagaan.

Dari usia dini anak distimulus akidah sesuai usia dengan kasih sayang dari orang tua. Media-media pemberitaan akan senantiasa diseleksi konten tayangannya. Jika tidak sesuai dengan syariat pasti tak akan ada izin tayang. Medianya hanya akan berisi siar Islam. Hal ini diimbangi dengan adanya senias-senias yang berakidah kuat sehingga terminimalisir adanya tontonan merusak akidah dan akhlak umat.

Dalam hal penyebaran ide liberal, pemerintahan Islam tidak akan membiarkan paham liberal bertebaran di tengah masyarakat. Jika pun ada, pemerintah akan segera menindaknya dengan tegas dan sanksi sesuai ketentuan syariah.

Penguatan akidah akan selalu diedukasikan kepada umat dari jenjang anak usia dini hingga perguruan tinggi. Tak luput para ibu mulia pendidik generasi bangsa pun akan mendapatkan khazanah Islam dengan sempurna. Tanpa perlu memikirkan ekonomi keluarga, sehingga bisa fokus pada tugas utama nan mulianya. Hal ini mampu membentengi setiap manusia dari hasutan kaum liberal untuk menjauhi akidah dan aturan Islam.

Kurikulum pendidikan senantiasa berasaskan Islam. Menjauhi tsaqofah asing yang membahayakan keimanan. Penerapan syariah Islam diperhatikan betul sebagai bentuk kewajiban. Termasuk berhijab syari bagi wanita.

Ancaman yang merusak dan menyesatkan sudah semakin jelas terlihat pada zaman akhir ini. Institusi negara wajib menjadi ra’in dan junnah bagi seluruh warga negaranya. Sehingga berhijab syari sejak dini tak lagi menjadi kabar angin yang menghantui masa depan anak, melainkan menjadi aktivitas yang dicintai karena ketaatannya terhadap Sang Maha Baik.

Semoga orang tua muslim dijauhkan dari bermaksiat atas pendidikan anak-anaknya. Dengan tegaknya aturan kehidupan yang menjaga kemulian manusia. Termasuk anak-anak penerus generasi tangguh.