S.E.M.P.I.T

S.E.M.P.I.T.

Betapa kita ini mudah sekali lupa mensyukuri nikmat Allah yang tiada terkira. Oleh sebab kita hanya memaknai nikmat Allah sebagai rezeki berupa uang dan harta saja. Betapa sempitnya. Ketika dua hal itu luput dari genggaman, begitu ringan lisan menyemburkan keluh kesah bahkan menjadi durhaka karena mempertanyakan kasih sayang Allah Ta’ala.

Allah telah nyatakan dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 60: “Sesungguhnya Allah benar-benar memiliki karunia yang diberikan kepada manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.” Kalimat serupa Allah ulang pada surat An-Naml ayat 73.

Ulama jelaskan bentuk tidak bersyukurnya manusia itu antara lain: tidak menyadari nikmat Allah dan tidak menyatakan rasa terima kasih pada Allah dengan hati dan lisannya. Menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat pada-Nya. Mengharamkan apa yang Allah halalkan. Mengingkari apa yang Allah karuniakan.

Kita lalai dan lupa mensyukuri nikmat Allah barangkali juga karena terlalu terobsesi dengan keinginan. Kita telah mematok standar nikmat dan kebahagiaan. Itu yang harus terwujud pada diri kita. Allah pun didikte untuk mengabulkannya. Ketika keinginan itu luput, tiba-tiba hidup terasa sempit, gagal, dan sia-sia. Tiba-tiba, merasa menjadi orang paling malang sedunia. Lebih parah lagi: hati dan lisan berani menggugat keadilan Allah Ta’ala.

Maka, beruntunglah kita yang Allah mudahkan untuk menyadari nikmat-nikmat-Nya. Baik yang besar maupun yang tampak sepele dalam pandangan manusia. Sebab, begitu kesadaran seperti itu muncul, dengan izin Allah, kita akan cenderung lebih mudah bersyukur pada-Nya. Ketika bersyukur, maka Allah berjanji akan tambahkan lagi nikmat-Nya pada kita (lih. QS. Ibrahim: 7).

Oleh karena itu, mari perluas cakrawala pandang kita terhadap rezeki Allah Ta’ala, sehingga lebih mudah bagi kita mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.


Bacaan:
Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsir Kalam Al-Manan, Dar Ibnu Hazm, hal. 344, 397, 580
.
.
.
IG: @abun_nada