RUU Minol, Potret Aturan Amburadul

alcohol bar black background close up

RUU Minol, Potret Aturan Amburadul

Oleh : Septa Yunis (Analis Muslimah Voice)

Healthy-sharia.com – Rancangan Undang Undang Minuman Berakohol masuk sudah melewati tahap harmonisasi dan masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas.
Sebelumnya RUU Larangan Minuman Beralkohol ini diusulkan 21 anggota DPR, yaitu 18 orang dari Fraksi PPP, 2 orang dari Fraksi PKS, dan 1 orang dari Fraksi Gerindra. Pembahasan RUU ini diketahui terus mengalami penundaan sejak pertama kali diusulkan pada 2015.
(https://amp.kompas.com/tren/read/2020/11/14/100300765/apa-itu-ruu-larangan-minuman-beralkohol-isi-dan-pasal-yang-disorot)

RUU Larangan Minuman Beralkohol berisi larangan untuk setiap orang mengonsumsi, memproduksi, memasukkan, menyimpan, mengedarkan maupun menjual minuman beralkohol. Dalam RUU ini kemudian juga terdapat sanksi pidana bagi pihak yang melanggar aturan.

Namun, terdapat pengecualian pada larangan ini yaitu untuk kepentingan terbatas. Pengecualian ditetapkan untuk kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi, dan tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan.

Dari pengecualian tersebut, lantas bagaimana dengan tujuan RUU Minol yang melindungi masyarakat dari minol? Dengan adanya pengecualian Akankah tujuan itu dapat terwujud?


RUU Minol seharusnya bisa menyasar semua kalangan. Tidak ada pengecualian. Minol adalah sumber dari segala kejahatan, dari pemerkosaan hingga pembunuhan.

Tampak sekali jika peraturan berlaku tebang pilih. Wajah buruk demokrasi, landasan hukum berdasarkan akal manusia yang sifatnya terbatas. Sistem yang berdiri atas tiang-tiang kebebasan muaranya pastilah asas manfaat. Syariat seringkali hanya dijadikan alat legitimasi sesuai kepentingan politik, bukan landasan kehidupan. Walaupun mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam, namun yang menjadi petimbangan adalah keuntungan. 

Di dalam Islam, jelas larangan tentang minuman beralkohol. Allah SWT berfirman,

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khamar, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah semua itu agar kalian beruntung. (QS. Al-Maidah [5]: 90)

Dalam syariat Islam sanksi yang diberikan pada peminum minol akan memberikan efek jera, sementara produsen dan pengedar khamr /minol dijatuhi sanksi yang lebih keras dari peminumnya, karena keberadaan mereka lebih besar bahayanya bagi masyarakat. 

Syariat Islam hanya akan dapat diterapkan di negara Khilafah, bukan di alam demokrasi seperti saat instalasi. Maka dari itu, menegakkan Khilafah adalah suatu kewajiban seorang muslim, agar aturan Islam secara Kaffah dapat diterapkan diseluruh lini kehidupan tanpa ada pengecualian.[]