Pudarnya Kiasan Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu Di Keluarga Kekinian

woman carrying a baby

Pudarnya Kiasan Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu Di Keluarga Kekinian


oleh Adzkia Firdaus


Pandemi belum berakhir, krisis ekonomi tak kunjung reda, persoalan kemiskinan tak surut dari pemberitaan, polemik belajar daring tak membuahkan solusi jitu, pergaulan bebas yang berujung pada kasus hamil diluar nikah atau aborsi tak kalah pelik terjadi, berbagai persoalan anak negeri tak berakhir sampai disini, masalah demi masalah silih berganti menghampiri. Sudah sepatutnya hal ini menjadi koreksi diri untuk berbenah apa yang salah dari semua ini?


Baru – baru ini telah terjadi peristiwa seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kini sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota.(news.detik.com/9/1/21). Kejadian ini dikarenakan sang ibu yang mulai kehilangan kesabaran lantaran si anak datang ke rumah dengan membabi buta menghamburkan lemari hanya untuk mencari pakaiannya, dan dijawab sang ibu bahwa pakaiannya sudah dibuang, sang anak marah lalu perkelahian tak terelakkan karena tanpa sengaja kuku sang ibu menggores wajah si anak.


Kasus yang sama M (40), warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB) datang ke Mapolres Lombok Tengah hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi. Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah motor.
Dua peristiwa ini menambah deretan persoalan negeri yang menyahat hati betapa tidak, ibu kandung yang telah melahirkannya, membesarkan dengan penuh kasih sayang hingga sang anak tumbuh dewasa, malah mendapatkan balasan yang buruk dari sang anak, hanya karena harta yang tak seberapa anak tak berpikir panjang dosa sebesar apa yang akan mereka dapatkan kelak di akhirat jika berani melawan orangtua terlebih sang ibunda tercinta.


Padahal dalam Islam jelas bahwa Allah dan Rasulnya menjadikan orangtua sebagai orang pertama yang harus dihormati oleh anak mereka. Firman Allah Dalam hadits banyak dijelaskan keutamaan untuk berbakti kepada orangtua.
Allah Ta’ala berfirman:


وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا


“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24).


Bayangkan mengatakan “Ah” saja yang sepele seperti itu kita di larang oleh Allah SWT, apalagi membentak mereka, lalu bagaimana dengan sikap yang membuat mereka menderita dengan memenjarakan mereka? Dosa seperti apa yang akan kita dapatkan ketika kita melakukannya? ini jelas dosa besar yang tak terampuni hingga orangtua mereka memaafkan.


Dalam hadist Rasulullah juga menyampaikan hal yang senada,
Dari Abu Hurairah ra., beliau berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi Saw, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam hadist ini betapa kedudukan ibu sangat dimuliakan oleh Rasulullah hingga disebutkan sebanyak 3 kali baru kemudian ayah, apakah hal ini tidak jadi peringatan bagi anak agar bersikap hati-hati dalam perkataan dan perbuatan kepada orangtua mereka, apakah mereka lupa bahwa dunia dan seisinya saja tak sanggup untuk membalas kebaikan mereka, bagaimana sang ibu harus tertatih-tatih mengandungnya, bahkan meregang nyawa ketika melahirkan si anak, dan perjuangan tak berakhir sampai disitu, setiap waktu yang ibu memiliki seolah-olah tak ada celah untuk mereka istirahat ketika mengasuh anak hingga mereka dewasa dan bisa mandiri. Hal ini tertulis dalam Alquran di Surat Luqman ayat ke 14.


“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kamu kembali.”


Namun semua perjuangan itu seolah tak berarti bagi anak ketika mereka terlena dengan harta dan dunia. Inilah buah kehidupan sekuler, mendidik anak tumbuh menjadi manusia dengan minim agama, dan terecoki dengan materi semata, inilah hasil dari paham liberalisme yang dilahirkan dari sistem demokrasi yang mengagungkan kebebasan, ya kebebasan berperilaku yang dilindungi undang-undang, siapa saja bisa memenjarakan siapapun termasuk orangtuanya ketika ada bukti yang diperlihatkan, tanpa memperhatikan lagi apakah layak dipidanakan ataukah tidak. Ide kebebasan melahirkan generasi yang bebas memiliki pendapat dan sikap apapun meski bertentangan dengan agama dan ketaatan. Nilai liberal gagal menghadirkan penghormatan terhadap ibu, gagal menghasilkan ketenangan dan menghasilkan generasi durhaka. Surga dan neraka tak lagi jadi prioritas dalam hidupnya, yang ada hanyalah harta semata. Dosa dan pahala tak lagi jadi pertimbangan dalam berbuat hingga memenjarakan ibu kandung karena alasan sepelepun tak mengapa.


Jauh berbeda dengan sistem Islam yang sangat mengkondisikan ketaatan terhadap kedua orangtua. Kurikulum aqidah Islam ditanamkan sedini mungkin hingga berbekas dalam jiwa bahwa takaran kehidupan adalah surga dan neraka, bahwa orientasi hidup adalah akhirat semata, bahwa standar perbuatan adalah halal dan haram dengan konsekuensi dosa dan pahala, hingga manusia tak akan seenak dengkul dalam berbuat, hingga materi tak dilirik dalam hal perkara dunia. Walhasil tumbuhlah anak-anak generasi ummat yang peduli dengan sesama lebih-lebih takzim kepada ibu dan bapak, jangankan untuk memenjarakan, berkata kasar saja mereka tak ada nyalinya, jangan kepada orangtua yang muslim bahkan sekalipun orangtua musyrik atau kafir tak ada alasan untuk durhaka.


Pandangan Islam tentang rasa hormat yang besar pantas diberikan terhadap peran keibuan dan posisi pentingnya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat dijaga di bawah kekuasaan Islam, hal ini membentuk pola pikir warga negara terhadap peran vital perempuan ini. Status ibu yang tak tertandingi ini dinikmati di bawah Islam terus sepanjang sejarah Khilafah. Dalam Khilafah Utsmani misalnya, peran strategis ibu meningkatkan posisi perempuan dalam masyarakat dan para ibu dihormati dan diperlakukan dengan sangat hati-hati oleh anak-anak mereka. Sebagai balasannya, para ibu menghujani anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang yang sangat besar.


Abdullah Ibn Abbas ra., seorang sahabat Nabi SAW dan ilmuwan Islam yang hebat, pernah berkata, “Aku tahu tidak ada perbuatan lain yang membawa orang lebih dekat kepada Allah daripada perlakuan baik dan hormat terhadap ibu seseorang.”