Potensi Pangan Fungsional Mencegah Penyakit

IDI: Eucalyptus Herbal, Belum Diuji Untuk Obat Covid-19 | merdeka.com
gambar dari liputan 6.com

Potensi Pangan Fungsional Mencegah Penyakit

(Studi Kasus Kanker Payudara, Telaah Kritis Kasus Kalung Anti-corona)

Oleh : Nindira Aryudhani, S. Pi, M. Si
(Koordinator LENTERA)

Wabah Covid-19 memaksa masyarakat untuk harus sedikit lebih cerdas di tengah keawaman mereka terhadap hal-hal ilmiah. Ini karena banyak sekali terjadi bias informasi sebagai dampak era post truth. Di mana kebenaran sejati tak lagi dianggap penting. Karena toh masyarakat telah diposisikan selaku pihak yang haus informasi positif. Artinya, sang pencipta berita haruslah berperan sebagai pihak yang senantiasa nampak positif. Kendati itu semua hanya pencitraan yang pada episode berikutnya juga terlalu jauh didramatisasi oleh para buzzer.

Akhirnya, mau tidak mau masyarakat harus menjaga iklim kecerdasan dan kewarasan di tengah atmosfir informasi yang acapkali cenderung menyesatkan. Jika memang ada hal yang harus disikapi secara politis, maka sikapilah secara politis. Demikian halnya ketika ada hal yang harus disikapi secara ilmiah, maka jangan berhenti untuk belajar pada ahli/pakarnya. Ini tentu saja agar keawaman kita tidak makin menyesatkan, padahal semuanya akibat kesalahan menempatkan posisi dan menentukan sikap.

Pada kasus kalung anti-corona, memposisikan status antivirus eucalyptus untuk mengobati corona terkhusus Covid-19, justru tak ubahnya sebuah overclaim tanpa landasan ilmiah yang detil dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian, jika disandingkan dengan kehormatan indeks jurnal internasional Scopus, bagaimana tidak menampar Scopus itu sendiri?

Padahal antara overclaim tersebut dengan Scopus, keduanya sama-sama hasil output pendidikan sekuler. Tapi ternyata saling menghancurkan satu sama lain. Ini telak menunjukkan bahwa sistem pendidikan maupun indeks Scopus benar-benar hanya komoditas ekonomi berikut tambang uang bagi kapitalisme. Dan ini juga sekaligus menunjukkan bahwa sistem pendidikan di alam sekuler telah tercabut ruhnya. Terbukti, sistem pendidikan sekuler sama sekali tidak menampilkan hasil keberkahan keilmuan bagi kepentingan masyarakat luas.

Meski memang inilah letak absennya pemerintah mengedukasi masyarakat perihal wabah yang tengah terjadi. Bias informasi bahkan miskoordinasi begitu jumpalitan tersaji setiap saat. Alih-alih teredukasi, masyarakat malah makin frustrasi. Di satu sisi ekonomi memburuk, tapi di sisi lain nyawa jadi taruhan jika nekat keluar rumah demi memenuhi kebutuhan dapur.

Karenanya, berikut ini adalah karya kecil selanjutnya dari penulis saat menempuh tugas akhir studi magister. Memang riset ini bukan tentang Covid-19, tentu saja. Riset ini tentang kanker payudara, dengan judul “Mekanisme Aktivitas Antitumor Bubuk Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr.) pada Mencit C3H yang Ditransplantasi Sel Tumor Payudara”.

Tapi setidaknya, dari beberapa prinsip imunologis yang tersaji, semoga dapat mencerahkan kekalutan yang un-ilmiah, terlebih di tengah minimnya edukasi dan informasi dari pemerintah.

Era Covid-19 harus diakui sebagai era over-express-change. Alias perubahan yang berlebih dan serba cepat. Karena memang banyak sekali terjadi hal-hal yang tak terduga sebagai pandemi. Bukan lagi revolusi, tapi super-revolusi. Di mana perubahan yang ada, sangat cepat terjadi. Masa PSBB yang selanjutnya saat ini beralih nama menjadi AKB (adaptasi kebiasaan baru), mendorong masyarakat bermigrasi dari satu pola ke pola hidup yang lain sebagai bukti adaptasi terhadap lingkungan. Termasuk yang menjadi dampaknya, yakni perubahan gaya hidup masyarakat, antara lain perubahan pola konsumsi.

Dalam hal ini, bahan pangan ternyata dapat berperan selayaknya gaya hidup, yakni sebagai substansi karsinogenik (Deshpande et al. 1996, Muchtadi 1996). Hal ini sebagaimana WCRF (The World Cancer Research Fund) dan AICR (The American Institute of Cancer Research) (1997) bahwa kejadian sebagian besar berbagai jenis kanker pada manusia ditentukan oleh faktor-faktor eksternal.

Kanker merupakan penyakit kompleks yang terjadi pada jaringan dan organ ketika kerusakan genetik pada sel menyebabkan mutasi pada onkogen atau gen supresor tumor yang selanjutnya menghasilkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan metastasis. Data WHO (world health organization) menunjukkan bahwa penyakit kanker menyebabkan kematian sekitar 7,9 juta jiwa per tahun di seluruh dunia. Berdasarkan data tersebut, lebih dari 72% terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah.

Pada wanita, kanker payudara merupakan salah satu jenis penyakit kanker dengan penderita terbanyak di seluruh dunia (WHO 2009a). Jenis kanker yang paling banyak diderita oleh wanita adalah kanker payudara, serviks dan kolon. Pada tingkat kematian, jenis kanker yang paling mematikan adalah kanker payudara, paru-paru, kolon dan lambung. Berdasarkan pendataan pada tiap 100.000 wanita, kanker payudara merupakan jenis kanker yang jumlah kejadiannya lebih tinggi di negara-negara dengan pendapatan tinggi dibandingkan negara-negara dengan pendapatan menengah dan rendah (WHO 2009b).

Induksi kanker oleh zat kimia merupakan proses yang kompleks dan bertahap sebagai interaksi antara faktor lingkungan dan faktor endogenus (Levi 2000). Namun satu yang pasti, bahwa dari semua ini dapat menunjukkan bahwa sejatinya kanker merupakan penyakit yang dapat dicegah (Zakaria 2001).

Selanjutnya, menjadi semakin jelas bahwa terdapat hubungan yang erat antara makanan yang kita makan dengan kesehatan kita. Pengetahuan ilmiah mengenai peran nutrisi makanan terhadap pencegahan dan perawatan penyakit tertentu, semakin berkembang. Perkembangan ini menghasilkan sejumlah produk bernutrisi yang potensial memberikan keuntungan sebagai obat dan bagi kesehatan, sehingga disebut bahan pangan fungsional (Golberg 1994).

Pangan fungsional merupakan sebutan bagi pangan yang dapat mencegah dan mengobati penyakit (Golberg 1994). Konsumsi bahan pangan fungsional semakin berkembang pesat saat ini (Mazza dan Oomah 1998). Upaya pencegahan berbagai jenis penyakit termasuk penyakit kanker secara dini melalui pangan yang sehat membuat terjadinya peningkatan konsumsi komponen bioaktif sebagai pangan fungsional (Elliot dan Ong 2002). Bahan pangan berbasis tumbuhan mengandung komponen yang penting untuk mencegah kanker. Peningkatan konsumsi bahan pangan tumbuhan berupa sayuran dan buah segar telah terbukti dapat menurunkan resiko kanker (Balentine dan Robinson 1998).

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tumbuh-tumbuhan telah menjadi sumber yang sangat diperlukan sebagai produk alami untuk obat-obatan (Kintzios dan Barberaki 2004). Beberapa jenis tumbuhan yang memiliki aktivitas antitumor atau antikanker antara lain teh (Camellia sinensis) (Balentine dan Robinson 1998), kunyit (Curcuma domestica), buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) (Winarti dan Nurdjanah 2005), daun oregano (Origanum vulgare), rumput laut coklat (Sargassum bacciferum) (Kintzios dan Barberaki 2004), lengkuas lokal (Alpiniagalanga (L) Sw) (Rusmarilin 2008) dan cincau hijau (Cyclea barbata L.Miers, Premna oblongifolia Merr. (Chalid 2003, Pranoto 2003).

Saat ini, penggunaan cincau hijau semakin meluas dan tidak asing lagi bagi semua lapisan masyarakat. Cincau hijau banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional, bahkan supermarket. Cincau hijau juga dapat dijumpai di warung-warung pinggir jalan, kaki lima, gerobak dorong, pasar tradisional, pasar swalayan, restoran hingga hotel berbintang.

Cincau hijau P. oblongifolia Merr. merupakan salah satu tanaman yang dapat dikategorikan bahan pangan fungsional berbasis bahan pangan lokal. Hal ini karena terdapat khasiat daun cincau hijau P. oblongifolia Merr. yang telah diteliti pada mencit antara lain meningkatkan jumlah limfosit (Pandoyo 2000), menurunkan jumlah radikal bebas (Handayani 2000), tidak bersifat toksik bagi tubuh (Arisudana 2003), dan bersifat antikanker (Chalid 2003, Pranoto 2003). Cincau hijau P. oblongifolia Merr. juga mengandung β-carotene yang dapat berfungsi sebagai prekursor vitamin A dan antioksidan (Jacobus 2003).

Chalid (2003) menguji aktivitas antikanker ekstrak cincau hijau P. oblongifolia Merr. terhadap mencit C3H. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penambahan volume tumor mencit yang diberi pakan ekstrak daun cincau hijau P. oblongifolia Merr. relatif lebih rendah dibandingkan dengan pembanding yang tidak diberi pakan ekstrak daun cincau hijau P. oblongifolia Merr.. Hal ini dapat didukung oleh pernyataan Ananta (2000) bahwa ekstrak cincau hijau C. barbata L. Miers berpotensi menghambat proliferasi sel kanker K-562 dan Hela secara in vitro. Oleh karena itu, aktivitas antikanker atau antitumor dari cincau hijau dapat diteliti lebih lanjut hingga ke tingkat molekuler.

Sifat antikanker cincau hijau P. oblongifolia Merr. diduga (Pandoyo 2000) karena mengandung alkaloid. Kintzios dan Barberaki (2004) menyatakan bahwa alkaloid merupakan salah satu produk alami turunan tanaman yang memiliki sifat antikanker atau antitumor. Sebagian besar alkaloid bersifat sitotoksik dalam menghambat pertumbuhan beberapa jenis kanker dan leukemia.

CD31 merupakan salah satu jenis CD (cluster differentiation), yang berperan sebagai molekul adhesi sel serta mediator interaksi, baik antara leukosit dan endotelial maupun endotelial dan endotelial (Baratawidjaja 2006). CD31 diekspresikan secara luas pada sel endotelial dan sel hematopoietik (Pascual et al. 2001). Jika CD31 terdapat pada jaringan tumor, maka hal ini merupakan penanda terjadinya pembentukan pembuluh darah baru pada jaringan tersebut (Cruse dan Lewis 2004).

Memang, tidak semua sel termutasi dapat secara otomatis menjadi kanker, karena harus melalui tahapan yang sulit untuk hidup dan berkembang sebagai kanker. Sel yang termutasi dapat secara alami melakukan program bunuh diri (apoptosis). Proses apoptosis dapat optimal jika ditunjang oleh konsumsi bahan pangan yang mengandung komponen bioaktif (Zakaria 2001).

Salah satu jenis senyawa bioaktif pemicu apoptosis adalah staurosporin, yang merupakan salah satu jenis alkaloid alami. Induksi terhadap apoptosis juga dapat terjadi melalui aktivasi kaspase, yang merupakan kelompok protease sitokin intraseluler yang menjadi komponen utama pada respon terhadap apoptosis. Dalam hal ini, kaspase-3 adalah salah satu jenis caspase efektor yang berperan dalam aktivasi proteolitik selama apoptosis (Foitzik et al. 2009).

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui hasil analisis kimia bubuk daun cincau hijau P. oblongifolia Merr. terhadap pertumbuhan sel tumor secara in vivo; (2) mengetahui molekul protein yang berperan dalam vaskularisasi jaringan tumor, yaitu CD31, serta enzim yang berperan dalam apotosis sel tumor, yaitu enzim kaspase-3.

Rangkaian kegiatan penelitian meliputi preparasi sampel daun, uji fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan penangkapan radikal bebas DPPH terhadap daun segar dan bubuk, pengujian aktivitas antitumor dari bubuk daun secara in vivo pada mencit C3H, serta pewarnaan histopatologi yang terdiri atas pewarnaan HE dan IHK dari jaringan tumor payudara mencit C3H.

Uji fitokimia pada daun cincau hijau P. oblongifolia Merr. segar, menunjukkan sembilan hasil uji yang positif, yaitu alkaloid, saponin, fenol hidrokuinon, molisch, benedict, biuret, ninhidrin, flavonoid dan tanin. Uji fitokimia pada bubuk daun menunjukkan enam hasil uji yang positif, yaitu alkaloid, saponin, fenol hidrokuinon, molisch, benedict dan tanin.

Proses ekstraksi dengan metanol pro analysis pada daun cincau hijau P. oblongifolia Merr. segar, menghasilkan rendemen ekstrak metanol sebanyak 61,48%. Proses ekstraksi dengan metanol pro analysis pada bubuk daun cincau hijau P. oblongifolia Merr., menghasilkan rendemen ekstrak metanol sebanyak 97,44%. Ekstrak ini akan digunakan pada uji aktivitas antioksidan.

Pada uji aktivitas antioksidan berdasarkan penangkapan radikal bebas DPPH terhadap daun cincau hijau P. oblongifolia Merr. segar, menunjukkan bahwa ekstrak metanolnya memiliki nilai inhibisi 18,96% pada konsentrasi larutan sampel 250 ppm. Pada uji terhadap bubuk daun, ekstrak metanolnya memiliki nilai inhibisi 90,52% pada konsentrasi larutan sampel 200 ppm. Nilai IC50 bubuk daun adalah 16,90 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak metanol bubuk daun lebih efektif dalam menangkap radikal bebas DPPH dibandingkan ekstrak metanol daun cincau hijau segar.

Aktivitas antioksidan yang dimiliki oleh daun segar dan bubuk daun ditunjang oleh hasil uji fitokimia. Senyawa-senyawa fitokimia seperti alkaloid, saponin, fenol hidrokuinon serta tanin tergolong senyawa antioksidan, sehingga senyawa-senyawa tersebut mampu menangkap radikal bebas DPPH. Aktivitas antioksidan berkorelasi positif dengan aktivitas antikanker.

Pada pengujian aktivitas bubuk daun cincau secara in vivo, dapat disimpulkan bahwa secara umum pertumbuhan mencit mengalami penurunan dan kenaikan berat badan.

Kelompok mencit yang mengkonsumsi pakan mengandung bubuk daun cincau hijau dosis 0,88% (C) dan 1,76% (D) memiliki berat badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mencit kontrol. Mencit dengan dosis bubuk daun cincau hijau 2,64% (E) memiliki berat badan yang lebih rendah dari mencit kontrol (pakan mengandung bubuk daun cincau hijau dosis 0%).

Pada masa setelah transplantasi tumor, berat badan mencit secara umum mengalami kenaikan karena terdapat pertumbuhan jaringan tumor. Rata-rata delta berat badan mencit kelompok E dan A berbeda nyata (p<0,05) dengan mencit kelompok B. Dalam hal ini, mencit kelompok B memiliki rata-rata jumlah konsumsi pakan yang menurun dibandingkan mencit kelompok lain (A, C, D dan E) yang mengalami kenaikan.

Hal ini diduga karena pakan dengan dosis bubuk daun cincau hijau 0% dan perlakuan transplantasi tumor menjadi faktor yang meningkatkan stres pada mencit kelompok B sehingga mengalami penurunan rata-rata jumlah konsumsi pakan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata dari transplantasi tumor terhadap jumlah konsumsi pakan dan pertumbuhan mencit.

Pada analisis morfologi jaringan tumor, mencit kelompok E (pakan dengan dosis bubuk daun cincau hijau sebanyak 2,64%) memiliki profil jaringan tumor yang terdiferensiasi. Hal ini ditunjukkan oleh skor HE yang relatif paling rendah dibandingkan skor HE jaringan tumor pada kelompok kontrol positif (pakan dengan dosis bubuk daun cincau hijau sebanyak 0%) dan semua kelompok perlakuan (pakan dengan dosis bubuk daun cincau hijau sebanyak 0,88% dan 1,76%). Skor tersebut adalah 3,00+0,00 pada mencit dengan rata-rata berat dan volume terkecil dan 4,00+0,00 pada mencit dengan rata-rata berat dan volume terbesar.

Diferensiasi menggambarkan kemiripan jaringan tumor dengan jaringan asal secara morfologis. Skor yang rendah menunjukkan bahwa jaringan tumor relatif memiliki kemiripan dengan jaringan asal yang masih normal. Sebaliknya, skor yang tinggi menunjukkan bahwa jaringan tumor relatif tidak memiliki kemiripan dengan jaringan asal.

Skor HE ditunjang oleh skor IHK CD31 yang relatif setara dengan skor IHK kaspase-3. Skor IHK CD31 pada mencit kelompok E (pakan dengan dosis bubuk daun cincau hijau sebanyak 2,64%) adalah 3,83+0,98 untuk jaringan dengan warna coklat DAB yang tidak terlokalisasi. Skor tersebut diperoleh pada mencit dengan rata-rata berat dan volume tumor terkecil. Pada mencit dengan rata-rata berat dan volume tumor terbesar, skornya adalah 4,17+0,75.

Skor IHK kaspase-3 pada mencit kelompok E adalah 0,44+0,73 untuk jaringan dengan warna coklat DAB yang tidak terlokalisasi pada mencit dengan rata-rata berat dan volume tumor terkecil dan 0,38+0,74 pada mencit dengan rata-rata berat dan volume tumor terbesar. Skor untuk jaringan dengan warna coklat DAB yang terlokalisasi adalah 3,33+1,58 pada mencit dengan rata-rata berat dan volume tumor terkecil dan 3,38+0,92 pada mencit rata-rata berat dan volume tumor terbesar. Dengan demikian, mencit kelompok E memiliki daya apoptosis terbaik dalam mengimbangi daya vaskularisasi jaringan tumor pada semua kelompok perlakuan.

Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa dosis bubuk daun cincau hijau 1,76% berpotensi lebih baik dalam
meningkatkan jumlah kaspase-3 untuk mengaktivasi terjadinya apoptosis
dibandingkan dosis 0,88% dan 2,64%. Hal ini berkorelasi dengan rata-rata berat
dan volume tumor mencit kelompok D yang nilainya terkecil dibandingkan
mencit kelompok B, C dan E. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa apoptosis
berperan mengurangi rata-rata berat dan volume tumor menjadi lebih kecil.

File dapat diunduh di link berikut ini :
https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/51752