Pakaian, Peradaban, dan Parodi Intoleransi

woman in black hijab headscarf walking on field

Pakaian, Peradaban, dan Parodi Intoleransi

Oleh Dyan Ulandari

Healthy-sharia.com – Persoalan wajib berjilbab (berkerudung, red) bagi siswi di SMKN 2 Padang, Sumatera Barat agaknya beralur panjang. Dari mula awalnya hingga kini berita tersebut disajikan dengan tuduhan menyudutkan umat muslim.

Sudah terhitung 15 tahun kebijakan aturan yang mewajibkan untuk mengenakan jilbab menutup aurat bagi para siswi muslimah di sekolah negeri Padang-Sumatera Barat. Dengan aturan itu para siswi muslimah di sekolah negeri wajib menutup auratnya. Sedangkan siswi non-muslim pun dibebaskan pilihannya, namun nyatanya mereka dengan suka rela tanpa keberatan apalagi terpaksa juga melakukan hal yang sama mengenakan kerudung. Hanya satu saja dari sekian puluh siswi di sekolah itu yang memprotes bahkan setelah anaknya sekolah di tempat tersebut. (detik.com, 23/1/2021)

Namun anehnya, mengapa baru sekarang hal ini diributkan? Diawali dengan viralnya video debat antara salah satu pihak siswi/wali murid dengan sekolah. Yang mana pihak siswi tersebut menyatakan keberatan dengan aturan pemakaian jilbab di sekolahnya, yakni di SMKN 2 Padang.

Isu lingkup sekolah itu bak nyala api yang dikobarkan. Di tingkat nasional Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim hingga Menkopolhukam Mahfud MD pun angkat bicara. Bahkan sebelum melakukan komunikasi dengan pihak sekolah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meminta agar kepala sekolah beserta jajarannya diberikan sanksi tegas seperti pemecatan. (jawapos.com, 29/1/2021)

Telebih lagi dibandingkan dengan sikapnya terhadap puluhan sekolah di Bali yang terang-terang menyatakan larangan siswi muslimah mengenakan kerudung. Pilih tetap sekolah dengan menanggalkan kerudung, atau pindah sekolah! Wow, sadis bukan? Bukankah tidak ada masalah jika wanita menutupi bagian tubuh (aurat)nya? Bukankah lebih baik dan beradab jika wanita menjaga diri dan lingkungannya dari kerusakan akibat diumbarnya pembangkit syahwat itu?

Mungkin logika sederhana seperti itu dilupakan oleh sebagian pejabat di negeri ini, dikalahkan dengan pesanan isu intoleransi yang tersumbat karena para muslimah nyata-nyata kini semakin hari semakin banyak yang menyadari akan jati diri sebagai muslimah.

Pakaian dan Tingginya Peradaban

Bicara soal pakaian dan aturannya, ia menggambarkan seberapa tingginya petadaban dan penghormatannya terhadap sebuah masyarakat. Bahkan darinya dapat dilihat peradaban apa yang kala itu mendominasi.

Peradaban yang rendah tentu menempatkan manusia di posisi rendah. Peradaban yang agung tentu sebaliknya, ia menempatkan manusia pada kedudukan tinggi yang patut dijaga kehormatan dan kesuciannya. Tidak merelakan semua bagian tubuhnya berhak dinikmati tatapan liar akibat pakaian ketat atau terbuka yang diumbar di khalayak umum.

Bahkan ada pepatah Jawa yang mengatakan ” ajining dhiri soko lathi, ajining rogo soko busono” (artinya, ucapan dan pakaian yang dikenakan menggambarkan rendah atau tingginya martabat seseorang). Dari pepatah itu dapat diartikan bahwa menjaga lisan dan pakaian menjadi barometer ketinggian peradaban seseorang.

Yang menarik, tidak semua agama memiliki aturan berpakaian secara komprehensif kecuali Islam. Dalam agama Islam terdapat aturan/standar pakaian yang dikenakan oleh pria maupun wanita. Misalnya di tempat yang bisa diakses oleh umum/kehidupan umum wanita wajib menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan, sedangkan bagi lelaki batas wajibnya antara pusar dan lutut. Begitu juga di kehidupan khusus dengan mahram atau maupun kehidupan suami istri, ada aturan dan kebebasan tersendiri terkait pakaian.

Islam memandang bahwa seluruh wanita tak hanya muslimah memiliki hak dijaga dan dihormati. Laksana intan apik yang tersimpan, tak layak ia merendahkan diri atau bahkan menjadi sumber masalah dan kebejatan di tengah masyarakat.

Maha Benar Allah yang telah menurunkan agama Islam ini rahmatan lil’alamin. Begitu juga Allah menjaga wanita dan lelaki. Di kehidupan umum, seluruh wanita baik muslim maupun non muslim wajib menutup seluruh auratnya. Allah berfirman kepada orang-orang mukmin:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ…

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”… (QS. Al Ahzab: 59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا…

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali …” (QS. An Nur: 31)

Dari itu maka pakaian wanita dalam kehidupan umum adalah pakaian luar yang dikenakan di luar pakaiannya sehari-hari di dalam rumah ketika bersama mahramnya. Ketika ia keluar rumah baik sebentar maupun lama, Allah telah mewajibkan wanita agar berjilbab. Bahkan apabila wanita itu tidak memiliki jilbab, dianjurkan untuk meminjam. Bagi wanita non muslim ketika keluar rumah atau menghadap khalayak umum maka standarnya tetap sama dengan yang dikenakan muslimah, yakni menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan. Sebagai identitas, mereka diperbolehkan memakai tanda khas agama/keyakinan mereka pada pakaian maupun berupa hal lain semisal gelang, atau lainnya. (Syeikh Taqiyuddin An Nabhan dalam kitabnya Al Nidhomul Al Ijtima’i fil Al Islam)

Lagi, Parodi Intoleransi

Begitu jelasnya di mata publik persoalan jilbab ini adalah bagian dari rangkaian parodi intoleransi. Bagaimana tidak, isu lingkup sekolah itu bak nyala korek api yang kian disulut, membesar dan membakar. Yang terlihat diantaranya adalah yang dilakukan Mendikbud Nadiem Makarim.

Dilanjutkan gerak cepatnya menuduh ini adalah keberadaan intoleransi yang genting dan harus segera ditindaklanjuti. Terdengar janggal bergegas untuk hal ini jika dibanding setumpuk pekerjaannya memberi solusi urusan pendidikan daring yang carut marut di tengah ancaman wabah bahkan hingga sekian kali mengorbankan nyawa.

Contoh lain ketika masjid diserang bahkan dibakar. Pelaku kejahatan tak pernah disebut pelaku intoleran, teroris, atau lainnya bahkan tak seviral ini di media sosial.

Ya, lagi-lagi ini ulah pengidap islamophobia yang tak rela peraturan berbau syari’ah diterapkan jadi pedoman. Pertama, dengan sematan intoleran diharapkan masyarakat banyak yang antipati terhadap agamanya sendiri, bahkan mengidap penyakit aneh yakni Islamophobia (ketakutan berlebihan yang tak beralasan/alergi terhadap ajaran Islam) yang berujung menolak ajaran Islam.

Kedua, membuat umat Islam bersikap lemah dan rendah diri akibatnya menuruti setiap aturan main sesuai arahan penjajah. Jika sudah begitu yang ada tinggal kerusakan demi kerusakan, terutama degradasi moral.

Padahal syari’ah dari Allah pasti sesuatu yang baik tak hanya untuk muslim namun juga non muslim. Bahkan tak hanya manusia, hewan dan alam pun turut merasakan rahmat-Nya.

Pakaian menutup aurat ketika di wilayah yang bisa dilihat oleh khalayak umum, sudah pasti turut menjaga wanita dari berbagai ancaman yang merendahkan martabatnya. Terlebih di dalam sistem Islam, juga terdapat aturan pergaulan, bermedia, dan sebagainya yang turut menjaga harkat martabat perempuan.

Itulah aturan dari Allah Yang Maha Sempurna. Mengapa terus berparodi dengan berbagai alibi mencegah ketertarikan manusia terhadap keagungan dan indahnya syari’ah Islam? Harusnya kita berterimakasih dan bersegera melaksanakan aturan darinya secara kaffah.

Allahua’lam bisshowab