Pahlawanku, Pahlawanmu, Pahlawan Bangsa Indonesia

bicycle crankset

Pahlawanku, Pahlawanmu, Pahlawan Bangsa Indonesia

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Healthy-sharia.com – Pahlawan. Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran tentara dan milisi pro-kemerdekaan Indonesia dan tentara Britania Raya dan India Britania. Puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Sumpah Pejuang Surabaya sebagai berikut.

Tetap Merdeka!

Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggungjawab bersama, bersatu, ikhlas berkorban dengan tekad: Merdeka atau Mati! Sekali Merdeka tetap Merdeka!

— Surabaya, 9 November 1945, jam 18:46

Selain Bung Tomo terdapat pula tokoh-tokoh berpengaruh lain dalam menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu, beberapa datang dari latar belakang agama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai/ulama) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung alot, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran ini mencapai waktu sekitar tiga minggu.

Sekitar 6000 rakyat Indonesia pun gugur dalam pertempuran di Surabaya itu. Pertempuran tersebut terjadi selama tiga minggu. Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959. Keputusan itu ditetapkan oleh Presiden Soerkarno.

Sebagai generasi yang hidup puluhan tahun pasca proklamasi Indonesia, tidak pantas jika kita tidak paham sejarah. Karena dengan sejarah itulah kita ada. Karena sejarah-lah kita bisa mengecap kehidupan yang jauh lebih baik.

Hari Pahlawan seharusnya tidak sekedar diperingati, namun lebih dari itu. Hari Pahlawan menjadi momen untuk instropeksi atau muhasabah nasional. Para pahlawan telah mengorbankan segala yang mereka punya, lantas, apa yang sudah kita korbankan?

Bahkan saat ini, asing merajalela disetiap sudut negeri ini, tanpa takut diusir. Mereka dielu-elukan bak pahlawan. Padahal mereka adalah penjajah sejati yang dulu diusir oleh para pendahulu negeri ini. Cuma karena ganti baju saja, mata pemimpin negeri ini sudah silau.

Endah Sulistiowati:
Pemimpin dan rakyat negeri ini harusnya segera sadar. Tidak ada makan siang gratis, asing mendekati Indonesia karena butuh materi. Mereka bukan sahabat apalagi saudara. Ingatlah perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan negeri ini. Selamat Hari Pahlawan, Pahlawanku.