Menulis pun Tergantung Niat

Menulis pun Tergantung Niat

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Di dalam Kitab Ad Dardir, asy-Syarhul Kabir jilid pertama ditulis bahwa jumhur fuqaha, -kecuali mahdzab Hanafi-, menyatakan hukum niat adalah wajib apabila menjadi sarat sah sebuah perbuatan. Misalnya: wudhu, mandi wajib, tayamum, sholat, puasa, haji, zakat dan lainnya.

Hukum niat menjadi sunah apabila sah tidaknya perbuatan yang akan dilakukan bukan bergantung dari niat.

Dalil yang menyatakan bahwa niat hukumnya wajib antara lain terdapat dalam Al Quran Surat al Bayyinah ayat 5

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (al-Baiyinah: 5).

Dalil lainnya adalah sebuah hadits yang disepakati keshahihannya oleh Imam al – Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Imam Ahmad. Hadits ini bersumber dari Umar bin Khattab r.a.

Umar berkata pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya (sahnya) amal-amal perbuatan adalah hanya bergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya adalah karena Allah SWT dan Rasulu-Nya, maka hijrahnya dicatat Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia atau (menikahi) wanita, maka hijrahnya adalah (dicatat) sesuai dengan tujuan hijrahnya tersebut.”

Sehingga dari dalil diatas dapat disimpulkan bahwa sarat ditrimanya sebuah amal itu ada dua, yaitu:

1) Niat benar karena Allah semata dalam melakukan aktivitas.

2) Cara yang dilakukan dalam beraktivitas (beramal) pun benar sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah, sebagaimana yang termaktub dalam sumber-sumber hukum Islam.

Sarat diterimanya amal juga berlaku dalam hal menulis. Apakah yang menggerakkan tangan kita menyusun kata? Apakah karena materi, pujian manusia, ataukah murni karena Allah untuk menebar kebaikan?

Jika niat dan cara yang kita lakukan sudah benar. Maka, biidznillah semua akan mengiringi (materi, popularitas, ataupun reward yang lain). Namun jika sebaliknya, maka kita akan menghadap Allah dengan membawa beban berat, sudahlah pahala tidak di dapat amal pun sia-sia. Na’udzubillah.

Mari para penulis, senjata kita bukanlah pedang ataupun softgun versi terbaru. Senjata kita lebih tajam dan lebih baik dari itu semua, yaitu kelihaian dalam menyusun kata. Para penulis ibarat manusia yang mampu melihat apa yang ada dibalik tembok, para penulis adalah manusia yang mampu melihat diatas batas kemampuan manusia. Teruslah menulis. Tidak ada yang mampu mencegah jika Allah telah menetapkan “kun fayakun”, maka perubahan itu ada di depan mata.