Mengenal Kembali Potensi Anggur Laut Sebagai Sumber Antioksidan

Google Search

Mengenal Kembali Potensi Anggur Laut Sebagai Sumber Antioksidan

Oleh : Nindira Aryudhani, S. Pi, M. Si
(Koordinator LENTERA)

Berawal dari booming-nya anggur laut dua bulan belakangan ini, penulis pun kembali mencari dokumen skripsi 13 tahun lalu. Saat itu, penulis menulis skripsi dengan judul “Kandungan Senyawa Fenol Rumput Laut Caulerpa racemosa dan Aktivitas Antioksidannya”. Penelitian yang cukup sulit, menguras tenaga, waktu, pikiran, dan tentunya biaya yang tidak sedikit.

Penelitian tersebut tak hanya sulit secara keberadaan objeknya, tapi juga dari sisi prosedur kerja penelitian yang dilakukan. Namun apa pun itu, penulis hanya berharap agar hasil karya kecil tersebut dapat bermanfaat bagi umat. Dan berikut ini, penulis sedikit sajikan versi ringkas dari skripsi yang dimaksud.

Tak dipungkiri, bahwa masyarakat merupakan pelaku perubahan dalam setiap kurun waktu tertentu. Era serba canggih saat ini merupakan bukti perubahan masyarakat yang menjadi maju karena pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi ini akan menstimulasi perubahan gaya hidup masyarakat, antara lain perubahan pola konsumsi.

Aktivitas-aktivitas yang dilakukan masyarakat untuk mengimbangi perubahan pola konsumsinya antara lain sering menyantap makanan siap saji. Pada umumnya masyarakat tidak menyadari bahaya makanan ini jika dikonsumsi terus-menerus. Kondisi makanan ini maupun jenis makanan pada umumnya banyak mengandung bahan kimia tambahan sintetik, bahkan tak jarang terkontaminasi logam berat, seperti merkuri (Hg), timbal (Pb) dan arsen (As) serta pupuk anorganik dan pestisida (Kumalaningsih 2006).

Kondisi tersebut diperparah oleh udara yang tercemar asap rokok, asap kendaraan bermotor dan asap dari industri. Kontaminan makanan maupun udara yang tercemar dapat memperlemah kondisi tubuh. Hal ini dinyatakan dalam Majalah Dokter Kita (2007) bahwa semua kondisi tersebut akan mengurangi potensi sistem pertahanan tubuh untuk menangkal efek negatif zat berbahaya yang berasal dari luar maupun dari dalam tubuh.

Zat berbahaya yang terbentuk dengan sendirinya di dalam tubuh adalah radikal bebas, yang berpotensi menimbulkan kerusakan dengan sifatnya yang sangat reaktif jika jumlahnya berlebih. Kereaktifan senyawa radikal bebas sangat berbahaya karena sangat mudah bereaksi dengan molekul atau komponen lain dalam tubuh seperti protein, lipid, karbohidrat dan DNA, serta menimbulkan kerusakan pada komponen-komponen tersebut.

Meski sebenarnya, tubuh manusia memiliki sistem pertahanan terhadap radikal bebas, yaitu berupa senyawa antioksidan. Senyawa antioksidan ini akan menanggulangi masalah kelebihan radikal bebas dalam tubuh. Senyawa ini dapat berfungsi optimal jika didukung oleh pola hidup dan pola konsumsi yang benar (Kumalaningsih 2006). Hal ini ditunjang oleh pernyataan dalam Majalah Dokter Kita (2007) bahwa sistem antioksidan dalam tubuh manusia memiliki keterbatasan sehingga tidak selamanya berjalan dengan baik, sementara pembentukan radikal bebas berlangsung terus-menerus.

Astawan (2004) menambahkan bahwa hal ini mengakibatkan masalah penuaan dan kesehatan. Masalah kesehatan akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas menurut Kumalaningsih (2006) antara lain munculnya berbagai macam penyakit degeneratif seperti kanker, aterosklerosis, penyakit jantung koroner (PJK) dan diabetes melitus.

Pernyataan dalam Majalah Dokter Kita (2007) menyebutkan bahwa antioksidan untuk tubuh dapat diperoleh secara endogen maupun eksogen.

Antioksidan endogen dibentuk di dalam tubuh dan disintesis dari bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Antioksidan endogen merupakan antioksidan enzimatik atau berupa enzim, antara lain superoksida dismutase (SOD), katalase (CAT) dan glutation peroksidase (GPx). Hal ini didukung oleh Papas (1999), yang menyertakan albumin sebagai protein yang juga memiliki fungsi antioksidatif.

Antioksidan eksogen menurut pernyataan dalam Majalah Dokter Kita (2007) berasal dari makanan, buah-buahan dan bumbu-bumbu masakan. Antioksidan ini dapat digunakan di dalam tubuh secara langsung. Insitute of Medicine (1998) menyatakan bahwa antioksidan eksogen merupakan antioksidan yang sangat tergantung pada asupan bahan pangan yang mengandung antioksidan zat gizi (vitamin E, A, C dan mineral Selenium) maupun antioksidan nongizi (non-nutrien) seperti senyawa fenol dan turunannya.

Sementara itu, di sisi lain juga mulai berkembang ketertarikan pada dietary antioxidant (antioksidan sebagai bagian menu makanan) di tengah masyarakat. Dietary antioxidant sendiri merupakan suatu substansi dalam makanan yang secara signifikan dapat mengurangi efek negatif dari reactive oxygen species (ROS, senyawa oksigen reaktif), reactive nitrogen species (RNS, senyawa nitrogen reaktif), atau keduanya pada kondisi dan fungsi fisiologis manusia normal.

Antioksidan yang sangat baik dikonsumsi adalah antioksidan alami (Astawan 2004). Hal ini disebabkan antioksidan sintetik dinilai memiliki efek samping (Branian 1975 dan Ito et al. 1983 diacu dalam Bouftira et al. 2007), bahkan bersifat toksik (Fennema 1996). Di Indonesia, pada umumnya pengkajian sumber antioksidan alami masih terbatas pada sayuran dan buah-buahan, terutama yang berwarna pekat, seperti hijau, kuning, oranye, ungu dan merah (Astawan 2004).

Salah satu alternatif sumber antioksidan alami yang berasal dari laut adalah alga laut makroskopik, yang biasa disebut rumput laut (Astawan 2004). Santoso et al. (2004a) menyatakan bahwa sampai saat ini informasi mengenai rumput laut sebagai sumber antioksidan terfokus pada rumput laut dari negara-negara beriklim subtropis dan dingin, sementara rumput laut tropis masih sangat terbatas, termasuk di Indonesia.

Hasil penelitian Jimenez-Escrig et al. (2001) menyebutkan bahwa Fucus vesiculosus L. merupakan spesies rumput laut dari kelas Phaeophyceae (alga coklat) yang menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat baik. Hasil penelitian Yoshie et al. (2002) menyebutkan bahwa Halimeda macroloba mengandung senyawa fenolik berupa epigalokatekin yang lebih banyak dan katekol yang lebih sedikit daripada Halimeda opuntia.

Selanjutnya, Santoso et al. (2004a) menyatakan rumput laut dengan habitat iklim tropis seperti di Indonesia tergolong rumput laut dengan kemampuan pertahanan yang baik terhadap radiasi sinar ultraviolet (UV). Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa rumput laut Indonesia mampu menghasilkan suatu komponen bioaktif sebagai metabolit sekunder yang berupa antioksidan sebagai sistem pertahanan terhadap radiasi sinar UV.

Sinar UV mempunyai panjang gelombang paling pendek dan energi paling besar daripada sinar tampak. Hal ini menjadikan sinar UV lebih aktif dalam mempercepat reaksi oksidasi. Kelompok rumput laut Indonesia yang dinilai mempunyai kandungan antioksidan adalah kelas Chlorophyceae (alga hijau) dan Phaeophyceae (alga coklat).
Caulerpa racemosa adalah salah satu spesies dari kelas Chlorophyceae (Atmadja et al. 1996), serta merupakan rumput laut khas Indonesia (Santoso et al. 2004a).

Rumput laut Caulerpa racemosa, yang juga dikenal sebagai salah satu spesies anggur laut, telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan (sayur) oleh sebagian masyarakat pesisir. Habitat Caulerpa racemosa di daerah tropis seperti Indonesia memungkinkan rumput laut tersebut menghasilkan metabolit sekunder berupa senyawa antioksidan.

Dalam proses penelitian, senyawa antioksidan diekstrak dengan ekstraksi tunggal menggunakan tiga macam pelarut, yaitu metanol (polar), etil asetat (semipolar) dan n-heksana (nonpolar). Untuk hasilnya, ekstrak metanol mempunyai rataan rendemen ekstrak paling banyak (sampel segar: 2,13% (b/b); sampel kering: 40,47% (b/b)).

Pada uji determinasi kandungan total fenol menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dari sampel segar memiliki rataan kandungan total fenol yang paling banyak, yaitu 46,53 mg TAE/g ekstrak.

Selanjutnya, uji aktivitas antioksidan dengan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki rataan aktivitas antoksidan paling tinggi berdasarkan efficient concentration (EC50). EC50 ekstrak etil asetat sampel segar 1394,88 ppm dan sampel kering 152,02 ppm.

Sifat antioksidan dinyatakan berdasarkan EC50 pada konsentrasi larutan dengan batasan maksimum 200 ppm, serta memiliki persentase penghambatan dengan batasan minimum 60%. Dengan demikian sifat ekstrak dari sampel segar maupun kering rumput laut Caulerpa racemosa adalah semipolar.

Ekstrak etil asetat baik dari sampel segar maupun kering merupakan ekstrak terpilih untuk penentuan bilangan peroksida. Emulsi minyak kelapa yang ditambah ekstrak rumput laut Caulerpa racemosa baik dari sampel segar maupun kering serta butylated hydroxytoluene (BHT) dapat menghambat proses peroksidasi dengan lebih baik daripada kontrol.

Uji selanjutnya adalah penentuan bilangan peroksida. Hasilnya, bilangan peroksida emulsi dengan ekstrak sampel segar 20,27 mg O2/100 g sampel, dengan ekstrak sampel kering 37,33 mg O2/100 g sampel, dengan BHT 16,00 mg O2/100 g sampel, dan kontrol 68,27 mg O2/100 g sampel. Jika dipersentasekan, maka ekstrak sampel segar mampu menghambat proses peroksidasi sebesar 70,31%, ekstrak sampel kering 45,32% dan BHT 76,56%.

Bilangan peroksida adalah indeks jumlah lemak atau minyak yang telah mengalami oksidasi. Bilangan peroksida ini sangat penting untuk identifikasi tingkat oksidasi minyak.

Berdasarkan penelitian ini, dapat diketahui bahwa ekstrak rumput laut Caulerpa racemosa (anggur laut) memiliki daya antioksidatif yang dapat disetarakan dengan BHT yang merupakan antioksidan sintetik, sehingga rumput laut Caulerpa racemosa dapat digunakan sebagai alternatif sumber antioksidan alami.

File dapat diunduh di link berikut ini :
https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/48687