Mempertahankan Kesabaran Melanjutkan Daring Buah Hati

minimalistic composition with stationery

Mempertahankan Kesabaran Melanjutkan Daring Buah Hati

Oleh: Ummu Diar, S.Si

Hampir di penghujung semester gasal 2020, mayoritas sekolah masih menerapkan pembelajaran secara daring. Kondisi penularan wabah yang masih dinilai tinggi adalah salah satu penyebabnya.

Daring memang menjadi pilihan di masa pandemi ini. Kendati ada sekian banyak kondisi dan konsekuensi yang menyertai namun ia dipandang sebagai salah satu alternatif terbaik, agar aktivitas pembelajaran tetap terlaksana.

Di antara sekian banyak persoalan daring, yang mencolok adalah perkara kesabaran, baik dari guru, orang tua, maupun dari siswa. Sebab mau tidak mau sejak awal pandemi, sebagian besar tugas pembelajaran dikembalikan lagi ke orang tua. Orang tua memainkan peran pengganti sebagai guru, dan siswa menyesuaikan diri dengan “guru” baru.

Memang peendidikan anak sejatinya menjadi tugas dan amanah utama dari orang tua. Namun tidak semua dari mereka pernah menempuh sekolah di profesi pendidikan. Maka, atas kesadaran keterbatasan dalam hal itu, menitipkan anak ke sekolah adalah salah satu bentuk ikhtiar. Dengan harapan agar anak bisa mendapatkan kesempatan belajar di tangan orang profesional di bidangnya, yakni guru.

Dari sisi guru sendiri, tentu menghadapi beragam keadaan saat menghadapi banyak anak di sekolah. Namun, aktivitas tersebut adalah karir profesional yang mendapatkan imbalan. Yang untuk sampai pada keadaan itu sebelumnya mengharuskan adanya pendidikan khusus.

Sebuah jenjang pendidikan yang sengaja dirancang agar mampu menjelaskan, membimbing, dan mengarahkan siswanya memahami pelajaran. Dan rancangan itupun disiapkan dalam kondisi tatap muka, di luar jaringan. Maka, ketika pembelajaran mendadak harus dilakukan dalam jaringan, sangat mungkin guru pun dihadapkan pada persolalan baru.

Materi belajar yang semula cukup disampaikan secara lisan dengan bantuan peraga tertentu, kini tak sedikit harus dikemas dalam bentuk video. Begitu pula pengumpulan dan penilaiannya. Maka tidak mengherankan jika tugas guru pun jadi berlipat. Fasilitas pendukung pun akhirnya menjadi persoalan yang mendesak untuk diadakan. Sehingga kesabaran pun menuntut untuk dihadirkan.

Hal yang senada juga terjadi di rumah para siswa. Siswa pun merasakan dinamika luar biasa menghadapi kuantitas tugas yang meningkat, sementara kualitas penyampaian berbeda dengan di sekolah.

Sebagian orang tua pun benar-benar harus belajar dan menyiapkan diri menjadi “guru” segala mata pelajaran di rumahnya. Terutama bagi yang masih duduk di bangku SD ke bawah.

Dan mau tidak mau pada akhirnya orang tua pun harus belajar. Belajar menguasai materi, menemukan teknik penjelasan yang tepat, belajar memahami emosi anak, belajar mengoperasikan gadget agar bisa memperoleh video serta mengumpulkan tugasnya.

Kendati menyita waktu lama, pendampingan daring bukanlah satu-satunya tugas orang tua. Apapun yang terjadi orang tua tetap dituntut menunaikan tugas lainnya. Ayah tetap bekerja, agar ekonomi keluarga terus berjalan, dan dana untuk kuota dan fasilitas pendukung daring bisa terpenuhi. Ibu pun tetap harus memastikan rumah terkendali, makanan dan juga kenyamanannya.

Maka meskipun durasi hampir 9 bulan kondisi daring, kesabaran di rumah harus tetap dipertahankan. Terlebih apapun yang terjadi buah hati yang sedang bergelar siswa merupakan harapan masa depan.

Ada tumpuan angan agar mereka tetap bisa bertahan selama pandemi, agar mereka keluar sebagai pemenang, yakni generasi kuat lagi sholih dan bermanfaat. Generasi yang akan meneruskan eksistensi peradaban baru pasca pandemi berlalu.

Untuk itu diperlukan beberapa faktor pendukung dalam rangka mempertahankan kesabaran mendampingi daring buah hati. Di antaranya:


‌1. Kembali dan terus mengingat bahwa keadaan pandemi ini adalah kuasaNya, bagian dari ketetapanNya yang di dalamnya pasti terselip hikmah dan kebaikan. Maka sebagai hamba, yang bisa dilakukan adalah ridho atas keadaan ini dan berusaha bisa bertahan di dalamnya.


‌2. Kembali mengingatkan diri bahwa menjadi perantara tersampaikannya ilmu, yang dikerjakan dengan ikhlas adalah peluang pahala jariyah. Sehingga pada pendampingan daring terdapat banyak sekali pundi pahala yang bisa dikuasai.


‌3. Memelihara keikhlasan dengan cara mengulang terus ingatan akan pahala kesabaran, sebagaimana firmanNya yang artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (TQS Az-zumar: 10). 


‌4. Mengupayakan bahagia dan fokus. Apapun yang sedang terjadi orang tua dan anak harusnya tetap bahagia. Minimal bahagia ini dapat didatangkan dengan mensyukuri rahmatNya, sebab tak semuanya rumah beruntung bisa mengikuti aktivitas daring. Rasa bahagia ini akan melahirkan energi besar untuk fokus mengerjakan tugas daring. Dengan fokus tugas akan segera selesai, orang tua dan anak bisa melanjutkan urusan lainnya. Allah berfirman yang artinya: “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (TQS Al-Insyirah: 7). Sehingga bila semua urusan yang dijadwalkan bisa tuntas, tentu akan dapat mendatangkan kepuasan, dan menambah nilai kebahagiaan.


‌5. Menanamkan kembali pikiran positif, bahwa anak adalah aset hebat masa depan. Aset ini terlalu sayang untuk disia-siakan, sehingga penting dibangun optimisme bahwa anak sebenarnya bisa dan mampu menyelesaikan. Tugas pendamping adalah memahamkan, tentu menuntut kesabaran disini.


‌6. Tetap ikhtiar, tawakkal, dan berdoa. Selain agar daring dapat terselesaikan, juga agar pandemi segera mendapatkan perhatian lebih lagi. Agar bisa ditargetkan kapan pandemi ini bisa tuntas berakhir. Sehingga pembelajaran bisa kembali normal. Sebab hakikatnya buah hati pun merindukan bertemu dan berkumpul dengan teman sekolahnya.

Dari sekian faktor, yang tak kalah penting namun tidak dapat diselesaikan personal orang tua adalah menjamin ketersediaan support system. Bahwa kenyamanan dan ketenangan menjalankan daring membutuhkan dukungan banyak elemen. Yang semuanya saling berkaitan satu sama lain.

Kekuatan sinyal, penghasilan rutin yang mencukupi kebutuhan, keharmonisan yang menguatkan dari pasangan, penurunan sebaran wabah yang menjanjikan keadaan kembali normal, hingga perlunya penyediaan kurikulum selama pandemi, dll adalah keadaan yang mendukung untuk bisa terus bersabar. Tentu hal ini tak dapat dipenuhi sendiri oleh orang tua, sehingga dibutuhkan daya dukung dari masyarakat sekaligus negara.

Oleh karena itu, kendati hanya sebatas topik mempertahankan kesabaran sejatinya membutuhkan perpanjangan tangan dari pemangku kebijakan. Sebab dalam kuasa merekalah sesungguhnya segala arahan dan ketersediaan sarana prasarana daring digantungkan. Sebagai realisasi menunaikan peran memelihara urusan umat.

Apabila penunaiannya dilandasi oleh kesadaran iman, niscaya faktor penunjang daring baik langsung maupun tak langsung dapat diakses semua orang. Aktivitas tambahan ini dapat tetap dituntaskan dengan hadirnya rasa sabar. Orang tua sabar, buah hati dapat belajar dengan nyaman dan lancar. []