Membangun Keluarga, Mengembalikan Fungsinya

Membangun Keluarga, Mengembalikan Fungsinya

Endah Sulistiowati
(Dir. Muslimah Voice)

Healthy-sharia.com – Menurut Syaikh Taqiyudin An Nabhani dalam Kitab Nidzomul Ijtima’, Bab Pernikahan hal 174 (terjemah), pernikahan didefinisikan sebagai pengaturan hubungan antara unsur kelelakian dengan keperempuanan. Dengan kata lain, pernikahan merupakan pengaturan pertemuan antar dua jenis kelamin, yakni pria dan wanita, dengan aturan khusus.

Peraturan tersebut mewajibkan agar keturunan dihasilkan hanya dari hubungan pernikahan saja. Melalui hubungan pernikahan tersebut akan berkembang biak spesies umat manusia. Dengan pernikahan itu akan terbentuk sebuah keluarga.

https://parapecintaliterasi.com/kejutan-wedding-anniversary-oleh-ade-tauhid/

Keluarga sendiri bisa disebut sebagai unsur pembentuk negara yang paling kecil. Sehingga keluarga ini memiliki banyak fungsi, yang jika fungsi ini terpenuhi maka dalam kehidupan berkeluarga ini akan dipenuhi dengan kebahagiaan-kebahagiaan.

Dari berbagai pengalaman dan studi literasi setidaknya penulis menyimpulkan ada 11 (sebelas) fungsi keluarga, yaitu:

1) Fungsi Agama. Karena pada dasarnya menikah adalah menggenapkan separuh dien (agama) maka menikah adalah ibadah terlama yaitu seumur hidup. Apalagi dalam keluarga inilah anak-anak mengenal agama untuk pertama kalinya.

2) Fungsi Sosial. Dalam pernikahan tidak hanya menggabungkan dua invidu laki-laki dan perempuan saja, tapi juga keluarga besar masing-masing pasangan. Maka di keluarga inilah masing-masing anggota keluarga belajar bersosialisasi.

3) Fungsi Penyaluran Fitrah (Naluri). Manusia terlahir dengan fitrahnya, salah satunya fitrah melestarikan jenis dan saling menyayangi. Maka dalam keluarga inilah fitrah ini tersalurkan. Sifat kebapakan, keibuan, kasih sayang, dsb.

4) Fungsi Belajar. Dalam keluarga adalah tempat belajar menjadi orang tua, menjadi anak, menjadi anggota masyarakat. Keluarga juga menjadi tempat belajar pertama bagi anak-anak.

5) Fungsi Ekonomi. Sumber kekuatan ekonomi adalah keluarga. Bahkan Allah menjamin rizki bagi pasangan yang menikah.

6) Fungsi Perlindungan. Inilah fungsi keluarga yang sesungguhnya. Keluarga adalah tempat berlindung dari segala mara bahaya. Sehingga jika tidak merasakan ketenangan dalam keluarga, maka patut dicari masalahnya.

7) Fungsi Rekreasi. Keluarga adalah tempat refreshing jika kita mendapatkan tekanan atau masalah, ataupun jika mengalami suntuk, dengan bercerita, bercanda, melihat tingkah polah anak-anak, dsb.

8) Fungsi Investasi. Keluarga adalah investasi terbesar yang tidak bisa digantikan dengan harta. Apalagi dengan kehadiran anak-anak, maka merekalah investasi dunia akhirat, tergabung bagaimana orang tua mendidik mereka.

9) Fungsi Pembinaan. Keluarga ibarat kawah candradimuka, tempat menggembleng anggota keluarga sehingga mampu berdiri tegak dan kuat ketika suatu saat harus keluar dari keluarga yang membesarkan.

10) Fungsi Empati. Keluarga juga menjadi tempat anggotanya untuk belajar peduli satu sama lain, serta saling memahami. Belajar menghargai dan tidak meremehkan pihak lain.

11) Fungsi Lingkungan. Keluarga yang akan mengajarkan untuk mengenal lingkungan, mulai dari yang paling dekat hingga yang paling jauh. Mengenal alam sekitar, termasuk bagaimana menjaga hubungan baik dengan lingkungan.

Luar biasa bukan fungsi sebuah keluarga itu. Memang, menikah itu butuh bekal dan ilmu. Kalau kita menikah berangkat dengan tangan kosong modal uang saja, bisa jadi ditengah jalan akan terkaget-kaget dengan munculnya kejutan-kejutan pernikahan.

Bagaimanapun pernikahan adalah menggabungkan dua kepala yang berbeda, tentunya persinggungan ataupun permasalahan pasti akan terjadi. Sehingga perlu usaha sungguh-sungguh untuk menyelesaikannya. Sehingga apa yang perlu disiapkan jika suatu saat masalah itu datang?

Pertama, membangun komunikasi yang baik. Tidak jarang rumah tangga terpaksa berakhir karena buruknya komunikasi. Sehingga komunikasi dua arah antara suami istri perlu dilakukan untuk meminimalisir salah paham.

Kedua, tidak selalu melibatkan pihak ketiga. Artinya, jika masalah bisa diselesaikan berdua maka selesaikanlah sendiri. Kita minimalkan melibatkan orang ketiga dalam rumah tangga.

Ketiga, sering-sering menghabiskan waktu bersama. Kebersamaan yang diiringi dengan quality time akan menghangatkan hubungan keluarga. Tidak harus lama dan mahal. Masak dan makan bersama, bersih-bersih rumah bersama, menikmati sore hari dengan minum teh atau bolu kukus, maka akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

Keempat, menjadikan aqidah sebagai landasan membangun keluarga (rumah tangga). Masing-masing anggota keluarga diharapkan paham hak dan kewajiban masing-masing. Harapannya ketika terjadi konflik kecil atau berat, maka akan dikembalikan bagaimana agama menyelesaikan masalah tersebut.

Memang, menjalaninya tidak semudah menuliskannya. Tapi itu semua ada dalam wilayah kendali kita. Kita ingin membangun keluarga yang seperti apa, maka disitulah kita bisa berupaya. Bukankah Allah beserta prasangka hambanya?