Me and My Anxiety

Me and My Anxiety (Sebuah Kisah Nyata)

Ariska Yulinda R

Healthy-sharia.com – Sekitar empat tahun belakangan ini, aku sering terbangun tengah malam. Cemas berlebihan hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.

“Degh-degh-degh-degh!”

Pikiran-pikiran negatif segera menghampiri, mengapa? Apa yang salah? Akan ada kejadian apa? Jangan-jangan?! Lalu aku tak akan bisa melanjutkan tidurku, tak juga bisa kembali tenang hingga pagi menjelang.

Biasanya ketika gejala kepanikan menyerang, aku akan terus berpikir dan mencari-cari apa masalahnya. Melewati hari dengan segala ketak-nyamanan ini. Hingga satu demi satu hal terjadi dan hari burukpun tiba.

https://www.facebook.com/1075806192558478/posts/1901823189956770/

“Tuh benerkan. Kalau aku kebangun tengah malam dan berdebar-debar, pasti ada aja kejadian buruk yang terjadi.” Begitu selalu akhirnya kusimpulkan.

Puncaknya ketika suatu hari aku yang sudah dari awal merasa tak nyaman dengan sebuah pekerjaan yang diamanahkan padaku, harus berhadapan pula dengan toxic peoples yang paling kuhindari. Sempurna, kombinasi ini sukses membuat anxietyku kambuh hingga sesak nafas. Sepanjang riwayat anxietyku ini yg paling parah. Panik hingga sesak nafas.

Seorang terapis mengajarkanku beberapa teknik pernafasan dan pausing. Kucoba saat itu juga dan syukurlah berhasil. Feedback-nya luar biasa, aku bisa kembali lega dan menjalani hari dengan tenang. Terima kasih coachku untuk ilmunya.

Setelah kejadian itu aku merasa aku tak boleh lagi abai dengan anxiety yang kualami. Panik hingga sesak nafas dan hampir hilang kontrol diri, ini kupikir sudah sangat bahaya. Jika biasanya anxietyku hanya membuatku berdebar lalu insomnia hingga hilang nafsu makan selama berhari-hari. Kupikir aku bisa mati jika sampai kepanikanku ini membuatku jadi sesak nafas hingga hilang kontrol diri.

Cari akar masalahnya!

Apa akar masalahku? Kucoba flashback dan mengingat-ingat. Semuanya bermula ketika aku kerap terbangun tengah malam dan jantungku berdebar kencang hingga tak bisa tidur. Hewan peliharaanku di rumah menjadi sangat berisik, mengeong dan mecuit ramai. Aku mengalaminya selama beberapa minggu, disusul kejadian-kejadian janggal di rumah. Pintu gerbang yang terbuka-tutup tapi tak ada yang datang. Rasa seperti diawasi, rumah seperti ada yang melempar tapi ketika keluar ngga ada orang, hingga sempat rumah ditinggal dalam kondisi terkunci tapi pulang jadi tidak terkunci.

Mistis? Bukan!

Semuanya berujung pada tindak pencurian dan pengrusakan yang terjadi di rumahku ketika kami sekeluarga pergi berlibur. Beberapa barang berharga hilang, pintu pagar dirusak dan dibobol. Anehnya si pencuri seolah sudah tahu seluk-beluk dalam rumahku dan dimana kami menyimpan barang berharga. Fix kejadian beberapa minggu kebelakang adalah ulah mereka yang sedang mengintai. Mungkin mereka sempat menyelinap masuk dan menggambar isi dalam rumahku. Bagaimana caranya? Wallohualam.

Kala itu aku adalah saksi kunci dimana semua kejadian-kejadian aneh ini terjadi. Hingga saat pulang dari liburanpun aku yang pertama kali membuka pintu rumah dan menyadari rumah kami dibobol orang. Catat ya, saat itu aku begitu tenang dan tidak panik. Kontrol diriku sempurna hingga aku sempat menghubungi keluarga untuk mendatangkan polisi dan timnya. Saat harus membuat laporan polisi pun aku tenang, bisa menjelaskan secara terperinci dan detil apa yang terjadi.

Nyatanya, semua kejadian itu terekam dalam alam bawah sadarku dan menimbulkan trauma. Semenjak itu, aku kerap kali dilanda anxiety. Cemas, panik, merasa insecure, mudah stress hingga hilang nafsu makan. Oke sampe disini paham ya kenapa aku bisa kehilangan BB hingga pernah berada di angka 52kg. Bahagia??? Engga dong!

Lalu bagaimana???
Aku sadar diriku butuh pertolongan. Aku butuh seseorang yang paham tentang hal ini. Aku sempat berdiskusi dengan kenalan psikolog. Mereka memberiku saran ini dan itu. Aku juga sempat ikut kelas pengendalian emosi dengan beberapa teknik pernafasan, meditasi, pausing, self talk dll. Telah kucoba semua dan alhamdulillah beberapa teknik efektif membuatku tenang. Aku mengkombinasikan meditasi dengan zikir. Belajar untuk memasrahkan dan mengikhlaskan bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini adalah atas seizin Allah. Maka dengan mengingat Allah, aku akan temukan tenang.

Poin penting yang perlu diingat adalah kita harus sadar bahwa gangguan mental yang mungkin tanpa disadari sedang kita hadapi, tidak bisa diabaikan. Ketika semua hal itu mulai mengganggu hingga diluar kendali, carilah bantuan dan pertolongan. Cintai dirimu, terima dirimu apa adanya, sayangi dan penuhi kebutuhannya lahir-batinnya. Aku tipe orang yang positif, selalu berusaha menyemangati orang, hingga kadang lupa menyemangati diri sendiri. Padahal diri yang bahagia adalah kunci kita bisa membahagiakan orang lain.

Alhamdulillah, so far so good.