Masker Bukan Solusi Atasi Pandemi

hands with latex gloves holding a globe with a face mask

Masker Bukan Solusi Atasi Pandemi
Keni Rahayu, S. Pd (Founder Kajian Online Mini SWI)

Korban positif Corona di Indonesia hampir menginjak angka 300.000 jiwa. Dengan penambahan fantastis setiap harinya. Dikutip dari merdeka.com, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah 4.317 menjadi 295.499 kasus (2/10/20).

“Prestasi” ini tentu sangat memilukan. Ditambah Indonesia menjadi negara yang paling tidak diinginkan negara lain, sebab tak ingin tertular virus Corona. Setidaknya ada 59 negara melarang warga negara Indonesia untuk masuk (CNN, 11/9/20).

Mencari akar masalah adalah cara terbaik menyelesaikannya. Menguliti tak sekedar “bagaimana agar virus tak semakin menyebar”, tapi juga harus “apa penyebab virus bisa tersebar”. Karena “menjawab cara” hanya bisa selesai jika mengetaui penyebab utamanya.

Di antara ekonomi dan kesehatan, para penguasa lebih memilih kesehatan ekonomi dibanding kesehatan rakyatnya. New normal jadi solusi menurunnya ekonomi menyambut penurunan pendapatan akibat pandemi. Tersebab negara kapitalis begantung besar pada pajak, maka rakyatnya harus terus dipalak. Bagaimana mungkin bisa memalak rayat jika rakyatnya saja tercekik menahan lapar?

Akibatnya, seperti yang kita lihat hari ini. Pasien terkonfirmasi positif Corona bertambah setiap harinya dalam satuan ribuan. Apa penyebabnya? Berbagai sektor ekonomi dibuka, dari mall, pasar, pariwisata. Seolah tak ada pilihan, tersebab perputaran ekonomi masyarakat bergelut di sana. Manusia berkumpul dan berkerumun untuk melanjutkan hidup. Covid-19 tak kasat mata mengincar mereka semua.

Rakyat dijadikan tumbal penguasa. Mereka berdiri di atas dilema raksasa: di rumah mati kelaparan atau ke luar rumah (resiko) mati terkena Corona. Dari sinilah masker digadang jadi solusi, seolah paling jitu untuk mengatasi virus berbahaya ini.

“Tak apa mau ke mana saja, asal jangan lupa pakai masker!” Slogan ini dipampang di berbagsi spanduk dan berbagai iklan layanan masyarakat. Saking urgennya masker, penguasa meresmikan aturan denda bagi siapa saja yang menanggalkannya.

Menyibak akar masalah penyelesaian Corona sangat sulit dilakukan oleh negara-negara berasaskan sekular-kapitalistik. Tidak ada satu negara pun hari ini yang berdiri tanpa asas ini. Bahkan, negara seadidaya Amerika saja sempoyongan menghadapi Corona. Wajar saja, tersebab kapitalisme menjadikan untung-rugi sebagai standar bertindak. Solusi paling ampuh dari sang ahli pun dipandang sebelah mata.

Berbeda dengan Islam, Islam memandang Corona sebagai makhluk Allah, maka menyelesaikannya harus dengan cara penciptanya. Tentu saja, berangkat dari keyakinan bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Tugas seorang hamba adalah melakukan ikhtiar terbaik sesuai dengan petunjuk-Nya.

Tokoh berpengaruh nomor 1 di dunia menurut Michael H. Hart, Muhammad SAW, sudah memberikan contoh bagaimana Islam mengatasi corona. Tak sebatas kekuatan keyakinan individu, Islam punya solusi praktis dalam menyelesaikannya. Rasul mengajarkan lockdown untuk mengatasi wabah. Ajaran ini senada dengan para dokter dan deretan para ahli di bidang kesehatan dan virus.

Lockdown yang diterapkan harus lockdown total. Sama sekali tidak ada aktivitas masyarakat. Bukan lockdown setengah hati bernama PSBB itu. Semua kebutuhan masyarakat dijamin oleh negara. Rakyat tak perlu dilema antara urusan perut atau resiko terinfeksi. Itulah tugas para penguasa. Bukan hanya menghukum, tapi juga memfasilitasi.

Profesor Eli Perencevich, seorang spesialis pencegahan infeksi di Fakultas Kedokteran Universitas Iowa, Amerika Serikat (AS), menyatakan bahwa masker tidak bakal melindungimu dari penularan virus corona (IDN.Times, 3/3/20).

Secara logika sederhana, penyebaran virus terjadi bukan karena pakai masker atau tidak, tapi karena interaksi manusia. Manusia adalah pembawa virus. Agar virus berhenti menyebar, manusia harus berhenti bergerak, berhenti melakukan interaksi dengan dunia luar. Inilah konsep lockdown yang diajarkan dalam Islam. Masker tentu tak dibutuhkan lagi, karena manusia aman di dalam rumah.

Sayangnya, ini tidak akan pernah terjadi kecuali negara yang beriman pada Allah. Direpresentasikan oleh para penguasa yang menjalankan aturan-aturan Allah. Aturan ini harus ditegakkan menyeluruh dalam segala aspek, baik dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, hukum. Semua harus berlandaskan keimanan kepada Allah swt. Taukah kamu apa sebutan untuk aturan ini? Aturan kehidupan yang visioner ini masyhrur dengan sebutan Khilafah.
Wallahua’lam bishowab.