Maraknya Fenomena Anak Gugat Ortu, Siapa yang Salah?

couple elderly man old

Maraknya Fenomena Anak Gugat Ortu, Siapa yang Salah?

Oleh : CC. Kartika

Masih ingatkah anda, terhadap kasus anak menggugat ibu kandungnya di Garut? Nenek Siti yang sudah tua renta digugat anaknya sebesar Rp 1,8 miliar. Gugatan dilayangkan ke Pengadilan Negeri Garut oleh anaknya.

Kasus yang sama Nenek Cicih yang juga digugat empat orang anaknya yaitu Ai Sukawati, Dede Rohayati, Ayi Rusbandi dan Ai Komariah. Mereka menggugat ibu kandungnya Cicih (78) ke Pengadilan Negeri (PN) Bandung.

Dan yang masih hangat di pendengaran kita, Koswara kakek 85 tahun asal Kecamatan Cinambo, Kota Bandung yang digugat Rp 3 miliar oleh anak kandungnya. Masitoh adalah anak ketiganya sekaligus bertindak sebagai kuasa hukum Deden anak kedua Koswara.

(https://www.kompas.tv/article/140502/kronologi-anak-gugat-ayah-kandung-rp-3-milliar-gara-gara-tak-terima-diminta-tutup-warung)

Selalu Terulang

Sesungguhnya kasus seperti ini terus terjadi berulang, hampir tiap tahun kita menjumpai berita yang semacam ini. Belum kasus kasus miris lainnya yang hampir setiap hari terjadi, seperti anak tega membunuh orang tua karena minta uang tidak dikasih, anak memukul orang tua dan sebagainya.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan generasi penerus bangsa ini ? Apa yang akan terjadi dengan bangsa ink kalau generasi nya banyak yang seperti ini ?

Lunturnya budi pekerti

Menanggapi fenomena tersebut Psikiater Teddy Hidayat menyatakan bahwa kasus anak menggugat orang tua tersebut sangat berhubungan dengan lunturnya budi pekerti dan moralitas. Dimana dahulu orang tua itu sangat dihormati dan menjadi pujaan, kini malah diperkarakan di pengadilan.

“Budi pekerti sekarang ini sudah luntur, bagiamana menghormati orang tua, sekarang malah gara -gara harta, anak malah menggugat orang tua ke pengadilan,” ujarnya.

“Disini moralitas sebagai anak terlihat jelas, sudah tidak ada lagi perasaan ikatan batin sebagai anak kepada orang tuanya,” katanya.

Lunturnya moralitas, menurut Teddy Hidayat akibat arus pertumbuhan teknologi informasi yang begitu dahsyat dan tidak diimbangi peningkatan moralitas. “Perbaikan moralitas berjalan lamban, sedangkan tenologi informasi begitu cepat. Inilah PR kita semua, bagaimana mengembalikan moralitas anak bangsa supaya kembali terjaga,” ujarnya.

Sementara itu Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Gianti Gunawan menyayangkan terjadi peristiwa anak menggugat orang tua. Apalagi orang tuanya sudah berusia lanjut.

Pola asuh yang salah

Menurut dia, secara psikologis, diusia lanjut, individu mengalami banyak penurunan, baik dalam hal kesehatan, kekuatan, peran sosial dan penghasilan. Justru di usia inilah, orang tua sangat memerlukan dukungan sosial, terutama dari keluarga terdekatnya, yaitu anak, menantu dan cucu-cucunya.

“Bagi anak, masa ini merupakan masa yang tepat untuk membalas jasa orang tua. Karena anak sudah berada pada usia dewasa, dimana mereka sudah mandiri, memiliki pekerjaan, memiliki pasangan dan anak,” ujar Psikolog yang kini menempuh S3 ilmu psikologi di Unpad itu.

Secara psikolog, menurut Gianti, fenomena anak gugat orangtua itu bisa aja terjadi dan diantaranya bisa disebabkan beberapa faktor. Seperti pola asuh yang salah, anak terlalu dimanjakan, semua keinginannya dipenuhi (nyaah dulang- dalam bahasa sunda), akibatnya anak memiliki toleransi yang rendah dan tidak bisa menahan keinginannya. “Selain itu, prilaku agresi/kekerasan yang dilihat dikehidupan kemudian ditiru,” ujarnya.

(https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr-01293982/fenomena-anak-gugat-orang-tua-ke-pengadilan-bukti-lunturnya-moralitas-420181)

Islam Memandang

Diterapkannya sistem sekular kapitalis yang menjadikan manfaat sebagai asas dan menjadikan kebebasan perperilaku di atas segalanya merupakan biang keladi munculnya berbagai macam pemikiran dan tindakan yg tidak bermartabat

ditambah gaya hidup hedonis saat ini seringkali membuat orang terlena dan membuat menghalalkan segala cara untuk dapat menikmatinya, bahkan orangtua pun dilawan.

Bersamaan dengan berbagai peristiwa semacam itu, lemahnya pemahaman umat terhadap ajaran Islam secara menyeluruh menjadi faktor utama, Islam dipandang hanya sebatas ritual belaka (syahadat. puasa, sholat, zakat, haji). Padahal Islam mempunyai solusi bagi semua persoalan hidup manusia jika kita menjadikannya sebagai standar hidup.

Ketika Islam tidak dijadikan sebagai pedoman hidup maka hawa nafsu sebagai penentu seseorang berperilaku. Akibatnya orang orang berlomba memenuhi kebutuhan Naluri dan jasmani sesuka hatinya, menghilangkan ketakwaan sehingga halal dan haram pun ditabraknya.

Islam juga mengatur interaksi dalam keluarga, hak waris, hak asuh serta aturan yang terperinci dan sempurna mencangkup seluruh aspek kehidupan.

Berbeda dengan sistem kapitalis sekuler yang menghalalkan berbagai cara untuk memuaskan naluri dan jasmani.

Sebagai sistem aturan yang lahir dari Yang Maha Mengetahui makhluk ciptaan-Nya, sehingga seluruh persoalan apa pun dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada yang dirugikan karena aturan-aturan tersebut sesuai dengan fitrah, memuaskan akal manusia yang pada akhirnya akan menenteramkan jiwa.

Dengan menerapkan aturan-aturan Allah, manusia akan mendapatkan kebahagiaan, terhindar dari malapetaka.

Dalam Islam, yang halal jelas dan haram pun jelas, tidak lekang waktu dan tidak tergantung pada pendapat penduduk bumi. Islam telah memberikan aturan terperinci terkait sistem sosial di masyarakat, termasuk tentang interaksi anak dengan orangtua.

Lalu, bagaimana cara berbakti kepada orang tua?

Dalam Quran Surat An Nisa ayat 36, Allah SWT berfirman tentang cara berbakti kepada orang tua

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya: Dan sembah lah Allah dan jangan lah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dalam Quran surat Al Isra ayat 23, Allah SWT berfirman mengenai larangan anak berkata kasar, melainkan harus bertutur kata mulia kepada orang tua.

عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dengan kita melaksanakan aturan-aturan ini,Inshaa Allah setiap keluarga dan masyarakat Islam akan terhindar dari berbagai keburukan dan kenestapaan, dan akan mendapatkan keberkahan.

Karena itu, solusi satu-satunya tak lain adalah mengembalikan aturan kepada Sang Maha Pencipta, dengan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh.

Wallahu a’lam bishshawwab.