Kewarasan Individu Berkolerasi Terhadap Kewarasan Nasional

person holding note with be kind text

Kewarasan Individu Berkolerasi Terhadap Kewarasan Nasional

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Indonesia hari ini masih terkungkung oleh Corona. Bahkan sejumlah daerah memberlakukan PSBB lagi setelah bulan Juni lalu era new normal telah dicanangkan. Hal ini semakin membuat nasib Indonesia kedepan belum bisa dipastikan.

Data pemerintah pada Sabtu (10/10/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat 4.294 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.
Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 saat ini ada 328.952 orang, terhitung sejak diumumkannya kasus pertama pada 2 Maret 2020.

Tidak dipungkiri pandemi ini membuat banyak orang merasa bingung, cemas, stres, dan frustasi. Sejumlah orang khawatir sakit atau tertular Covid-19. Di sisi lain mereka juga risau masalah finansial, pekerjaan, masa depan, dan kondisi setelah pandemi.

Bagi sebagian orang, rasa stres dan cemas menghadapi pandemi corona bisa sampai mengganggu kesehatan mental. Terlebih jika sebelumnya seseorang memiliki riwayat gangguan kecemasan, depresi, serangan panik, atau gangguan obsesif kompulsif.

Respons tubuh saat menghadapi stres tersebut umumnya normal (misalkan sakit perut, mual, susah tidur, sakit kepala) dan tidak menimbulkan masalah kesehatan serius. Namun, apabila sistem saraf otonom tersebut terus-menerus diaktifkan seperti saat menghadapi pandemi corona, dampaknya bisa memengaruhi kesehatan.

Dalam jangka pendek, stres kronis dapat mengganggu sistem daya tahan tubuh sampai sistem pencernaan.
Dalam jangka panjang, stres kronis ini dapat menyebabkan migrain, penyakit jantung dan stroke, diabetes, tekanan darah tinggi, depresi, dan gangguan kecemasan. Parahnya, jika tidak segera ditangani akan menyebabkan gangguan mental.

Pengaruh Gangguan Mental Masyarakat Terhadap Kondisi Umum Negara

Kita perlu tahu bahwa tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia. Hari Kesehatan Mental Dunia ini diperingati pertama kali pada 10 Oktober 1992. Ini dimulai sebagai kegiatan tahunan Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) oleh Wakil Sekretaris Jenderal Richard Hunter. Hari tersebut secara resmi diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Oktober.

Nah, saat ini hampir tiap negara memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia, termasuk Indonesia. Karena kesehatan mental ini sangat berpengaruh dalam pembangunan sumber daya manusia suatu bangsa.

Menurut data WHO setiap 40 detik ada satu orang di dunia ini yang bunuh diri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 79 persen kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2016.

Di Indonesia, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, dr Fidiansyah, Sp.Kj, menyebut, setiap hari setidaknya ada lima orang yang bunuh diri. Depresi yang berujung bunuh diri ini mengancam mereka yang berada di usia produktif.

Sebagaimana awal serangan pandemi Covid-19 di tri semester pertama tahun ini, beberapa kasus bunuh diri sempat hilir mudik di media sosial maupun portal berita online. Sehingga hal ini membuktikan bahwa pandemi ini sangat berpengaruh pada kesehatan mental suati bangsa.

Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Harus dicarikan solusi tuntas untuk menyelesaikan masalah kesehatan mental ini. Apalagi dalam kondisi pandemi ini kita belum tahu kapan akan berakhir.

Sebenarnya negara harus bertanggung jawab penuh dalam bidang kesehatan, termasuk kesehatan mental. Apalagi jika hal ini berkaitan dengan keberlangsungan hidup rakyat. Karena terganggunya mental pasti ada latar belakang yang menyebabkan hal tersebut.

Meskipun tidak memungkiri individu-individu masyarakat pun juga harus berusaha juga bertanggung jawab pada kesehatan mental masing.

Sebuah hadis riwayat Tirmidzi mengatakan, “Pertanyaan pertama yang diajukan kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak mengenai kenikmatan dunia adalah, ‘Bu kankah Aku telah memberimu badan yang sehat’?” (HR Tirmidzi).

Untuk itulah ada beberapa langkah preventif untuk mencegah terganggunya kesehatan mental secara pribadi, yaitu :

1) Menguatkan aqidaha
Aqidah adalah pondasi hidup. Dengan berusaha menguatkan aqidah diharapkan jika terjadi masalah apapun kita bisa mengembalikan semua masalah itu pada dasarnya.

Bukankah Allah berfirman dalam surat Al Baqarah :

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (TQS. Al Baqarah 286).


2) Perbanyak Syukur

Allah berfirman :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7). 

Setidaknya dengan selalu bersyukur dengan kesempitan dan kelapangan yang Allah berikan untuk kita, maka memudahkan kita untuk menerima setiap kondisi yang ada, tentunya dengan selalu berfikir positif.

Penelitian menunjukkan bahwa cara berpikir tentang diri sendiri dapat memiliki efek yang kuat pada kejiwaan. Ketika kita memandang diri kita dan hidup kita secara negatif, maka kita juga merasakan efek negatifnya. Sebaliknya, jika membiasakan diri menggunakan kata-kata yang membuat lebih positif, maka hal ini membuat kamu lebih optimis. 

  1. Terbuka

Biasanya dengan bercerita akan mengurangi tekanan batin dan mental. Diri kita memang perlu memiliki seseorang atau saudara yang bisa kita terbuka dengan masalah kita. Setidaknya dengan bercerita dan mengungkapkan masalah kita, bisa digali solusi-solusi yang belum pernah terpikirkan dari diri kita.

Dengan tiga langkah praktis tadi semoga bisa menguraikan cara pencegahan terhadap gangguan mental, apalagi ditengah pandemi dengan kondisi ekonomi serba sulit. Semoga Allah SWT selalu menjaga kita semua dari segala gangguan kesehatan mental. Termasuk menjaga kewarasan negara ini.