Kebiri Kimia, Mampukah Memberi Solusi?

Kebiri Kimia, Mampukah Memberi Solusi?
Ajeng Najwa, S.IP.
(Pengusaha dan Pemerhati Sosial Politik)

Healthy-sharia.com – Presiden Joko Widodo sudah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. PP nomor 70 Tahun 2020 yang ditetapkan Jokowi per 7 Desember 2020 memuat tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Berangkat dari maraknya kasus pelecehan seksual pada anak, salah satu pelakunya adalah pria berusia 20 tahun yang memerkosa sembilan anak perempuan di Mojokerto. Ia terancam kejatuhan hukuman kebiri kimia, sekaligus sebagai pelaku pertama yang menerima hukuman tersebut di Indonesia. Namun hukuman itu belum bisa diberlakukan karena diyakini melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI.(cnnindonesia.com, 5/1/2021).

Ketua Majelis Pengembangan Profesi Kedokteran (MPPK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Pudjo Hartono mengatakan dalam tirto.id, “Kami menyampaikan agar dalam pelaksanaannya tidak melibatkan dokter sebagai eksekutor,” hal tersebut berdasarkan pada fatwa Majelis Kehormatan dan Etik Kedokteran (MKEK) Nomor 1 tahun 2016 tentang Kebiri Kimia. Ia juga menjelaskan, beberapa bukti ilmiah mengatakan, kebiri kimia tidak menjamin hilang atau berkurangnya hasrat serta potensi perilaku kekerasan seksual pelaku. Justru malah mengganggu organ tubuh lain sebagai respon atas kebiri kimia yang disuntikkan.

Maka sebenarnya, hukuman kebiri kimia ini dianggap gegabah dalam menangani kasus pelecehan seksual terhadap anak. Tindakan ini juga dinilai kurang solutif. Jika dianalogikan, bagaikan sibuk membersihkan sungai yang kotor, namun tidak ada sistem atau aturan tegas untuk melarang pembuangan sampah ke sungai.
Disebutkan oleh Dr.Rohmah, seorang peneliti pemikiran Islam “selama peraturan Islam tidak diterapkan, pelecehan seksual dan pemerkosaan tidak akan berhenti. Tidak adanya peraturan yang mewajibkan menutup aurat, mengharamkan pornografi dan pornoaksi, berdua-duaan laki-laki dan perempuan, mengharamkan pacaran dan campur baur laki dan perempuan, haram mendekati zina, perzinaan, homoseksual, dan lesbian, maka pelecehan dan kekerasan seksual tetap ada.” (muslimahnews.com)

Sebagaimana Allah telah melarang keras tindakan zina dalam QS al-Isra: 32.
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Hukuman kebiri juga bukanlah hukuman yang sesuai dengan syariat, karena hukuman pelaku zina adalah cambuk 100 kali bagi yang belum menikah, dan rajam hingga mati bagi yang sudah menikah. Hal ini bisa dilihat dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW:


Sungguh (hukuman) rajam adalah benar dan ada dalam kitab Allah untuk orang yang berzina apabila telah pernah menikah (al-Muhshan), bila telah terbukti dengan kesaksian atau kehamilan atau pengakuan sendiri.” (HR al-Bukhari, No hadis 1829 dan Muslim, No hadis 1691).


Hukuman tersebut adalah hukuman yang akan menimbulkan jera, dan hukuman itu hanya dapat dilaksanakan jika pelaksanaan kehidupan dalam suatu negara sudah menggunakan hukum dan sistem Islam.

Sehingga jika memang ingin serius menyelesaikan persoalan pelecehan seksual pada anak, maka perlu tindakan yang bersifat preventif dan solusi yang tuntas membenahi dari hulu ke hilir. Adanya infishol (pemisahan kehidupan laki-laki dan perempuan), aturan kewajiban menutup aurat, kewajiban ghadul bashar (menundukkan pandangan), pelarangan berkhalwat (berdua-duaan), pembatasan informasi dan tayangan tayangan yang mampu membangkitkan hasrat manusia, merupakan tindakan preventif untuk mencegah kasus pelecehan seksual pada anak, bahkan pada siapapun.

Hanya Islam yang mampu menjaga fitrah manusia dengan baik, sehingga mampu mencetak generasi terbaik penakluk zaman. Mengapa? Karena sistem Islam Kaffah lahir dari Dzat yang mustahil memiliki kelemahan; Allah, Sang Pencipta sekaligus Pengatur kehidupan makhluk. Bukan Liberalisme dan Kapitalisme yang hanya justru akan menimbulkan kerusakan dan permasalahan baru. Karena liberalisme dan Kapitalisme lahir dari akal manusia yang amat terbatas, dan terbukti tidak pernah melahirkan langkah solutif. Justru akan membuat manusia lebih hina dari binatang ternak.
Wallahua’lam.