Jiplak Menjiplak is Plagiat

Jiplak Menjiplak Is Plagiat

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Dunia tulis menulis memang rawan dengan yang disebut plagiat. Kenapa? Karena bisa jadi satu kepala dengan kepala yang lain memiliki ide yang sama dalam satu waktu. Adakalanya beda waktu bahkan beda generasi tapi masih se-visi.

Dalam wikipedia Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Pelakunya disebut plagiator.

Sebagai penulis memang kadang kita ingin menyuplik pendapat orang lain yang lebih kompeten untuk menguatkan tulisan kita, atau agar tulisan kita lebih memiliki ruh. Apakah itu tidak boleh?

Boleh dan sah-sah saja. Asal tulisan kita tidak didominasi oleh saduran, cuplikan, atas pendapat orang lain. Btw, sebagai catatan penting, masing-masing media, penerbit, ataupun event penulisan memiliki standart sendiri dalam menentukan ke-orisinilan sebuah karya. Artinya, seberapa besar penulis boleh menyadur, menyuplik, atau mengambil pendapat pihak lain.

Adakalanya mereka (penerbit dll) menetapkan 20%, 25%, atau 30% materi saduran dari seluruh tulisan kita. Maknanya, penulis hanya boleh menyadur maksimal sekian persen dari tulisan yang dibuat. Lebih dari itu “end”.

Kalaupun memang jika terpaksa menyuplik pendapat orang lain, atau mengambil berita untuk dianalisa, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Memberi tanda pendapat/kalimat yang diambil.
  2. Jangan lupa menyertakan sumber bacaan dan penulisnya, dimana kita mengambil pendapat/kalimat tersebut.

Menjadi penulis kita pun perlu terus berprogres. Sehingga tulisan kita tidak begitu-begitu saja tanpa ada perbaikan. Apalagi jika hanya bisa mencomot pendapat atau tulisan penulis lain.

Jika membaca itu ibarat membuka jendela dunia, maka menulis diibaratkan sebagai kuncinya. Apa yang dibaca jika tidak ada yang menulis, ya kan? Sebesar itulah peran seorang penulis, jadi kalau penulisnya sendiri tidak mampu berprogres, hanya mampu menyadur, maka jendela mana yang bisa dibuka.

Waah berat ya jadi penulis? Tidak juga! Asal memang ada niat kuat dalam diri untuk memberikan informasi terbaik dengan tulisan terbaik. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan:

1) Sering membaca, bahkan punya jam khusus untuk membaca, sehingga pengetahuannya terus berkembang.

2) Senantiasa mengasah kemampuan menulis, serta menjadikan menulis sebagai habbit.

3) Bergabung dalam komunitas menulis, karena dengan adanya komunitas maka banyak informasi yang akan diperoleh plus akan menyemangati diri kita untuk terus menulis. Bahkan ada yang akan mengingatkan jika memang ada kesalahan. Termasuk masalah plagiat ini, seperti yang ada challenge #RNB3 yang diselenggarakan oleh #Rumedia.

So, cekidot. Mari kita hindari plagiarisme ini. Kita tunjukkan kalau kita bisa. Karena menulis pun butuh adab.

.
.