Jika Cinta Sudah Tak Mampu, Maka Tanggung Jawab Yang Maju

@shuterstock

Jika Cinta Sudah Tak Mampu, Maka Tanggung Jawab yang Maju

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

[Mbak, tetanggaku ada yang selingkuh ketahuan suaminya]

[Sekarang kasusnya ditangani Pak Lurah, suaminya nyuruh aku nemeni istrinya, istrinya syock, mbak, gak bisa bicara]

Ada chat masuk dari adik binaanku di kajian mingguan yang biasa aku isi, ke aplikasi sosial media. Jika menjadi masyarakat kebanyakan pasti saya ikut nyukurin atau menghujat si istri. Tapi disini, harus dicari akar masalahnya apa, mengapa istri berselingkuh, karena gaya hidup, atau dia lagi mencari kenyamanan yang dia tidak dapatkan dari suaminya. Meskipun selingkuh itu, apa pun alasannya adalah diharamkan dalam agama. Dosa besar bagi pelakunya, apalagi jika sampai terjadi perzinahan. Na’udzubillah, semoga Allah melindungi kita dari keburukan-keburukan zina. Aamiin.

Nyatanya, ada “tren” kalau angka perceraian di Indonesia itu tertinggi pada usia perkawinan di bawah lima tahun. Bahkan disaat pandemi, beberapa daerah di Indonesia angka perceraian juga meningkat.

Merujuk data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung, tingkat perceraian keluarga Indonesia dari waktu ke waktu memang semakin meningkat. Pasca reformasi politik di Indonesia tahun 1998, tingkat perceraian keluarga Indonesia terus mengalami peningkatan. Data tahun 2016 misalnya, angka perceraian mencapai 19,9% dari 1,8 juta peristiwa. Sementara data 2017, angkanya mencapai 18,8% dari 1,9 juta peristiwa. Faktor ekonomi dan perselingkuhan menduduki point pertama penyebab perceraian.

Dari kasus diatas, hati ini tergelitik untuk mengabadikan dalam sebuah tulisan tentang cinta dan pernikahan. Sebagai tanggung jawab moral penulis atas kasus-kasus serupa yang terjadi dalam masyarakat.

Dari kitab Nidhzom Ijtima’ karya Syaikh Taqiyuddi An-Nabhani, Bab Pernikahan, pernikahan diartikan sebagai pengaturan hubungan antara unsur kelelakian (adz-dzukurah/maskulinitas) dengan unsur (al-unutsah/feminitas). Dengan kata lain, pernikahan/perkawinan merupakan pengaturan pertemuan (interaksi) antara dua jenis kelamin, yakni pria dan wanita, dengan aturan yang khusus.

Adapun salah satu tujuan menikah dalam Islam adalah beribadah kepada Allah. Pernikahan dipandang oleh islam bagian dari menyempurnakan ibadah dari seorang Muslim.

Sebagaimana Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits, yang artinya:

“Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian lagi.” (HR. Thabrani dan Hakim).

Dari hadist diatas bisa disimpulkan bahwa menikah adalah ibadah terlama, bahkan seumur hidup. Sehingga membutuhkan komitmen yang tinggi bagi yang memutuskan untuk menikah.

Bagaimana jika setelah sekian lama menikah, dan rasa cinta itu luntur pada pasangan? Atau ternyata pasanganku bukan seperti yang kubayangkan, bagaimana? Apa solusinya?

Sahabat, menikah itu bukan hanya karena cinta dua jenis insan yang disatukan. Bukan pula karena si dia sepertinya jodoh yang kita idamkan. Tapi menikah adalah tanggungjawab baru yang akan kita emban seumur hidup. Ada pasangan, ada anak-anak, yang semuanya menjadi satu kesatuan bernama keluarga. Yang masing-masing punya kewajiban dan tanggung jawab.

Cinta itu bisa di pupuk, cinta juga bisa disemai kembali jika sudah layu. Bukan dibiarkan begitu saja, apalagi mencari pelarian pada cinta yang diharamkan. Disinilah tanggung jawab itu harus dihadirkan, tanggung jawab ketika akad dengan sadar diikrarkan. Sehingga disaat godaan benar-benar mengancam, maka sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mempertahankan apa yang sudah kita mulaikan. Karena sebenarnya Allah tidak akan membebankan suatu masalah diluar kesanggupan seorang hamba. Wallahu’alam.