Jejak Kuliner Di Nusantara, Adakah Bukti Pengaruh Khilafah Islamiyah?


Jejak Kuliner Di Nusantara, Adakah Bukti Pengaruh Khilafah Islamiyah?

Oleh: Ervan Liem

I. PENGANTAR

Ada yang bilang witing tresno jalaran soko kuliner, begitulah kiranya penulis ingin menggambarkan bahwa betapa soal uslub dakwah itu luas sekali cakupannya, hal itu pula yang kemudian tertuang oleh fakta sejarah dan peradaban yang berkembang di tanah air tercinta ini, bahwa dunia Islam saat itu memberikan pengaruh yang sangat dominan terhadap perkembangan gastronomi di Nusantara.

Bayangkan saja jika pengaruh Islam tidak sampai dinegeri ini, maka bukan tidak mungkin kan bahwa makanan semisal Lumpia Semarang yang dari negara asalanya yakni China terbuat dari rebung dan daging babi akan tetap seperti itu komposisinya hingga kini?
Atau Pempek Palembang yang merupakan adaptasi dari beberapa jenis makanan Tionghoa seperti Bakso, Kekian atau Ngo hiang, yang mana jika kita cermati Kekian adalah daging udang dan babi cacah (rata-rata berasal dari bahan ini meskipun saat ini banyak variasi). Nah karena menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Tionghoa ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang-Darussalam. Maka para pedagang tersebut beradaptasi dengan bahan-bahan dasar yang melimpah di Palembang yakni ikan tengiri yang cenderung halal dan tidak bertentangan dengan kondisi politik dan aturan Islam yang berlaku saat itu.

Kita juga bisa amati sejarah masuknya kuliner Arab di Indonesia yang merupakan hasil akulturasi budaya Arab dan Indonesia yang telah terjadi sejak ratusan tahun dimulai dari datangnya para pedagang dan utusan da’i dari kekhilafahan Islam saat itu. Contohnya di daerah Serang dikenal masakan Rabeg, yang mana Rabeg dulunya merupakan hidangan istimewa istana Banten dan menjadi kesukaan Sultan Maulana Hasanuddin (putra ke-4 Syaikh Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Djati). Mulanya beliau mencicipi masakan khas dari daging kambing ini di kota Rabeg (terletak diantara Mekkah-Madinah).

Melihat dari sejarah panjang tersebut, penulis menilai bahwa yang paling berpengaruh mewarnai gastronomi di negeri tercinta ini adalah Islam, karena dari kebanyakan budaya kuliner asing yang masuk Nusantara, baik itu yang berasal dari China, India pra Islam dan Sepanyol-Portugis (Eropa), telah banyak yang menyesuaikan atau beradaptasi dengan kultur Islam yang telah ada di Nusantara.

II. PERMASALAHAN

Untuk mengulik uraian singkat diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

(1) Mengapa jejak kuliner di Nusantara terpengaruh oleh dunia Islam?

(2) Bagaimana dampak adanya jejak kuliner yang diwarnai dengan Aturan Islam?

(3) Bagaimana Islam mempengaruhi dan mengatur adanya jejak kuliner di Nusantara agar tetap sesuai dengan Islam?

III. PEMBAHASAN

A. Jejak Kuliner di Nusantara mayoritas dipengaruhi oleh budaya Islam

Dalam bidang gastronomi, selain pengaruh Tionghoa, Nusantara juga banyak menyerap kultur dari India. Dua negara itu memang berada dalam daftar peradaban tertua di dunia. Sehingga pengaruh itu bertahan lama di Nusantara dan mengakar di masyarakat.

J. Gonda dalam “The Indian Religions in Pre-Islamic Indonesia and Their Survival in Bali”, menyebut bahwa pengaruh India sudah tampak di Nusantara sejak abad pertama. Pada masa penyebaran Islam, banyak pendatang dari Gujarat datang ke Nusantara. Ini juga berpengaruh terhadap kultur gastronomi.

Masakan yang berasal dari wilayah India dan dunia Arab kemudian diperkenalkan ke Nusantara dan mengalami akulturasi dengan budaya setempat setelah ratusan tahun. Awal mula lahirnya masakan ini adalah ketika Bangsa Arab yang berasal dari Hadramaut (sekarang Yaman), Hijaz dan Mesir datang ke Indonesia untuk menyebarkan Islam. Sejak abad 18 M di Jawa, kebanyakan para Da’i yang berasal dari Arab menetap di pantai utara dan membaur dengan penduduk setempat sehingga mempengaruhi budaya masakan lokal terutama dalam hal penggunaan daging kambing.

Makanan Sumatera misalnya, sangat dipengaruhi kultur India. Pengaruh ini bisa dilacak sejak 800 Masehi. Dalam Etnis China Perantauan di Aceh (2009), disebutkan bahwa pengaruh India datang dari para pendakwah Islam dari Gujarat. Saat itu kapal dari Gujarat juga membawa pendakwah dari Arab dan Persia.

Kedatangan para juru dakwah yang diutus oleh negara Khilafah ke Nusantara saat itu, ditambah lagi adanya para pedagang rempah dari Gujarat, hal ini jelas telah memiliki andil besar dalam perkembangan masakan Nusantara. Mereka membawa rempah dari tanah mereka dan dikenalkan ke penduduk Nusantara. Karakteristik para da’i yang luwes dan mudah membaur membuktikan bahwa saat itu masyarakat sangat terbuka dengan pengetahuan baru yang datangnya dari dunia Islam, tak terkecuali tentang urusan perut yang dari dulu hingga kini pun cukup ampuh untuk melakukan pendekatan, baik untuk tujuan dakwah ataupun yang lainnya sebagai tahap pengakraban.

Jadi, selain membeli rempah seperti cengkeh dan lada dari Nusantara, mereka juga membawa dan menjual rempah dari tanah India dan Timur Tengah. Menurut sejarawan Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara (2016), apa yang dikenalkan oleh orang India antara lain, bawang/bakung, ketumbar, jinten, juga jahe. Bumbu-bumbu ini yang kemudian mempunyai peran penting dalam masakan Nusantara, terutama dari jazirah Sumatera.

Jintan/habatussauda, ketumbar, maupun jahe, digunakan untuk masakan seperti rendang, gulai, maupun kare. Ghee, sejenis mentega dari India yang vital di kultur masakan Asia Selatan yang kala itu memang lebih awal menyatu dengan Khilafah Islam, dikenal sebagai minyak samin di Indonesia. Benda berwarna kuning dengan tekstur lembut ini yang dipakai agar soto Betawi atau sop kaki kambing jadi lebih gurih dan aromatik. Minyak samin juga banyak dipakai di masakan seperti nasi minyak ala Sumatera Selatan, roti canai, hingga nasi kebuli. Perlu diketahui juga bahwa minyak samin ini dalam sejarahnya juga merupakan salah satu komuditas andalan yang dijual oleh Sahabat mulia Sayyidina Abdurrahman bin Auf ra, selain susu kambing kering.

Untuk nasi kebuli, bisa dibilang ini adalah kearifan Nusantara yang menginduk pada budaya India dan Arab Islam. Nasi kebuli memakai beras basmati yang berasal dari India. Bulirnya besar dan pera. Secara bumbu dan penampilan, nasi kebuli ini adalah adik kembar nasi Mandi atau kabsa dari tanah Arab, dan nasi biryani dari India.

Nasi kebuli populer di kampung-kampung Arab. Di Indonesia, ia populer di Jakarta, Surabaya, Gresik dan Pekalongan. Jika anda pernah makan nasi kebuli di kampung Arab dikawasan makam Sunan Ampel, Surabaya. Disana nasi kebulinya disajikan dengan kambing oven. Ketika makanan baru diangkat dari dapur, wanginya sudah membelai hidung dari kejauhan, porsinya besar, nasinya mengkilat oleh minyak samin. Tercium aroma jintan dan cengkeh yang manis. Daging kambingnya amat jinak dan tak melawan sama sekali, bisa terburai dengan sedikit sentuhan. Hal ini membuktikan bahwa kala itu, hubungan Indonesia pendatang (para utusan Da’i dan pedagang India) dengan pribumi sangat mudah terjalin dan harmonis, mempergunakan cara-cara pendekatan yang sesuai nalar tanpa paksaan, sehingga tidak heran jika saat itu perkembangan dakwah Islam di bumi Nusantara ini berkembang pesat.

B. Dampak Adanya Pengaruh Islam Terhadap Jejak Kuliner di Nusantara

Diberbagai wilayah Indonesia saat ini, lazim ditemui jajanan yang berasal dari negeri China seperti bakpao, bakmi, dan bakso yang dijual baik oleh pedagang kaki lima di tepi jalan ataupun di restoran. Masakan China sering kali diadaptasi menjadi masakan Indonesia, salah satu contoh adaptasi ialah daging babi yang sudah jarang digunakan dan diganti dengan daging sapi karena menyesuaikan dengan kultur mayoritas warga Indonesia yang kebanyakan muslim. Hal ini sulit untuk disanggah bahwa dampak masuknya Islam ke Nusantara memang begitu kuat dan tidak bisa dipandang remeh. Ideologi Islam yang masuk ke bangsa ini terlihat dominan, hadir ditengah-tengah masyarakat yang majemuk namun bisa diterima dengan baik oleh berbagai kalangan tanpa paksaan.

Nusantara, sebagai negeri dengan penduduk mayoritas beragama Islam, umat muslim diharamkan untuk meminum alkohol. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sejak zaman kuno suku bangsa asli di kepulauan Nusantara telah mengenal minuman beralkohol. Berdasarkan kabar dari China, masyarakat Jawa Kuno meminum semacam arak yang disadap dari kelapa yang disebut tuak. Dibeberapa masyarakat sekarangpun hal ini masih tetap ada. Namun begitu, hal itupun juga memang masih dipengaruhi oleh pengaruh budaya barat non Islam yang tak pernah berhenti menjajah negeri. Bahkan secara legal pun negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini juga masih mengembangkan minuman beralkohol merek lokal, hal ini tentu sangat disayangkan mengingat betapa para Ulama dan da’i Islam sejak dulu ingin dan berusaha mengubah kultur masyarakat yang mulanya tidak Islami menjadi lebih Islami, namun menuai kontra dari beberapa oknum pemangku kebijakan.

Masakan India-Indonesia
Pengaruh India dapat diamati di Indonesia menyusul penyebaran Islam di Nusantara yang dibawa oleh Muslim India. Contohnya adalah martabak dan kari yang memengaruhi masakan Aceh, Minangkabau, Melayu, dan Betawi. Beberapa hidangan Aceh dan Minangkabau seperti roti canai, roti tisu, nasi biryani, teh tarik dan gulai kambing yang dilacak asal-usulnya berasal dari India. Contoh lainnya adalah ayam mentega, kedli kukus, kue apem, kue putu, putu mayang, dan naan. India yang memang dari sejarahnya sudah lebih awal tersentuh oleh dakwah Islam karna letak geografisnya yang lebih dekat dengan dunia Arab, tentu pengaruh Islam sudah cukup mengakar disana. Akibatnya ketika orang-orang India muslim masuk ke wilayah Nusantara, kebiasaan dan kultur Islampun sudah kental membersamainya.

Masakan Arab-Indonesia
Orang-orang Arab datang ke Indonesia untuk tujuan dakwah penyebaran agama Islam. Pengaruh Arab pada masakan Indonesia telah terintegrasi dan terakulturasi dengan baik yang mana dapat dijumpai dengan gampang, contohnya antara lain yaitu martabak, nasi kebuli, nasi mandi, nasi kabsah, kue kaak, samosa, rabeg, dan roti pita.

Masakan Tionghoa-Indonesia dan Masakan Peranakan
Tak bisa dipungkiri bahwa pengaruh China di Nusantara ini juga sangat besar, berbagai jenis masakan pun hingga saat ini masih saja tetap ada yang berkomposisi seperti dinegeri asalnya yakni berdasarkan kesukaan orang-orang China seperti babi dan beberapa serangga. Imigrasi China ke Indonesia dimulai pada abad ke-7, dan dipercepat selama masa kolonial Belanda, sehingga menciptakan perpaduan kultur masakan Tionghoa dengan gaya masakan asli Indonesia. Beberapa hidangan populer Indonesia yang mendapat pengaruh Cina antara lain seperti bakmi, bakso, mi soto, soto, bakpau, nasi goreng, mi goreng, mi pangsit, mi hokkien, tahu goreng, siomay, pempek, kwetiau, laksa, lumpia, nasi tim, capcai, fu yung hai, yee sang, popiah, dan swikee. Beberapa hidangan yang dipengaruhi Cina ini telah terintegrasi dengan baik ke dalam masakan utama Indonesia. Dan memang kebanyakan jenis-jenis makanan tersebut sudah beradaptasi dengan kultur Islam, meskipun juga masih ada beberapa yang bertentangan seperti swikee. Namun secara umum dampak dan pengaruh Islam cukup kuat mengadaptasi makanan asal China tersebut ke arah yang lebih Islami.

Adapun pengaruh Belanda yang tiba di Nusantara pada abad ke-16 untuk menjajah dengan alasan mencari rempah-rempah. Ketika VOC bangkrut pada tahun 1800, Indonesia menjadi koloni yang berharga di Belanda. Melalui kolonialisme, orang Eropa memperkenalkan roti, keju, stik panggang, wafel, dan panekuk. Roti dengan mentega, keju atau selai buah, poffertjes, pannekoek, yogurt, dan keju belanda umumnya dikonsumsi oleh kolonial Belanda dan orang Indo selama era kolonial. Beberapa ningrat kelas atas dan penduduk indigenos yang terpelajar mengenal masakan Belanda; masakan ini dijunjung tinggi sebagai masakan kelas atas masyarakat Hindia Belanda. Hal ini menyebabkan adopsi dan perpaduan masakan Eropa ke dalam masakan Indonesia. Beberapa hidangan Indonesia yang terakulturasi selama era kolonial oleh masakan Belanda, termasuk kroket, roti bakar, roti buaya, selat solo, bistik jawa, semur, brenebon, dan sop buntut.

Banyak kue seperti kue bolu, kue sus, kue lidah kucing, kue putri salju, nastar, lapis legit, spiku, dan kastengels berasal dari pengaruh Belanda. Beberapa resep diciptakan sebagai masakan perpaduan Hindia Belanda, menggunakan bahan-bahan asli di Indonesia tetapi dengan teknik memasak Eropa. Ini pun termasuk kue pandan dan klappertaart. Kue cubit, biasanya dijual sebagai makanan ringan di sekolah dan pasar, diyakini berasal dari poffertjes. Juga keju edam yang semakin populer di Indonesia.Sebelum Belanda masuk ke Indonesia, bangsa Portugis dan Spanyol telah masuk ke Indonesia terlebih dahulu. Mereka membawa dan memperkenalkan cabai, lada, kayu manis, vanila, dan safron. Masakan Indonesia yang telah terintegrasi baik dengan masakan Portugis dan Spanyol antara lain risoles, pastel, panada, gado-gado, dan feijoada Adapun adaptasi jenis makanan Eropa tersebut terhadap keberadaan Islam di Nusantara adalah dengan adanya perubahan penggunaan bahan dasar yang dinegara asalnya sana tidak sesuai dengan Islam semisal penggunaan lemak babi diberbagai olahan kue maka disesuaikan dengan kultur Islam yang ada di Nusantara, namun inipun juga belum sempurna hingga saat ini. Masih saja ada produsen makanan Eropa yang nakal dan mempergunakan barang haram dalam produksinya, patut disayangkan dan semoga aturan negara sanggup mendisiplinkannya.

C. Strategi Islam Agar Jejak Kuliner di Nusantara Tetap Berkembang Sesuai Tuntunan Islam

Perkembangan teknologi di era modern ini berlangsung dengan begitu pesat. Banyak perubahan yang terjadi dalam setiap sendi kehidupan yang menuntut manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Termasuk dengan perkembangan dunia kuliner atau gastronomi akhir-akhir ini. Perubahan memiliki dua pengertian; perubahan ke arah kebaikan dan perubahan ke arah keburukan. Apabila perubahan menjadikan manusia menjadi insan yang unggul dalam ilmu, iman, dan akhlak berarti perubahan itu mengarah pada kebaikan. Akan tetapi, apabila perubahan itu hanya merupakan tuntutan dari nafsu yang mengarah pada sifat sombong, angkuh, dan tamak, maka perubahan itu jelas menuju pada keburukan.

Melihat fenomena yang terjadi dikancah perkulineran saat ini, perubahan zaman membawa dampak yang yang sangat bervariasi pada masyarakat, kultur gastronomi yang telah lama dibangun dengan dakwah Islam lambat laun mengalami distorsi makna yang sesungguhnya. Bukan hanya pada sekelompok usia ataupun golongan, tetapi hampir merata pada semua lapisan masyarakat. Salah satu contoh nyata saat ini adalah maraknya penyebaran gastronomi ala barat yang sebenarnya bukan merupakan bagian dari tatacara Islam. Sebagai contoh adalah budaya makan yang saat ini sudah umum terjadi saat pesta pernikahan ataupun ulang tahun, seringkali dilakukan dengan makan sambil berdiri bahkan sambil berjalan, ditambah lagi campur baur laki dan perempuan. Memang harus kita akui kalau bangsa barat memang unggul di beberapa bidang seperti teknologi dan informasi, tetapi bukan berarti kita harus menyerap semua budaya yang berasal dari mereka. Kita harus pandai-pandai memilah-milah mana yang bisa kita serap dan mana yang harus benar-benar kita jauhi.

Agar jejak kuliner dan gastronomi tetap sesuai dengan kultur Islam maka sebelum kita menyerap budaya orang lain, hendaknya kita mencoba mengenal budaya kita sendiri yang sebenarnya sudah sangat maju sejak berabad-abad yang lalu, adanya sejarah dakwah yang digencarkan oleh kekhilafahan Islam hingga sampai di Nusantara ini perlu disadari berdasarkan hati yang lapang. Budaya luhur masuknya Islam ke bangsa ini telah disertai dengan berbagai perangkatnya termasuk aturan mengenai urusan makan, yang telah diajarkan sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Inilah yang perlu dipelajari ulang agar tidak luntur dan tergerus oleh budaya barat. Akan tetapi masalah yang ada saat ini adalah ketika budaya yang baik dianggap kuno dan seakan-akan ada stigma dari masyarakat yang mengatakan kalau kita tidak mengikuti trend masa kini (yang biasanya diidentikkan dengan budaya barat) maka kita akan dicap sebagai orang yang kampungan dan tidak gaul. Masyaallah. Sebagai umat Islam seharusnya kita mengenal budaya kita sendiri dan melestarikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi apa yang terjadi saat ini? Gastronomi Islam yang seharusnya dilestarikan justru malah terkikis oleh berbagai budaya barat yang kian meprihatinkan.

Faktor-faktor agar gastronomi Islam dan Jejak Kuliner di Nusantara tetap lestari:

  1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.
  2. Memahami secara benar jejak masuknya Islam di Nusantara dan budayanya agar mengerti sejarah.
  3. Tidak latah mengikuti budaya kuliner barat, saat ini banyak masyarakat yang meniru gaya hidup atau orang-orang bule atau lebih berkiblat kebarat-baratan, hal ini harus diantisipasi.
  4. Tidak Islamphobia, berlapang dada menerima sejarah kejayaan Islam dengan akal sehat.
  5. Dibutuhkan kekuasaan yang mau menjalankan dan mendukung dakwah Islam.

IV. PENUTUP

Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Masuknya Islam ke Nusantara turut mempengaruhi Jejak kuliner dinegeri ini. Kebanyakan orang berpikir bahwa Islam datang ke negeri ini secara tidak terencana namun hal tersebut keliru, karena penyebaran Islam saat itu memang diemban oleh negara Islam. Dengan adanya utusan Da’i dari kekhilafahan yang diberangkatkan ke Nusantara maka budaya kuliner atau gastronomi pun ikut terbawa sebagai pengenalan terhadap budaya pembanding yang sesuai Islam (yang sesuai naluri) dengan budaya kuliner yang ada di masyarakat pribumi. Bahkan seringkali dipergunakan sebagai media dakwah agar lebih akrab dan mudah diterima oleh masyarakat.
  2. Dampak dari masuknya Islam ke Nusantara turut mempengaruhi segala sesuatu yang ada, tak terkecuali mempengaruhi secara kuat jejak kuliner di Nusantara. Akibat dari aturan Islam yang juga mengatur mengenai tatacara makan maka hal itu mengakar kuat di masyarakat bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Turut mempengaruhi segala jenis kuliner asing yang datang, sehingga jenis-jenis makanan yang mulanya menggunakan bahan haram ikut beradaptasi mengikuti ketentuan Islam yang saat itu memang umum akibat ada banyaknya kesultanan-kesultanan di Nusantara ini.
  3. Agar jejak kuliner di Nusantara tetap sesuai dengan kultur Islam, maka masyarakat bangsa ini perlu ditunjukkan fakta-fakta sejarah mengenai nenek moyangnya yang sejatinya sudah mengenal dan mampu menerima Islam sejak lama dengan berlapang dada. Hal tersebut diperlukan sebagai antisipasi masuknya pemahaman-pemahaman barat yang saat ini tak pernah berhenti mengepakkan sayapnya dengan berusaha merusak tatanan bangsa termasuk dibidang kuliner, kita perlu melawan sebagai bukti cinta hakiki terhadap bumi pertiwi.

LamRad

LiveOppressedOrRiseUpAgainst