Jangan Ada Komersialisasi Vaksin Covid-19 diantara Kita

Jangan Ada Komersialisasi Vaksin Covid-19 diantara Kita

Oleh : Salma Shakila (Analis Muslimah Voice)

Healthy-sharia.com – Beberapa bulan yang lalu, mungkin awal-awal ‘new normal’ saya pernah membaca artikel populer yang isinya kurang lebih memaparkan apa saja yang harus kita lakukan ketika akan ‘traveling’ padahal pandemi Covid-19 belum berakhir. Salah satu item penting yang harus dilakukan adalah vaksinasi. Dalam tulisan disebutkan vaksinasi tapi soal rapid test dan swab test tidak.

Mungkin tidak aneh, mengapa disebut vaksinasi karena vaksinasi dianggap sebagai perlindungan diri dari tertular virus Covid-19. Surat keterangan telah vaksin kemudian ditunjukkan pada destinasi wisata yang dituju Padahal waktu itu vaksin Covid-19 belum ditemukan. Para ahli sendiri menyatakan untuk menemukan vaksin yang tepat butuh waktu yang cukup lama. Bahkan ada yang menyatakan waktu yang dibutuhkan 2-4 tahun.

Dari pernyataan, “Jika kamu traveling maka lakukanlah vaksinasi. Lalu surat keterangan telah vaksin ditunjukkan ke destinasi wisata” tersebut tergambar vaksinasi seperti obat yang dijual bebas saja. Dan bentuk kompromi walau pandemi tetap bisa berwisata. Walau pandemi tetap bisa ‘plesiran’, mengkonsumsi gaya hidup ala-ala kapitalisme. Aroma komersialisasi vaksin mulai tercium dari arah berpikir penulis artikel ini.

====

Tapi benarkah vaksin adalah solusi ampuh untuk mengatasi pandemi dan berkompromi hidup padahal masih pandemi? Mengapa banyak sekali pro kontra terkait vaksin ini? Beberapa survey telah dilakukan untuk melihat mana masyarakat yang setuju dengan adanya vaksinasi dan mana yàng tidak. Dari beberapa survey yang dilakukan ternyata pihak yang kontra dengan vaksin telah ada sejak dahulu.

Selain itu aroma komersialisasi vaksin begitu jelas tercium karena memang begitulah watak dari kapitalisme yang bisa-bisanya terpikir untuk mengambil keuntungan di saat pandemi sekalipun. Aroma ini tercium ketika pengadaan vaksin yang terkesan terburu-buru. Vaksin sudah terburu dipesan padahal uji klinis III belum selesai.

Memang dalam kapitalisme, kesehatan menjadi ladang yang bisa dijadikan lahan bisnis. Paradigma untung rugi pun digunakan dalam pengadaan vaksin. Seolah-olah vaksinasi tidak bisa ditunda. Semua vaksin sudah kadung dipesan dengan uang negara, yang mungkin itu sebenarnya uang rakyat, dan mungkin juga itu pemerolehannya melalui utang negara yang tentu jumlahnya tidak sedikit.

Padahal di sisi lain publik masih khawatir dengan vaksin ini. Tidak hanya dari sisi halal haram semata, spekulasi yang berkembang soal terkait soal keamanan dan kemanjuran dari vaksin ini. Bagaimanapun ini adalah obat baru. Yang belum banyak bisa dilihat efeknya. Tentunya uji klinis yang tuntas sangat diperlukan untuk menentukan vaksin bisa tidak disuntikkan pada rakyat atau tidak?

====

Segala keruwetan ini membuktikan kapitalisme tak kompeten menangani wabah. Bagaimanapun vaksin bukan solusi sempurna. Vaksin hanya membangun kekebalan tubuh dan perlindungan setiap individu masyarakat. Dengan adanya vaksin diharapkan manusia tidak mudah tertular, dan jika terjadi infeksi maka infeksinya tidak parah dan mudah disembuhkan. Tapi vaksin bukan satu-satunya solusi untuk menyelesaikan pandemi.

Kapitalisme tak pernah serius menangani wabah karena selalu saja ada motif ekonomi pada setiap kebijakan yang dilakukan. Kapitalisme mengkomersilkan kesehatan walaupun pandemi. Tekanan kapitalisme yang menggurita ini menjadikan wabah semakin tak kunjung reda karena vaksin sebagai komoditas bisnis berada di atas kepentingan kemanusiaan dan keuntungan perusahaan berada di atas kesehatan publik.

====

Berbeda sistem Islam telah melesat jauh ke depan. Islam telah punya solusi penanggulangan wabah yang komprehensip diantaranya dengan memisahkan yang sakit dan yang sehat, pengecekan masal (swab) secara gratis dan menutup akses ke tempat dan dari tempat terjadinya wabah untuk mencegah virus berkembang.

Selain penelitian dilakukan oleh para ilmuwan untuk menemukan obat dan formula yang tepat untuk menyelesaikan segala problem kesehatan. Negara tak perlu ‘tergupuh-gupuh’ harus impor vaksin karena produksi vaksin yang halal, aman bisa dilakukan di dalam negara. Dikembangkannya vaksin ini adalah bentuk ikhtiar dari negara untuk mengatasi wabah.

Penelitian-penelitian ini akan dilakukan oleh orang-orang yang amanah. Mereka akan memastikan segala obat baru telah lolos uji klinis, uji keamanan sebelum ditawarkan pada masyarakat. Selain itu para ahli ini juga akan memastikan kehalalan dan kemanjuran vaksin. Setelah itu negara akan memfasilitasi distribusi vaksin secara gratis kepada rakyat.