Investasi Anti Virus Corona

Investasi Anti Virus Corona

Endah Sulistiowati

Sejauh ini, upaya untuk menemukan antivirus atau obat yang mampu mengobati infeksi virus corona masih harus menempuh jalan panjang. Berikut ini daftar negara-negara yang melakukan penelitian untuk menemukan vaksin maupun obat penangkal virus corona.

  1. Tiongkok
    Tiongkok sejak akhir Januari lalu dikabarkan telah memiliki kandidat untuk antivirus corona. Obat bernama Remdesivir itu diuji coba oleh Gilead Sciences Inc., perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat. Para ilmuwan menemukan bahwa Remdesivir dan Chloroquine (obat antimalaria) yang diproduksi Gilead sangat efektif dampaknya ketika diuji coba ke Covid-19 di laboratorium. Laporan para ilmuwan tersebut diterbitkan di jurnal Cell Research, Selasa (4/2). Selain Remdesivir, Tiongkok juga mencoba terapi dengan plasma darah yang diambil dari para pasien Covid-19 yang sudah sembuh. Plasma darah tersebut digunakan untuk memproduksi antibodi yang akan memperkuat imunitas tubuh terhadap virus corona.
  2. Iran
    Iran mengklaim tengah menguji vaksin yang mampu memberantas virus corona. Seperti dilansir al-monitor.com, pusat riset medis yang terafiliasi dengan Korps Penjaga Revolusioner Islam Iran (IRGC) akan menguji klinis vaksin tersebut. Brigadir Jenderal Alireza Jalali, Presiden Universitas Ilmu Medis Baqiatollah, mengatakan pihaknya menunggu diterbitkannya izin dari Organisasi Pengawas Obat-obatan dan Makanan Iran sebelum memasuki fase klinis. Dalam pernyataan yang dirilis 4 Maret lalu, Organisasi Pengawas Obat-obatan dan Makanan Iran membantah segala laporan dan rumor di media sosial yang menyebutkan sudah ada terobosan untuk memerangi virus corona. Organisasi itu juga tidak memberi tanggapan terhadap pengumuman badan riset IRGC tersebut. IRGC juga menyebutkan bahwa mereka tengah mengembangkan perangkat penguji (testing kit) virus corona dalam 12 bulan ke depan. Kelangkaan perangkat penguji merupakan salah satu faktor yang menghambat penanganan epidemi virus corona di negara tersebut.
  3. Amerika Serikat
    Seperti dilansir vox.com, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) bekerja sama dengan Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) memiliki tujuh kandidat vaksin dari perusahaan obat untuk melawan virus corona.

Lebih dari US$ 3 miliar dana yang disetujui akan digunakan untuk penelitian dan pengembangan vaksin virus corona, pengadaan alat tes, dan perawatan. Saat ini tidak ada vaksin atau perawatan yang disetujui untuk menyembuhkan covid-19.

Jikalaupun antivirus saat ini bisa ditemukan dan evektif untuk mengobati pasian corona. Bisa jadi harga jual yang dibandrol akan cukup tinggi. Sebagaimana vaksin-vaksin yang lain. Apalagi Indonesia sangat minim vasilitas penelitian kesehatan. Jikalaupun ada penelitian di Indonesia, maka akan terganjal dengan produksi masalnya, lagi-lagi prosedural, dana, dan provit masih menjadi kekuatan utama di era kapitalisme ini.

Ditambah lagi ketergantungan yang hebat dari negara berkembang pada negara kaya sangat kuat. Ditancapkannya mental korban yang lemah membuat Indonesia sulit untuk berdikari, didukung oleh gaya kepemimpinan korporatokrasi semakin melemahkan posisi bangsa ini. Padahal secara geografis ditunjang dengan kekayaan alam dan bonus demografi harus Indonesia mampu memutuskan ketergantungan terhadap Asing. Termasuk dalam mencegah masuknya virus corona ke negeri ini. Sayang hal itu tidak dilakukan pemimpin negeri ini. Hasilnya seperti saat ini yang kita rasakan.

Sebagai tempat berasalnya virus corona ini setidaknya Presiden Cina Xi Jinping menyerukan pengembangan vaksin coronavirus dan obat-obatan yang lebih cepat ketika dia memeriksa Akademi Ilmu Kedokteran Militer dua minggu lalu. Sekitar 1.000 ilmuwan Cina telah berupaya mendorong pengembangan vaksin, dengan sembilan vaksin dikembangkan melalui lima pendekatan berbeda, termasuk vaksin tidak aktif, vaksin berbasis vektor virus, dan vaksin gen. Harapannya dengan vaksin ini bisa menekan jumlah korban meninggal akibat virus corona.

Di Indonesia-pun juga melakukan penelitian yang sama, namun terbatas dikampus-kampus. Ada Unair dan ITB yang sudah memulai penelitian virus ini. Namun pemerintah belum ada itikad untuk menggelontorkan dana kesana, demikian juga para pemilik modal. Hal ini mendorong asumsi bahwa untung rugi masih menjadi pertimbangan utama.