Indonesia Darurat Aborsi, Islam Solusi

gambar dari search google

Indonesia Darurat Aborsi, Islam Solusi

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Pegiat literasi dan pemerhati kebijakan publik)

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain (bukan karena Qishash) atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi (pelaku zinah yang sudah menikah, Teroris, Begal [Mafia], gembong Narkoba, dll), maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya….” (QS. Al-maidah [5] : 32)

Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya akan menggelar rekonstruksi kasus praktik aborsi ilegal 32 ribu janin. Rekonstruksi akan digelar di tempat kejadian perkara (TKP), yakni di sebuah klinik rumahan di Jalan Percetakan Negara III, Jakarta Pusat. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan rekonstruksi kasus tersebut akan digelar pada siang ini. Rencananya, 10 tersangka yang terlibat dalam kasus tersebut akan dihadirkan dalam proses rekonstruksi (SuaraJakarta.id, 25/9/20).

Dilansir oleh Republika.co.id, Laporan KPAI dari survei yang dilakukannya tahun 2007 di 12 kota besar di Indonesia tentang perilaku seksual remaja sungguh sangat mengerikan. Hasilnya seperti yang diberitakan SCTV adalah, dari lebih 4.500 remaja yang di survei, 97 persen di antaranya mengaku pernah menonton film porno. Sebanyak 93,7 persen remaja sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas mengaku pernah berciuman serta happy petting alias bercumbu berat dan oral seks.

Lebih menyedihkan lagi, 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi. Bahkan, 21,2 persen remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Data ini dipublikasikan pada tahun 2007, 12 tahun yang lalu. Data aborsi di satu kota saja saat ini mencapai puluhan ribu, bagaimana jika diakumulasi dari Sabang-Merauke? Direktur PKBI Lampung, Dwi Hafsah Handayani menyebutkan, 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil tersebut, terdiri dari siswa di kelas VII, VIII, dan IX. Bahkan 20 Persen Pelanggan PSK adalah Pelajar SMA. (20/9/19).
Indonesia Darurat Aborsi
Fakta yang sungguh mencengangkan walau sebenarnya wajar terjadi dalam sistem demokrasi saat ini, dimana kebebasan begitu dielu-elukan. Sebut saja kebebasan berekspresi dan bertingkah laku dijamin oleh demokrasi. Maka lahirlah manusia yang terbiasa berpakaian dan berprilaku porno, pelaku free sex, kumpul kebo, zina, aborsi dianggap hal biasa. Melahirkan manusia yang tak manusiawi dan melanggar kodratnya. Tak siap menjalin hubungan halal dan melahirkan keturunan hingga akhirnya melakukan aborsi.

Free sex yang akhirnya menjalar ke praktik aborsi illegal, bagai fenomena gunung es. Terlihat di permukaan banyak, di bawahnya lebih banyak lagi. Bagi para ibu ada yang merasa takut anak wanitanya hamil di luar nikah lalu aborsi, namun ada pula orang tua yang senang jika anaknya ada hubungan dengan lawan jenis walau belum halal padahal di sistem sekarang sangat beresiko. Pendidikan agama yang kurang dalam lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor anak kurang terkontrol bergaul di luar rumah.

Ditambah lingkungan yang seolah mengkondisikan perilaku bebas, teman-temannya sudah biasa bergaul dengan lawan jenis bahkan memiliki hubungan spesial. Lambat laun mempengaruhi anak yang lain, ingin mencoba seperti mereka agar terlihat gaul, supel, laku dan tidak kaku. Tanpa mereka sadari hal tersebut sudah mengundang syaithan untuk turut serta. Di sekolah pun, pendidikan agama kurang.

Selama ini pendidikan agama di sekolah hanya bisa menilai aspek kognitif, aspek aplikasi pun belum bisa dipastikan apakah anak-anak melakukannya karena ikhlas atau terpaksa. Karena aspek afektif sangat sulit untuk dinilai. Sangat disayangkan jika anak-anak mengenakan kerudung di sekolah, mengaji dan shalat terpaksa bukan karena pemahaman yang mendorong mereka melakukan ketaatan beragama.

Tentu hal ini tak lepas dari sistem yang diterapkan saat ini, dimana agama seakan dipisahkan dari kehidupan dunia. Jika ingin beragama cukup ketika shalat di mesjid, setelah itu jangan bawa-bawa agama. Sehingga tidak ada self control akidah dalam kehidupan sehari-hari ketika mereka bergaul. Apakah yang mereka lakukan sebuah keharaman yang dilarang oleh Allah sehingga berdosa.
Islam Solusi
Lalu bagaimana aborsi dalam pandangan Islam? Pertama-tama harus diketahui dulu hukum aborsi dalam fiqih Islam. Menurut kami, pendapat terkuat (rajih) adalah pendapat yang menyatakan, jika usia janin sudah berusia 40 hari, haram hukumnya melakukan aborsi pada janin tersebut. Demikianlah pendapat Imam Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya an-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam.

Dalil syar’i yang menunjukkan bahwa aborsi haram bila usia janin 40 hari atau 40 malam adalah hadits Nabi SAW berikut :
“Jika nutfah (zigote) telah lewat empat puluh dua malam [dalam riwayat lain ; empat puluh malam], maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah),’Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan ?’ Maka Allah kemudian memberi keputusan…” (HR. Muslim, dari Ibnu Mas’ud RA)

Hadits di atas menunjukkan bahwa permulaan penciptaan janin dan penampakan anggota-anggota tubuhnya, adalah setelah melewati 40 malam. Dengan demikian, penganiayaan terhadapnya adalah penganiayaan terhadap janin yang sudah mempunyai ciri-ciri sebagai manusia yang terpelihara darahnya (ma’shumud dam). Yakni maksudnya haram untuk dibunuh. Maka tindak penganiayaan terhadap janin tersebut merupakan pembunuhan terhadapnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka ibu si janin, bapaknya, ataupun dokter, diharamkan menggugurkan kandungan ibu tersebut bila kandungannya telah berumur 40 hari.

Siapa saja dari mereka yang melakukan pengguguran kandungan, berarti telah berbuat dosa dan telah melakukan tindak kriminal yang mewajibkan pembayaran diyat (tebusan) bagi janin yang gugur. Diyatnya adalah seorang budak laki-laki atau perempuan, atau sepersepuluh diyat manusia sempurna (yaitu 10 ekor onta), sebagaimana telah diterangkan dalam hadits shahih dalam masalah tersebut. Rasulullah SAW bersabda :

Rasulullah SAW memberi keputusan dalam masalah janin dari seorang perempuan Bani Lihyan yang gugur dalam keadaan mati, dengan satu ghurrah, yaitu seorang budak laki-laki atau perempuan…” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA) (Abdul Qadim Zallum, 1998).

Jika usia janin sudah berumur 120 hari (atau empat bulan), keharaman aborsi lebih tegas lagi, sebab dalam usia 120 hari tersebut, Allah SWT sudah memberikan nyawa (ruh) pada janin tersebut. Perhatikanlah dalil-dalil syar’i berikut :

Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :

“Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’ (zigote), kemudian dalam bentuk ‘alaqah’ (embrio) selama itu pula [40 hari], kemudian dalam bentuk ‘mudghah’ (fetus) selama itu pula [40 hari], kemudian ditiupkan ruh kepadanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi).

Allah SWT berfirman :

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar (menurut syara’).” (QS Al Isra`[17] : 33)

Berdasarkan dalil-dalil ini, maka aborsi juga haram pada kandungan yang bernyawa atau telah berumur 4 bulan, sebab dalam keadaan demikian berarti aborsi adalah pembunuhan yang telah diharamkan Islam.

Lain halnya jika keberadaan bayi (cacat atau tidak) mengancam jiwa si ibu, maka dalam kondisi seperti ini aborsi bayi cacat dibolehkan secara syariah (Helpsharia.com).

Dalam Islam, diatur tentang pergaulan agar sesuai dengan syariah. Hukum asal pria dan wanita dalam kehidupan umum adalah terpisah. Dibolehkan dalam hal-hal tertentu jika ada kepentingan syar’i, yaitu pendidikan, kedokteran dan muamalah. Maka warga negara dalam sistem Islam terjaga kehormatannya, penyimpangan seksual dan semisalnya akan terminimalisir begitu juga dengan aborsi. Lebih utama, penanaman akidah dari keluarga, dukungan lingkungan yang kondusif mendukung ketaatan dan sistem yang diterapkan mendorong taat dan takwa.

Maka, hanya Islam yang mampu menjaga kehormatan dan pergaulan yang sesuai sunnatullah. Jika semua berjalan sesuai sunnatullah, kerusakan di muka bumi tidak akan terjadi. Sesungguhnya segala kerusakan yang terjadi di muka bumi karena kemaksiatan yang diperbuat oleh manusia yang melanggar syariah-Nya.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar Ruum: 41).

Allahu A’lam Bi Ash Shawab