Hanya Islam yang Mampu Muliakan Perempuan


Ajeng Najwa, S.IP,
Pengusaha dan Pemerhati Sosial Politik

Healthy-sharia.com – Sekitar bulan Maret 2020 mencuat kabar terkait kecelakaan kerja seorang pegawai perempuan dari PT. Alpen Food Industry (AFI) atau Aice, dialah Elitha Tri Novianty. Ia menegaskan pada pihak Human Resource and Development (HRD) PT. Aice bahwa ia mengidap penyakit endometriosis sehingga tidak mampu mengangkat beban yg terlalu berat agar dipindahkan ke divisi yg lebih ringan. Namun menurut keterangannya, alih alih pindah divisi, Elitha justru diancam akan diberhentikan oleh perusahaan jika ia tak mau bekerja. Maka ia terpaksa melakukannya hingga pada akhirnya pun mengalami pendarahan hebat akibat bobot pekerjaannya yang berlebihan. Elitha terpaksa melakukan operasi kuret pada Februari lalu, yang berarti jaringan dari dalam rahimnya diangkat.


Setelah kasus itu muncul, barulah terdengar kasus lain terkait banyaknya pegawai perempuan di perusahaan besar yg mengalami ketidakadilan. Catatan Akhir Tahun (CATAHU) Komnas Perempuan 2019 menyebutkan sepanjang 2018 terdapat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dengan berbagai bentuk.(m.republika.com 12Maret19). Peneilitian oleh Perempuan Mahardika juga menyebutkan, sampai akhir 2018, dari 773 buruh perempuan yang berpartisipasi dalam penelitian ini, 437 di antaranya pernah mengalami pelecehan seksual, dengan rincian 106 mengalami pelecehan verbal, 79 mengalami pelecehan fisik, dan 252 mengalami keduanya (theconversation.com 18Maret20).


Sampai saat ini masih ramai disuarakan dorongan kepada perempuan untuk bekerja, agar dianggap sebagai bentuk kemandirian finansial. Perempuan yang dianggap lemah dan tidak memiliki daya tawar selalu didorong untuk mandiri finansial, dan berani berbicara sebebas apapun. Padahal kampanye ini sudah disuarakan sejak 1908. Dan permasalahan perempuan terus saja terjadi, bahkan lebih banyak. Hasilnya kekerasan terus terjadi, perceraian meningkat, kasus kenakalan remaja akibat absennya peran ibu di rumah juga semakin meningkat. Ini membuktikan bahwa solusi yg ditawarkan oleh kaum feminis jusru semakin menimbulkan masalah baru. Mereka justru menguliti fitrah perempuan. Memindahkan perempuan ke dunia yang bukan seharusnya ia geluti.


Padahal, jauh sebelum feminis muncul menyuarakan agar perempuan disamaratakan dengan laki-laki, Islam telah membuktikan bahwa aturannya sangat jelas bisa mengangkat perempuan menjadi lebih mulia. Perempuan yang bertugas sebagai Ummu Wa Robatul Bayt (Ibu dan Pengurus Rumah Tangga) ditempatkan sesuai fitrahnya yang lembut dan terlindungi. Ia tetap diperbolehkan belajar dan bekerja, asal kewajiban utamanya tidak tergerus. Tak peru takut soalan urusan ekonomi. Karena perempuan tidak pernah diwajibkan untuk menafkahi dirinya sendiri.

Perempuan akan dinafkahi oleh suami ataupun pihak lain yang secara hukum fikih wajib memberi nafkah. Kebutuhan-kebutuhan lainnya dapat dicukupi karena negara hadir bertanggungjawab penuh menjaga stabilitas harga sehingga mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat. Negara juga hadir menciptakan lapangan kerja halal yang luas sehingga tak ada lagi pengangguran. Sistem ekonomi non ribawi akan diterapkan sehingga tak ada lagi perempuan yang bekerja demi membayar hutang yang riba. Seluruh kekayaan alam akan dikelola negara untuk kemaslahatan ummat. Sehingga kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.


Pengaturan yang sempurna ini hanyak ada dalam sistem Islam. Sistem yang tanpa cela karena diatur langsung oleh Allah sebagai pencipta alam semesta. Terbukti bahwa sistem Islam yang kaffah ini telah mampu berjaya di 2/3 belahan bumi selama 1300 tahun lamanya. Sungguh tiada sistem yang mampu lebih kuat dari sistem Islam ini.
Sebagaimana contoh di zaman kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tidak ada rakyatnya yang berhak menerima zakat karena telah tercukupi. Perempuan-perempuan di dalam Islam pun dijaga sehingga dapat berperan optimal sebagai ibu pencetak generasi, intelektual peradaban, dan penyebar cahaya Islam. Contoh nyata karya Perempuan yang berhasil menciptakan peradaban adalah pendiri universitas pertama di dunia, yaitu Universitas al-Qarawiyyin. Dialah Fatimah al Fihri. Ialah simbol kuat aspirasi perempuan dan pemimpin kreatif dalam sejarah Muslim.


Didirikan pada 859 (hampir seratus tahun sebelum pendirian Al Azhar di Kairo) dan terletak di medina tua Fez, Universitas al-Qarawiyyin di Maroko diakui dalam Guinness Book of World Records sebagai lembaga tertua di dunia yang beroperasi sebagai universitas pemberi gelar akademik.

Jadi, ketika kita sudah tunduk pada Allah, maka Allah akan menghimpunkan semua urusan kita dan mengeluarkan keberkahan dari langit dan bumi. Seperti pada firmanNya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raaf: 96).


Maha suci Allah yang tidak akan pernah ingkar janji. Maka kini mulai lah kita paham, mengapa permasalahan negeri terus terjadi bahkan semakin pelik? Itu karena para pemimpin tak tunduk akan aturan Allah. Gemar membuat aturan sendiri yang sesungguhnya bersumber dari akal yang sangat terbatas.







https://healthy-sharia.com/wp-login