Gastronomi Molekuler: Mampukah Teknik Pengolahan Pangan ini Menjamin Keamanan Pangan dalam Kapitalisasi Pandemi Corona?

Rasakan Sensasi Kuliner Gastronomi Molekuler di 6 Restoran ...

Gastronomi Molekuler: Mampukah Teknik Pengolahan Pangan ini Menjamin Keamanan Pangan dalam Kapitalisasi Pandemi Corona?

Oleh: Ervan Liem

I. PENGANTAR

Gastronomi molekuler mengacu pada ilmu biologi molekuler yang meninjau bahan-bahan masakan sampai tahap molekul.

Metode ini dicirikan dalam proses memahami dan mengendalikan perubahan molekuler, fisiokimiawi dan struktural yang terjadi pada makanan tiap tahap pembuatan dan fenomena sensori saat dikonsumsi.

Bagi masyarakat yang belum mengenal teknik ini, biasanya akan meragukan nutrisi yang terkandung dalam masakan yang disajikan dengan pendekatan perhitungan fisika dan kimia tersebut.

Teknik perhitungan kimia-fisika sebenarnya memastikan takaran kandungan kimia bahan makanan dengan tepat. Unsur kimia digunakan untuk memastikan takaran dan segala sesuatunya lebih presisi, jadi lebih aman.

Kita perlu ketahui bahwa semua makanan yang kita konsumsi pada dasarnya mengandung unsur kimia. Hanya saja, karena namanya lebih umum, jadi kita tidak khawatir. Contohnya air putih memiliki unsur kimia dengan rumus H2O (hidrogen oksida).

Kekhawatiran masyarakat terhadap molekuler gastronomi lantaran beberapa zat kimia yang digunakan untuk menyajikan makanan, seperti nitrogen cair, sering disamakan dengan nitrogen untuk pengisian ban kendaraan. Liquid nitrogen memang buat isi ban tapi itu adalah NO2, sedangkan yang dipakai pada penyajian Gastronomi Molekuler adalah N2, itu rumus kimianya beda jadi reaksinya pun beda.

Karena setiap makanan memiliki unsur kimia dan tubuh manusia memiliki batas maksimal menerima asupun kimia tertentu, maka setiap makanan yang dikonsumsi tidak boleh berlebihan, termasuk vitamin yang dinilai memberi manfaat kesehatan bagi tubuh.

Misalnya, untuk hidangan berbahan kopi, tentu telah ada takaran khusus berapa gram kafein yang terkandung per sajian.
Nah, disinilah peran Chef Gastronomi Molekuler sangat diperlukan.

Jika ada konsumen bilang, ‘Enak nih sensasi kopinya, saya mau makan sampai 20 porsi,’ tentu tugas Chef melarangnya karena kandungan kafein maksimal manusia itu 200 mg, sama dengan satu butir obat diet atau setara 4 cangkir kopi.

Jadi disinilah para ahli kimia terapan itu sangat dibutuhkan ilmunya, karena merekalah yang paham dan mengerti atas perubahan reaksi pada bahan makanan. Hal ini pula yang menjadi inisiasi penulis untuk mengangkat Gastronomi Molekuler agar bisa diterapkan guna memastikan Masyarakat yang sedang berperang melawan wabah pandemi ini agar menerima kebutuhan pangannya secara layak dan benar sesuai takaran dan pertimbangan para ahli.

Pada tataran yang benar maka salah satu seni dalam dunia makanan tersebut tentu akan memiliki dampak yang baik jika diterapkan dalam upaya perlindungan terhadap laju ekonomi, kesehatan maupun hak-hak konsumen yang lainnya. Apalagi dalam kondisi negeri yang sedang diliputi wabah pandemi, tatkala sebagian besar rakyat dihantui perasaan was-was terhadap keamanan kebutuhan pangan mereka, maka sudah selayaknya pemerintah bisa dan mau mengembangkan Gastronomi Molekuler demi menjamin kesehatan dan menghentikan penyebaran wabah pandemi.

Namun menengok tujuan dan framing yang dibentuk oleh para pemangku kebijakan di negeri ini mengenai Gastronomi, maka kuat dugaan bahwa salah satu kekayaan budaya tersebut hendak digiring dan diarahkan menuju kapitalisasi.

Kekayaan budaya yang harusnya bisa digunakan untuk memperkuat jaminan kesehatan dan kemaslahatan rakyat, namun seringkali dikelola untuk tujuan pribadi dan golongan belaka. Walhasil adanya pengembangan sektor wisata Gastronomi lokal dalam negeri tidak lain hanyalah untuk tujuan bisnis dan terkesan masih jauh dari fungsi yang sesungguhnya.

II. PERMASALAHAN

Untuk mencandra uraian singkat diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

(1) Mengapa Gastronomi Molekuler hanya digaungkan untuk kebutuhan bisnis belaka?

(2) Bagaimana dampak Gastronomi Molekuler terhadap perkembangan wabah pandemi jika dikelola secara liberal?

(3) Bagaimana strategi agar perkembangan Gastronomi Molekuler menjadi salah satu solusi atas merebaknya wabah pandemi?

III. PEMBAHASAN

A. Gastronomi Molekuler Dicanangkan Untuk Kepentingan Bisnis.

Perkembangan dunia wisata ditanah air beberapa waktu ini memang sempat mengalami penghentian, hal ini disebabkan oleh semakin merebaknya wabah virus yang semakin masif masuk ke seluruh pelosok negeri. Namun di era yang semakin terbuka dengan media elektronik dan sosialnya ini tentu banyak hal yang bisa kita simak dengan cermat mengenai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, salah satunya adalah promosi besar-besaran terhadap wisatawan asing yang mau berkunjung ke Indonesia.

Dikutip dari laman berita Antara, Kamis,14 Mei 2020, VITO (Visit Indonesia Tourism Officer) tersebar di 16 negara di dunia.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nia Niscaya menyatakan, pihaknya mengupayakan berbagai hal agar sektor pariwisata bisa tetap bergerak di masa-masa sulit seperti ini.

Hal ini membuktikan bahwa dalam kondisi daruratpun, negara masih sibuk mengurusi sesuatu yang bukan menjadi kebutuhan utama bagi rakyatnya. Hal inilah yang kemudian pula bisa dinilai oleh banyak orang sebagai upaya kurang serius oleh pemerintah dalam menangani wabah.

Budaya gotong-royong yang sering digaungkan terkesan belum terlaksana sebagaimana semestinya. Tentu kita semua pun juga tak ingin jika semboyan tersebut diartikan dan digunakan untuk kepentingan golongan tertentu dengan misi gotong-royong meruntuhkan negara, Semoga tidak begitu.

Nah, sekarang apa kaitannya dunia pariwisata dengan Gastronomi Molekuler?

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa sangat erat kaitannya antara dunia pariwisata dengan dunia kuliner, karna hal tersebut memang satu kesatuan dalam sebuah perjalanan. Beberapa tahun terakhir ini saja, dinas pariwisata telah mempersiapkan Ubud (Bali) sebagai prototipe Wisata Gastronomi Dunia.

Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO), menyebut bahwa wisata gastronomi adalah sebuah perjalanan yang berhubungan dengan makanan ke suatu daerah dengan tujuan rekreasi. Ketua team Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar, Vita Datau menjelaskan bahwa Ubud memiliki beragam makanan yang memiliki cita rasa khas, yang tak terlepas dari budaya mereka yang sangat kental.

“Kalau bicara gastronomi, local wisdom, otenticity, itu harus digarisbawahi. Jadi kalau bicara Ubud, kita akan bicara makanan-makanan yang ada di situ dengan culture-nya,” katanya usai jumpa pers Ubud & Gianyar UNWTO Prototype Gastronomi Destination di Jakarta, Selasa, 11 Juni 20019.

Beberapa makanan itu, di antaranya sambal matah, bebek garing, bumbu base genep, lawar. Selain itu, beraneka ragam makanan yang disajikan saat upacara adat. ‘Di mana-mana kita susah mendapatkan makanan dan ritual (seperti) itu agak sulit. Itu salah satu kekuatan kita, sehingga mereka langsung jatuh cinta,’ ujarnya.

Vita mengatakan, pihaknya melihat potensi yang besar di Indonesia dengan aset gastronomi yang sangat luar biasa terutama keberagaman budaya dan bahan pangan lokal, yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

“Program ini adalah satu dari strategi pengembangan wisata kuliner Kemenpar, yakni menaikkan popularitas destinasi kuliner yang lebih dikenal dunia sebagai destinasi gastronomi ke standar internasional,” ujarnya.

Jika semua proses dilakukan dengan benar, maka Ubud dapat dinyatakan sebagai destinasi gastronomi prototipe UNWTO, yang telah sesuai dengan gastronomy destination development guideline UNWTO.

“Diharapkan program ini akan selesai secepatnya dan Ubud menjadi prototype gastronomy holistik pertama di Indonesia dan dunia,” ucapnya.

Sementara itu, Tim UNWTO diwakili oleh Aditya Amaranggana sebagai Project Specialist mengatakan, pihaknya mengapresiasi Indonesia akhirnya berhasil terpilih sebagai destinasi prototipe untuk wisata gastronomi.

“Kami salut dengan kerja sama yang terjalin sejak 2017 hingga mencapai tahap ini. Tiga hal yang penting program ini bahwa satu fokus UNWTO 2019 adalah SDG’s, kedua program ini bisa membantu pencapaian SDG’s 2030 karena gastronomi adalah sebuah ekosistem hulu ke hilir yang menyentuh banyak poin di SDG’s,” kata Aditya. (dikutip dari LamanBerita).

Dari beberapa kebijakan yang pernah diprogramkan, sangat kental sekali kesan bahwa program kepariwisataan ini sengaja ditujukan untuk mengokohkan kapitalisasi dan nampak dijadikan sasaran empuk oleh para pemilik modal sebagai lahan bisnis yang subur. Gastronomi Molekuler yang harusnya dipergunakan untuk memperbaiki sistem penyajian makanan agar lebih memberikan tingkat keamanan bagi para konsumenpun, nyaris hanya berfungsi sebagai alat penggaet wisatawan, demi menguntungkan para pemilik modal.

Dilihat dari manapun, para kapitalis dengan modal yang besar telah melibas pebisnis lokal di daerah sekitaran pariwisata. Dengan kemampuan ilmu bisnis dan modal yang tipis, mereka terhempas dari persaingan. Mereka harus puas dengan hanya menjadi penjual asongan, pedagang kaki lima dan pegawai yang gajinya tak seberapa. Tuan tanah pun harus rela kehilangan tanahnya dengan harga yang tak pantas.

Inikah yang namanya untuk rakyat?

B. Dampak Pengelolaan Gastronomi Molekuler Secara Liberal Memperburuk Perkembangan Wabah Pandemi

Gastronomi Molekuler yang termasuk dalam cakupan Wisata Gastronomi dalam dunia pariwisata saat ini memang belum banyak dikenal oleh masyarakat secara umum, namun bagi para pagiat wisata tentu hal tersebut sudah sangat familiar.

Fungsi dari Gastronomi Molekuler pada hakikatnya adalah memberikan sebuah pengalaman dan sensasi baru, ketika sebuah hidangan familiar di-rekonstruksi ulang sehingga menjadi pengalaman emosional dan sensorik yang mengejutkan dengan memodifikasi bentuk. Selain itu, ditilik dari proses dan teknik dalam tiap proses perbuatannya maka faktor kehigienisan dan keamanan menjadi hal yang diutamakan, memang proses tersebut melibatkan reaksi kimiawi, namun sama sekali bukanlah mencampuradukkannya dengan bahan kimia yang berbahaya.

Hal inilah yang kemudian menjadi alasan bagi penulis untuk mengenalkan Gastronomi Molekuler ini. Terlebih di masa pandemi ini, rakyat luas sangat membutuhkan jaminan keamanan bagi bahan pangan pokok. Bukan maksudnya menginginkan sebuah seni kuliner tingkat tinggi dalam pembahasan ini, namun perlakuan terhadap bahan pangan yang selama ini bisa dinilai meragukan rakyat sebagai konsumen, harapannya tidak akan terjadi.

Perlu disadari kondisi bencana wabah saat ini masih ada dan vaksin belum ditemukan. Perilaku masyarakat terhadap protokol keselamatan dan kesehatan hanya membuat penyebaran wabah melambat (meskipun kenyataan dilapangan, masyarakat cenderung meremehkan).

Terkait bisnis makanan (kuliner) di Indonesia, sektor yang menyerap banyak lapangan kerja, awalnya ikut terpengaruh dan terkena imbasnya serta sangat terpukul akibat pandemi yang sulit diprediksi kapan akan berakhir. Semula sektor makanan (kuliner) diperkirakan akan mendapatkan pukulan paling parah sehingga mempengaruhi sektor penyokong lainnya, seperti pertanian, perikanan, peternakan, pasar pangan, jasa delivery dan jasa lainnya yang terkait.

Terlihat ada sekian banyak restoran, cafe, rumah makan dan jajan jalanan tutup atau terpaksa berhenti operasionalnya dan ada ratusan ribu pekerja dirumahkan atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja.

Namun sejak 3 (tiga) bulan terakhir, untuk sektor kuliner ada secercah harapan pemulihan (rebound back) dengan meningkatnya pesan-antar (online), walaupun nilai penjualannya turun.

Kedepan model pembelian pesan-antar (online) akan lebih cocok dan efisien akibat konsumen menghindari eating out dan beralih ke layanan delivery. Inilah yang bagi banyak orang disebut sebagai virtual cuisine menggantikan physical culinary yang konvensional.

Kebutuhan pokok mengenai pangan ini, tentu tidak akan ditinggalkan oleh masyarakat. Hal ini menjadikan sebuah dilema untuk kebanyakan orang, karena jika kurang berhati-hati maka justru malah memperparah penyebaran wabah. Gastronomi kuliner bisa saja membuka peluang bagi penyebaran wabah dan itu sangat besar kemungkinannya.

Wisata Gastronomi di tiap-tiap wilayah akan menuntut sebuah kerumunan masa dan masa tersebut bukanlah hanya terdiri dari penduduk sekitar saja, namun variatif dari berbagai daerah serta mancanegara. Jika pemerintah tetap dalam misinya untuk mengijinkan para wisatawan datang ke objek-objek wisata dengan alasan kepentingan ekonomi rakyat, maka dapat dipastikan akan memunculkan masalah baru yakni kesulitan memutus rantai wabah, dampaknya akan membahayakan nyawa rakyat.

Belum lagi mengenai pengelolaan pasar sebagai penyedia bahan baku kebutuhan Gastronomi yang sangat rentan menjadi cluster baru bagi berkembangnya virus. Seperti yang tengah terjadi hari ini di Jawa Timur, bahwa akibat penanganan pandemi yang dilonggarkan oleh pemerintah maka semakin merebaklah bencana wabah ini. Maksud hati ingin menata kehidupan baru tapi justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika bencana wabah ini semakin meluas maka tumpuan masyarakat terhadap kebutuhan pangannya akan banyak mengandalkan transaksi secara Online, delivery Order. Hal ini jika pengelolaan dan perhatian pemerintah tidak bagus maka dampaknya akan semakin membahayakan rakyat.

Wisata Gastronomi memang bisa menarik para wisatawan untuk mengunjungi objek wisata tersebut karna disisi lain masyarakat sudah sangat bosan membekukan aktivitas dirinya didalam rumah, namun hal itu justru akan menambah masalah. Alih-alih menyelamatkan ekonomi rakyat, dibukanya tempat wisata Gastronomi ini justru semakin menggerus keselamatan rakyat.

C. Strategi Agar Gastronomi Molekuler Dapat Berperan Maksimal Dalam Memutus Perkembangan Wabah Pandemi

Gastronomi Molekuler akan benar-benar berfungsi peranannya jika diterapkan dengan cara Islam, tidak hanya menyajikan makanan dengan sensasi yang berbeda tapi membentuk dan menentukan komposisi bahan yang baik dan halal dengan tingkat teliti hingga ke molekul-molekulnya.

Sedangkan dimasa pandemi ini, pengusaha dan seorang ahli dibidang Gastronomi yang memiliki pemahaman hidup yang benar akan membentuk terobosan baru, tidak hanya memikirkan untung rugi namun faktor keamanan juga adalah menjadi prioritas. Salah satu goresan tinta pengukir peradaban Islam telah menjelaskan kepada seluruh dunia, tentang seorang ahli Gastronomi muslim yang tidak lagi diragukan kemampuannya, berikut adalah kisahnya:

Dalam masa Khilafah, ada satu sosok Chef yang patut disebut karena jasanya dalam bidang kuliner, ia adalah Ibnu Sayyar al-Warraq (wafat pada tahun 961 M), seorang juru masak yang sangat populer di ibu kota pemerintahan Islam, Baghdad. Ia berjasa mengembangkan seni kuliner khas Timur Tengah. Dan membukukan resep-resep hasil kreasinya dalam sebuah buku berjudul Kitab at-Tabikh wa Islah al-Aqhdiyah al-Ma’kulat.

Buku ini menuai pujian dari banyak kalangan, khususnya sejarawan dan juru masak di seluruh dunia. Dari teks klasik inilah, diketahui kekayaan tradisi kuliner di tengah masyarakat Arab Muslim. Geliat tradisi kuliner ini juga mempunyai keterkaitan erat dengan bidang sains dan ilmu pengetahuan saat itu.

Buku yang ditulis pada 950 M ini merangkum resep dan menu masakan dari sejumlah juru masak terkenal atau masakan kesukaan para khalifah, mulai abad ke-9 hingga ke-10 M. Dalam bukunya, ia pun mengenalkan adab di meja makan serta mempersiapkan jamuan dan perlengkapan dapur. Aneka masakan dan minuman dibahas secara spesifik. Dari menu daging panggang, kue, telur, sayuran, saus, pasta, gorengan, puding, minuman panas, susu, hingga buah-buahan. Begitu pula bagian yang khusus mengupas bumbu, bahan masakan, aroma masakan, dan teknik memasak.

Satu hal penting yang ditekankan Ibnu Sayyar dalam bukunya tersebut adalah setiap masakan yang dibuat harus sesuai dengan kriteria sebagai makanan yang sehat dan halal serta sesuai tuntunan agama Islam. Ia juga mempertemukan kuliner dengan sains. Pada saat itu, para juru masak Muslim telah menyadari pentingnya menyajikan masakan yang sehat, tahap penyajiannya sangat teliti dari sisi bahan maupun filosofinya dalam pandangan Islam, dalam istilah sekarang bisa disebut sebagai Gastronomi Molekuler.

Mereka benar-benar menjaga kualitas kandungan gizi masakan. Ibnu Sayyar mengatakan, sebelum memasak, hendaknya memperhatikan perkataan para ahli gizi dan kesehatan. Hal ini dilakukan agar masakan yang kelak dihidangkan mengandung nilai gizi tinggi. Di samping itu, hal yang harus dipenuhi adalah jaminan kehalalan bahan masakan yang digunakan.

Penerjemah Kitab at-Tabikh, Nawal Nasrallah, mengatakan, manuskrip ini merupakan kitab resep masakan paling komprehensif. Dalam buku setebal 455 halaman itu, terdapat sekitar 600 resep masakan. Menurut dia, deretan resep tersebut menjadi bukti kegemilangan tradisi kuliner di dunia Islam. Ibnu Sayyar juga menuliskan gambaran kondisi di Baghdad, kota yang menjadi pusat pemerintahan saat itu, menjadi sebuah pusat kuliner yang besar. Berbagai masakan, bumbu dan bahan masakan tersedia setiap saat secara berlimpah, sering kali Baghdad menjelma sebagai pusat makanan dunia.

Buku Ibnu Sayyar tersebut merupakan buku resep masakan tertua yang berhasil ditemukan. Manuskrip itu dinilai sebagai sumber sejarah yang sangat berharga. Sebab, buku Ibnu Sayyar tak hanya bermanfaat untuk mengetahui warisan kuliner umat Islam. Melalui buku ini, diketahui pula kondisi sosial ekonomi masyarakat pada era itu, demikian uraian sejarawan Barat, Peter Heine. Pujian lainnya ditulis dalam jurnal sains Gastronomica. Jurnal ini menyebut bahwa Ibnu Sayyar berhasil menjelaskan secara terperinci mengenai aspek masakan pada masa kekhalifahan. Mulai dari perspektif budaya, bahasa, sejarah, sampai medis. Sangat detail sekali sehingga hal tersebut dapat diterjemahkan dimasa sekarang dengan Gastronomi Islam.

Jeanine Young-Mason dalam jurnal Nursing and the Arts mengatakan, buku Ibnu Sayyar juga melestarikan konsep makanan sebagai penyembuh. Buku luar biasa ini diterbitkan dalam versi aslinya dan dimuat di Studia Orientalia Volume 60 dengan editor Kaj Ohrnberg dan Sahban Mroueh. Charles Perry dari Universitas Princeton menerjemahkan beberapa bab buku itu ke dalam bahasa Inggris pada 1980-an. Menurut dia, keseluruhan karya ini terdiri atas tiga manuskrip.

Hidangan sayuran menjadi favorit. Para ahli gizi dan dokter Muslim sangat menganjurkan masyarakat Muslim mengonsumsi sayuran karena kaya gizi dan vitamin. Salah satunya adalah wortel. Ibnu Sayyar memperhatikan anjuran para pakar gizi dan kesehatan itu. Ia menyajikan sejumlah menu masakan dari bahan wortel. Kitab at-Tabikh yang ditulisnya memberikan referensi khusus mengenai wortel, dari jenisnya, resep masakan dari wortel dan aneka sup. Wortel tumbuh di sejumlah wilayah di negeri-negeri Islam. Jenisnya pun beragam, ada wortel merah yang mengandung banyak air, manis dan dagingnya lembut. Wortel kuning, juga banyak ditemukan. Berbeda dengan wortel merah, wortel jenis ini dagingnya tipis, namun manis rasanya. Terdapat pula wortel putih yang rasanya manis, buahnya besar, dan lezat dijadikan beragam masakan.    

Ibnu Sayyar menjelaskan, wortel memiliki kandungan serat yang berlimpah sehingga sangat baik untuk pencernaan. Akan lebih baik apabila dimakan langsung atau dimasak setengah matang, agar zat-zat gizinya tidak hilang.

Pada masa kekhalifahan Islam, resep masakan berbahan wortel sangat variatif, misalnya puding wortel. Menurut Ibnu Sayyar, tidak sulit untuk membuatnya. Langkah pertama, memilih wortel yang lembut dan manis. Setelah dicuci hingga bersih, dipotong tipis-tipis, kemudian giling hingga lembut, lantas campurkan dengan beberapa sendok madu. Tambahkan dengan sedikit minyak kacang. Masukkan seluruh bahan tadi dalam wajan, dan dimasak hingga mendidih. Biarkan beberapa saat sampai mengental, setelah agak dingin barulah puding wortel siap dinikmati sebagai sajian yang lezat serta menyehatkan. Jus wortel juga banyak digemari karena rasanya yang segar. Minuman ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata, juga memperkuat fungsi ginjal. Wortel yang sudah diiris-iris digiling, selanjutnya diperas untuk diambil airnya. Air perasan dapat dicampur madu atau gula, dan diminum. Inilah di antara resep istimewa yang dibuat Ibnu Sayyar.

Dari kisah Ibnu Sayyar al-Warraq tersebut, yang telah memahami dunia perkulineran serta Gastronomi Molekuler (istilah sekarang), maka didapatkan pelajaran bahwa konsep Gastronomi Molekuler sesungguhnya sudah mampu dikembangkan dengan cara-cara yang Islami, tentu saja jika hal tersebut diterapkan oleh setiap pelaku usaha dimasa kini terlebih di saat adanya wabah pandemi, maka akan mampu berperan dalam memutus rantai penularan wabah.

Hal tersebut tentunya juga harus didukung dengan peran pemerintah. Negara harus mampu mengeluarkan kebijakan yang tidak kontra dengan semangat rakyat dalam berupaya memutus rantai wabah dan hal tersebut telah dicontohkan dalam negara Islam, seahli-ahlinya pakar Gastronomi jika tidak didukung oleh kebijakan negara yang benar maka semua itu tidak akan ada artinya.

Di dalam dunia Islam setiap kebijakan yang diambil oleh pemimpin pasti akan mengacu kepada hukum Syariat Islam, sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih yang tidak jelas atas kebijakan yang dikeluarkan.

IV. PENUTUP

Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Gastronomi Molekuler yang harusnya dipergunakan untuk memperbaiki sistem penyajian makanan agar lebih memberikan tingkat keamanan bagi para konsumen, saat ini nyaris hanya berfungsi sebagai alat penggaet wisatawan, demi menguntungkan para pemilik modal, ini adalah efek dari sistem kapitalisme yang mencekam negeri ini.
  2. Dampak rusaknya pengelolaan Wisata Gastronomi di masa pandemi akan menyebabkan semakin meningkatnya korban wabah, kalaupun hal tersebut dipaksakan tetap berjalan dengan alasan ekonomi maka akan menimbulkan masalah baru yang semakin tak terkendali. Alih-alih menyelamatkan pertumbuhan ekonomi, justru hal tersebut menjadi pemicu musnahnya jiwa manusia.
  3. Gastronomi Molekuler yang mengikuti pandangan Islam, akan mampu membentuk suatu sistem tataniaga pangan yang aman dimasa pandemi, hal ini didasari karena dalam setiap proses pembuatan dan penyajiannya memperhatikan struktur bahan dengan detail dan terperinci, baik ditinjau dari segi bahan, faktor halal-haram hingga filosofinya yang dinilai dari sudut pandang Islam.

Adapun dalam proses pengiriman (delivery) dari pihak produsen ke konsumen maka tetap membutuhkan kesinambungan regulasi dari negara, untuk mengeluarkan aturan khusus mengenai protokol keselamatan dan kesehatan serta keamanan (jaminan) terhadap berlangsungnya proses pendistribusian.