Filipina Sah kan Hari Hijab Nasional, Bagaimana dengan Indonesia?

Filipina Sah kan Hari Hijab Nasional, Bagaimana dengan Indonesia?

Oleh : Septa Yunis (Analis Muslimah Voice)

Healthy-sharia.com- Tanggal 1 Februari diperingati sebagai Hari Hijab Sedunia. Acara tahunan ini dipelopori oleh Nazmaa Khan. Pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013. Kegiatan ini bertujuan untuk menghilangkan diskriminasi yang sering diterima oleh perempuan muslim karena hijabnya dan mengajak perempuan yang belum atau tidak memakai hijab untuk merasakan pengalaman sehari menggunakan hijab.

Event ini mendapat dukungan dari beberapa negara di Amerika dan Eropa, dan sebagian negara Asia. Tahun ini, Filipina mengesankan RUU Peringatan Hijab Day. Dilansir dari Kompas.com (1/2/2021), DPR Filipina menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang mengusulkan setiap 1 Februari diperingati sebagai Hari Hijab Nasional.


Langkah tersebut dimaksudkan Filipina untuk mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap Muslim serta meningkatkan toleransi terhadap agama lain di seluruh negeri.
Dengan suara bulat, DPR Filipina menyetujui RUU tersebut pada Selasa (26/1/2021) karena 203 anggota parlemen memberikan suara mendukung RUU itu.

Ini adalah langkah berani yang diambil pemerintah Filipina, mengingat Filipina adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Menurut Wikipedia, Sekitar 92% penduduknya adalah Kristen: sekitar 81% menganut Gereja Katolik Roma sementara sekitar 11% menganut denominasi-denominasi Kristen Protestan, seperti Gereja Adventis Hari Ketujuh, Gereja Serikat Yesus di Filipina dan Evangelikal. Lantas, apa kabar dengan Indonesia?

Negeri ini masih malu-malu menampakkan identitas ke-Islamannya, padahal yang kita tahu bersama, mayoritas penduduk Indonesia penganut agama yang dibawa Rasulullah saw ini. Namun, sekedar memperingati World Hijab Day saja masih enggan. Masih jauh panggang dari api hari hijab diperingati, di negeri ini jilbab masih sering dipermasalahkan. Bahkan yang berhijab sesuai syariat masih sering dilabeli radikal.

Yang terbaru kasus di SMKN 2 Padang. Peraturan mengenai hijab dipermasalahkan, sampai menjadi isu nasional. Sungguh Ironi ketika negara mayoritas Islam selalu mempermasalahkan hijab. Bahkan ada yang berpendapat jika jilbab tidak wajib bagi muslimah. jilbab adalah pakaian wajib bagi muslimah.

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan jUmhur ulama mengenai apa itu jilbab. Dan hal ini membantah siapa pun yang mengatakan jilbab tidak wajib bagi muslimah. Mereka mengatakan menutup aurat itu wajib, namun memakai jilbab itu tidak wajib.

Indonesia sudah menunjukkan keliberalisasiannya. Negeri ini berusaha menganaktirikan bahkan mengaburkan ajaran Islam, salah satunya adalah jilbab dengan mengatasnamakan kearifan lokal atau bukan budaya Indonesia. Dengan memakai jilbab, merusak budaya Indonesia. Padahal seharusnya, budaya yang menyesuaikan ajaran Islam. Ibaratnya, kayu dan penggaris, jika kayunya tidak cocok, bukan penggaris yang mengikuti kayu, namun kayu yang harus mengikuti penggaris, logis kan.

Keadaan ini menjadi PR besar untuk kita semua untuk berlepas diri dari liberalisasi yang saat ini gencar disuarakan. Kembali kepada aturan yang memberikan kemaslahatan untuk umat, aturan yang datang dari Sang Pencipta yaitu Islam. Aturan Islam hanya akan ada di negara yang bersistem Khilafah.

Dengan demikian, kita harus berusaha keras untuk mewujudkan tegaknya kembali Khilafah. Karena itu adalah solusi mengatasi liberalisasi ajaran Islam.[]