Bukan Sekadar Fenomena Alam

down angle photography of red clouds and blue sky

Bukan Sekadar Fenomena Alam

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

Healthy-sharia.com – Allah Swt. berfirman: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (TQS. asy Syura: 30)

Kapitalisme Eksploitatif

Masih seperti tahun lalu, awal tahun ini banyak musibah yang menimpa negeri ini. Jika tahun lalu musibah banjir parah di Jabodetabek dan Anyer-Banten. Tahun ini banjir besar terjadi di Kalimantan Selatan. Bahkan menurut Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono banjir tahun ini terparah dalam sejarah. Penyebabnya menurut Walhi bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya ekologi di tanah Borneo (Suara.com, 15/1/21).

Tidak hanya banjir yang melanda, gempa pun melanda daerah Mamuju, Majene Sulawesi Barat. Sudah terjadi 39 kali gempa dengan beragam kekuatan, korban meninggal gempa Mamuju 56 orang dan ratusan luka-luka menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (tempo.co, 17/1/21). Terbaru, gempa terjadi tadi malam (21/1) di Sulawesi Utara.

Sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah pada laporan 2020. Hal ini menunjukkan daya tampung dan daya dukung lingkungan di Kalsel dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Walhi sudah sering mengingatkan, bahwa dari total luas wilayah 3,7 juta hektar hampir 50 persen sudah dibebani izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.

Maka, wajar jika terjadi banjir yang begitu besar karena ternyata daya tampung, daya dukung dan daya serap tanah di Kalimantan Selatan sudah tidak memungkinkan jika terjadi curah hujan yang sangat tinggi berhari-hari. Akibat ulah manusia yang begitu rakus mengeksploitasi alam yang sudah Allah beri secara gratis. Hal ini tak lepas dari sistem yang diterapkan saat ini yaitu kapitalisme, dimana materialisme menjadi ruhnya untuk menghalalkan segala cara agar mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Tahun kesedihan, pandemi yang belum berakhir dan seluruh permasalahan negeri ditambah banjir dan gempa. Selain itu, negeri ini ditinggalkan para ulama bersahaja dambaat umat, Allah dan Rasul-Nya. Sementara wafatnya ulama merupakan musibah pula bagi kaum muslim dan negeri ini. Betapa tidak, ulama adalah pewaris para nabi, hamba yang paling takut kepada Allah dan pelita bagi umat di tengah kegelapan yang melanda.

Sebagai muslim, apapun yang yang terjadi harus yakin bahwa itu adalah ketetapan Allah. Setiap ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk hamba-Nya, seburuk apapun dalam pandangan manusia yang lemah dan terbatas. Tugas seorang muslim hanya beriman pada ketetapan Allah, sikap yang harus diambil adalah sabar dan ridha terhadap ketetapan-Nya (QS. at Taubah: 51).

Lalu, ambil hikmah di balik semua kejadian atau musibah yang terjadi. Mengapa semuanya bisa terjadi, bukankah Allah yang menciptakan alam semesta beserta isinya sudah tepat porsinya. Berarti jika ada kerusakan, maka ada yang salah dari manusia dalam mengelola alam semesta ini. Bukan lantas menyalahkan Allah dengan mengatakan musibah banjir yang terjadi karena curah hujan terlalu tinggi.

Tidak ada asap jiku tidak ada api, tidak akan terjadi banjir jika tidak ada penyebabnya. Maka penyebab ini yang harus dicari, lalu bagaimana menanganinya. Berdasarkan firman Allah Swt.:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (TQS. asy Syura: 30)

Bahwa segala yang terjadi berupa musibah, kerusakan akibat perbuatan manusia itu sendiri. Hal ini senada dengan FirmanNya dalam Quran surah ar-Ruum ayat 41, kerusakan yang terjadi di darat dan di lautan karena ulah manusia. Allah sudah menciptakan porsinya masing-masing, daratan, lautan dan udara.
Islam Membawa Keberkahan dan Kesejahteraan

Permasalahan yang sistemik, solusinya tak ada lain harus sistemik pula. Mengganti aturan main di negeri ini agar sesuai dengan aturan main yang Allah perintahkan. Jika ingin alam semesta ini kembali normal dan seimbang seperti semula.

Dalam syariat Islam, SDA yang jumlahnya besar tidak boleh diserahkan kepemilikannya kepada individu. Individu yang mengelolanya wajib diperlakukan sebagai ajir (pekerja), bukan mudhorib (pengelola dalam suatu akad syirkah). Sebagai ajir, dia mendapat upah yang sesuai dengan tenaga profesional yang dikeluarkannya, bukan sesuai dengan hasilnya karena “hasil usaha SDA” hakekatnya adalah milik publik. Hutan, laut, sumber daya mineral, energi -bahkan keindahan alam, hakekatnya adalah milik publik, hasil setiap eksploitasi komersial nya seharusnya dikembalikan untuk kemaslahatan umum.

Dalam sebuah riwayat, Ibnu al-Mutawakkil bin Abdi al-Madan berkata, dari Abyadh bin Hamal, bahwa dia pernah datang menemui Rasulullah saw. dan meminta diberi tambang garam—Ibnu al-Mutawakkil berkata—yang ada di Ma’rib. Lalu Rasul saw. memberikan tambang itu kepada Abyadh. Ketika Abyadh pergi, salah seorang laki-laki dari majelis berkata, “Apakah Anda tahu apa yang Anda berikan kepada dia? Tidak lain Anda memberi dia air yang terus mengalir.” Dia (Ibnu al-Mutawakkil) berkata: Lalu beliau menarik kembali tambang itu dari dia (Abyadh bin Hamal) (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Hibban, al-Baihaqi dan ath-Thabarani. Redaksi menurut Abu Dawud).

Hadis ini menunjukkan, bahwa ketika barang tambang bagai air yang terus mengalir tidak boleh dimiliki oleh individu tapi negara yang akan mengelolanya. “Dari Ibnu Abbas RA berkata sesungguhnya Nabi saw bersabda; orang muslim berserikat dalam tiga hal yaitu; air, rumput (pohon), api (bahan bakar), dan harganya haram. Abu Said berkata: maksudnya: air yang mengalir.” (HR Ibnu Majah).

Air, api dan padang gembalaan adalah sumber penghidupan bagi suatu masyarakat, yang apabila tidak tersedia, pasti mereka tercerai berai, oleh karena itu ketiganya harus menjadi milik publik. Untuk konteks modern, air adalah sumber air utama, misalnya yang mensupply PDAM. Api adalah sumber energi. Bila energi ini berasal dari migas, maka sumur migas nya adalah milik publik. Sedang padang gembalaan yaitu lahan hayati yang besar seperti hutan, jadi hutan juga milik publik.

Negara akan berperan sebagai wakil masyarakat ketika mengelola SDA ini. Bagaimanapun negara harus bertindak ketika mekanisme pasar yang sebenarnya tidak dapat lagi diharapkan, yaitu: Melindungi keselamatan umum dan melindungi kelestarian lingkungan. Jika bumi ini dikelola dengan baik, maka kerusakan akan terminimalisir termasuk bencana banjir. Jikapun tetap terjadi, negara akan segera menanganinya membantu korban bencana, mencari penyebabnya dan pembenahan sektor hulu dan hilir. Tidak serumit seperti saat ini, karena yang terjadi adanya eksploitasi.

Untuk menjalankan semua ini butuh sebuah institusi negara, karena negara yang memiliki wewenang dan kebijakan menerapkan aturan. Tentu bukan sembarang negara, negara yang menerapkan aturan Allah secara kaafah. Jadi, hanya keberkahan dan kesejahteraan yang dirasakan ketika aturah Allah diterapkan di muka bumi.

Allahu A’lam bi ash Shawab.[]