Buah Demokrasi : Anak Jadi Sasaran Depresi

wood bridge cute sitting

Buah Demokrasi : Anak Jadi Sasaran Depresi


Oleh: Tri Wahyuni Purbawati (Aktivis Dakwah)

Healthy-sharia.com – Memasuki 10 bulan pandemi Covid19 di Indonesia, pembelajaran daring masih tetap diberlakukan. Melihat kasus Covid19 belum juga mereda, menteri pendidikan dan kebudayaan pun tak berani mengambil keputusan untuk tetap masuk, kecuali wilayah tersebut benar-benar mamasuki zona hijau.


Tidak tahu sampai kapan pembelajaran daring akan berakhir, tapi kondisi dunia pendidikan semakin mengkhawatirkan. Semakin lama belajar dirumah, semakin membuat orangtua makin gelisah. Sudah cukup lama pembelajaran daring dilakukan, tapi hingga saat ini kendala di lapangan masih belum mendapatkan solusi yang tepat. Fasilitas yang menjadi point penting selama daring nampak tak optimal. Biaya besar dikeluarkan untuk menunjang pembelajaran. Hal ini sebagian menjadi pemicu orang tua bingung atau stress dengan kebutuhan pendidikan anaknya sehingga anak menjadi taruhannya dan sasaran kemarahannya.


Sistem pembelajaran daring ternyata justru memicu sejumlah masalah baru. Kini Indonesia kembali disapa dengan masalah pembunuhan anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri (KompasTV.com, September 2020). Motif pembunuhan ini disebabkan orangtua kesal karena anak perempuannya tak mengerti saat belajar daring, bahkan orangtua tak mampu mendampingi proses belajar dirumah. Entah apa yang merasuki sang Ibu, nyawa anak pun melayang akibat tindakannya.
Dunia semakin kesini semakin terasa mencekam dan memprihatinkan. Sistem yang diterapkan tak pernah berhasil merealisasikan tujuan pendidikan. Output pendidikan sebagai generasi idaman tak tercapai. Ditambah orang tua dibebani biaya selangit untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Sistem hanya membuat orang tua mengejar materi demi memenuhi kebutuhan financial anak tanpa mengiringi perkembangannya. Negara justru mengembalikan permasalahan anak pada keluarganya. Padahal negara yang mempunyai wewenang untuk mewujudkan generasi yang berakhlak. Betapa menyedihkan potret sistem demokrasi kapitalisme ini.


Tak dapat dipungkiri lagi bahwa pandemi ini semakin membuka kegagalan negara dalam menangani permasalahan anak. Program daring yang pemerintah buat bukanlah solusi ideal. Terbukti dengan banyaknya kasus pembunuhan orangtua pada anak akibat daring. Ini semua terjadi karena ketidakjelasan dan ketidaktegasan pemerintah dalam pengaturan pendidikan khususnya daring.


Baik anak, guru dan orangtua akan menjadi korban dari penerapan sistem pendidikan sekuler hari ini. Janji negara untuk memastikan semua anak mendapat akses ke pendidikan berkualitas nyatanya tak ada bukti real. Sarana prasarana tak memadai. Terkendala sinyal, kuota bahkan aplikasi. Sehingga baik sekolah, guru dan siswa memerlukan sarana dan prasarana yang mendukung.


Di samping kebutuhan sekolah anak, nyatanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja sangat sulit dipenuhi dalam situasi seperti ini. Fenomena tertekannya perekonomian keluarga memengaruhi proses belajar anak. Maka tak heran jika anak akan menjadi korban depresi orangtua karena sulitnya memenuhi keuangan untuk biaya konsumsi keluarga sehari-hari.
Bahkan demi pendidikan anaknya, mereka harus berfikir untuk mencari tambahan penghasilan. Tak sedikit anak-anak meminta untuk dibelikan HP agar proses belajar tidak terganggu. Belum lagi biaya pulsa atau kuota internet yang harus ditanggung sendiri oleh mereka.


Dalam hal ini pemerintah sudah seharusnya memikirkan kondisi rakyat bahkan kebutuhan pendidikan selama daring. Mengingat bahwa warga negara Indonesia memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Sesuai bunyi Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yaitu “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.” Kebutuhan pendidikan harus benar-benar dipikirkan dan dipenuhi. Bukan hanya untuk kebutuhan pendidikan, tetapi juga kebutuhan rakyat Indonesia yang selalu diabaikan. Paradigma kapitalisme menjadikan para pemilik modal bebas menguasai hajat hidup rakyat tanpa mau memikirkan kondisi rakyatnya.


Seharusnya pemerintah mengambil tindakan cepat untuk mengendalikan virus yang kian hari kian merajarela. Karena, jika penyebaran virus ini diabaikan, kondisi rakyat bahkan dunia pendidikan semakin mengerikan. Berdasarkan situs covid19.go.id, jumlah kasus per Minggu sore, 20 Desember 2020 mencapai 664.930 orang. Angka ini didapat usai terdapat penambahan pasien positif corona sebanyak 6.982 orang. Kasus covid19 per 24 jam terus bertambah. Apalagi ditambah dengan libur panjang akhir tahun yang akan tiba. Ini akan berpotensi meningkatkan kasus virus corona tiga kali lipat dibandingkan libur panjang sebelumnya. (Liputan.com). Di dalam rumah anak – anak terancam keamanan dirinya, sedangkan di luar ancaman virus melanda.


Tak perlu berharap pada sistem Kapitalis yang hanya mengorbankan rakyatnya. Seluruh permasalahan yang ada di negeri ini sebenarnya bersumber pada satu masalah. Yaitu sistem yang digunakan dan diterapkan adalah sistem rusak. Sistem yang menerapkan akses kebebasan dan kepentingan. Dimana jika ada suatu kepentingan walaupun akan membuat rakyat sengsara, pasti akan tetap diterapkan oleh mereka, pelaku kepentingan.
Itulah potret rusaknya sistem saat ini. Sistem yang masih dipegang erat oleh rakyat yang nyatanya tak pernah memberi solusi yang solutif. Alih-alih memberi solusi, malah menambah masalah baru alias solusi tambal sulam. Perlu diketahui bahwa selama sistem yang diterapkan masih sama, yaitu demokrasi kapitalisme, potensi terjadi kasus yang sama pun akan selalu ada.


Satu-satunya harapan umat hanyalah kembali pada sistem Islam yang memiliki aturan sempurna berasal dari Pencipta alam, itulah Khilafah. Sistem yang berasal dari Sang Kholiq dan terbukti telah berhasil diterapkan hampir 13 abad lamanya. Berbagai krisis mampu diselesaikan salah satunya saat ada penyebaran wabah Tho’un. Solusi lockdown pun diberlakukan Khilafah untuk mengurangi penyebaran wabah Tho’un. Setiap wilayah diminta untuk berdiam sementara di wilayahnya masing-masing. Sedangkan wilayah yang terkena wabah, akan dikunci total. Tentu saja ini akan mengurangi dampak penyebaran wabah.


Maka sudah seharusnya umat muslim mengambil seluruh syariat Islam untuk diterapkan pada seluruh aspek kehidupan bukan sekedar ibadah ritual saja. Sebab solusi permasalahan umat hanya dikembalikan kepada hukum Allah sehingga mendatangkan berkah bagi seluruh alam.

Wallahua’lam Bisshowa’ab