Bell’s Palsy Bukan Penyakit Baru

sumber gambar google search

Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice)

Sejak Angelia Jolie menderita penyakit gangguan syaraf atau Bell’s Palsy, penyakit ini semakin dikenal luas di masyarakat. Dilansir kompas.com, penyakit Bell’s Palsy bisa terjadi pada usia berapa pun, tetapi paling umum terjadi pada usia 30-60 tahun.

Penyebabnya sendiri belum diketahui. Bell’s Palsy cenderung terjadi secara tiba-tiba. Biasanya timbul rasa nyeri di belakang telinga yang mendahului kelumpuhan tersebut satu atau dua hari sebelumnya. Gejala awalnya hampir serupa dengan orang yang terkena serangan stroke. Muka kaku, terasa tebal, dan sulit untuk digerakkan. Mulut menjadi miring, mata seperti menutup sebelah, dan alis jadi tidak seimbang

Sekedar perkiraan mungkin dipicu udara dingin, misalnya tidur menggunakan kipas angin, AC, sering bepergian dengan menggunakan motor tanpa helm atau penutup muka, dsb.

Bell’s Palsy ini belum ada obatnya. Biasanya dokter akan menyarankan untuk menjalani fisioterapi dengan kompres atau kejutan listrik di wajah setiap hari atau sesuai petunjuk dokter.

Apakah Bell’s Palsy ini bisa disembuhkan?

Serangan saraf Menurut penjelasan dr.Roeslan Yusni Hasan, Sp.BS, dari RS.Mayapada Jakarta, kelumpuhan pada Bell’s Palsy dapat disebabkan karena serangan pada saraf kranial nomer 7, bagian tepi (perifier). “Saraf ini unik karena dia panjang dan menikung, melewati lorong yang disebut facialis kanalis. Lorong ini terletak di dasar tulang tengkorak,” katanya.

Peradangan pada bagian saraf tersebut menyebabkan bengkak sehingga saraf menyempit dan terjadi perubahan pada otot wajah. Gejala lain yang menyertai bell’s palsy adalah mata yang tidak bisa dipejamkan dan telinga yang lebih peka (hiperakuisisi).

Meski belum diketahui pasti, virus herpes diduga menjadi penyebab peradangan. “Penyebab pastinya belum diketahui. Namun untuk peradangan mungkin diakibatkan serangan virus,” kata Roslan.

Ia menambahkan, ada beberapa kondisi yang membuat seseorang rentan terkena Bell’s Palsy, yakni ibu hamil, penderita diabetes, dan penderita infeksi saluran nafas.

Hal ini dikarenakan penurunan daya tahan, dan buruknya sistem aliran darah (vaskulerisasi). Meski belum ada obatnya, Roslan menyarankan penderita bell’s palsy tidak perlu khawatir. “Sekitar 60-85 persen penderita bell’s palsy sembuh sendiri karena sifat penyakit yang self limiting disease. Yang penting tetap hidup sehat dan kontrol pola makan,” katanya.

Disarikan dari berbagai sumber