ASI Cairan Ajaib Tak Tergantikan

ASI Cairan Ajaib Tak Tergantikan


Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Memiliki seorang anak adalah dambaan setiap pasangan suami istri. Akan terasa sepi jika anak tak kunjung hadir di tengah-tengah keluarga. Banyak iktiar guna mewujudkannya, baik secara alami maupun media.

Seiring dengan waktu, berbagai kesibukan dan pengaruh arah pandang dalam kehidupan banyak mempengaruhi pendapat perempuan modern tentang memiliki anak. Bahkan dibeberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, Belanda dan China, mengalami penurunan angka pernikahan berakibat pada penurunan angka kelahiran. Mereka sedang menghadapi masalah Lost Generation. Usia produktif menurun meninggalkan usia manula.

Kemudian pandangan tentang pengasuhan anak, di era sekarang pemahaman para ibu muda milenial, menghadapi dua pilihan antara eksistensi di ranah publik dengan karier dan sederet pendidikan bergelar dengan menjadi ibu rumah tangga full, hanya berurusan dengan perawatan dan pengasuhan. Disinilah Kapitalisme secara perlahan menjadi arah pandang para perempuan modern dan menggeser nilai-nilai teragung dalam proses menjadi seorang ibu.

Salah satunya adalah pemberian ASI, dengan keterikatan dengan aturan tempat ia bekerja, perempuan tak punya banyak pilihan dengan cuti hanya 3 bulan dan adanya ruang ASI dimana ia bisa memeras ASI dan memanfaatkan jasa antar ASI. Padahal, jika kita berbicara Islam, agama ini sangat memprioritaskan masa pemberian ASI sebagai masa Bonding ( pelekatan) terbaik antara ibu dan anak.

ASI Bukan Cairan Biasa

Masyaallah, sungguh Allah Maha Besar. Setiap perempuan, siapapun dia diberi anugerah terindah untuk bisa menghasilkan ASI begitu ia melahirkan. Meskipun banyak mitos dan hoax yang menyertai perjalanan ibu menyusui namun ASI bukan cairan biasa dan tak ada yang bisa mengungguli komposisi dan manfaatnya.

ASi diciptakan untuk keperluan bayi manusia, ASI mengandung setidaknya 100 bahan yang tidak ditemukan di susu sapi. Nutrisi ini juga tidak dapat dibuat di laboratorium. Kemudian, komposisi ASI terus berubah untuk memenuhi kebutuhan bayi. Berbeda di pagi dan di sore hari, berbeda pada awal menyusui dari akhir menyusui, berbeda pada bulan pertama dari bulan ke tujuh, berbeda untuk bayi prematur dari bayi yang tepat waktu.

Nutrisi dalam ASI cocok dengan kebutuhan bayi dan kemampuan bayi untuk menanganinya. Misalnya, ASI mengandung lebih sedikit sodium dibanding susu sapi formula, mempermudah ginjal bayi untuk mencernanya. Anti alergi, anti obesitas, penenang bayi, sebab saat ia menghisap ASI itulah ketenangan ikut mengalir, saling memandang sehingga bayi tahu ada seseorang yang bisa ia andalkan setiap saat yaitu ibunya.

Ketika si bayi mengalami demampun, dengan terus menerus memberinya ASI mampu segera menurunkan dan menstabilkan demam. Saya secara pribadi pernah mengalami sendiri, ketika anak kedua belum genap sebulan usianya mengalami demam tinggi, di sekujur badannya hingga bermunculan bercak merah, kata orang tua namanya gabaken ( campak), memang sudah mendapat vaksin namun entah, saat itu masih muncul.

Ketika hanya ASI yang boleh dikonsumsi ( karena saya komitmen ASI ekslusif) , maka saya lebih sering memberinya ASI, butuh kesabaran dan dukungan orang-orang sekitar terutama suami untuk menghindari panik. Sebab, mekanisme ASI keluar dengan lancar adalah ketenangan dan percaya diri bahwa ASI adalah obat terbaik. Alhamdulillah, dalam waktu 3 hari demam mereda dan bercak merah berangsur menghilang.

Propaganda Sesat Kapitalisme

Sungguh, Allah tak pernah menciptakan segala sesuatu itu untuk bersenda gurau, melainnya dengan tujuan dan hikmah, yaitu kemaslahatan manusia. Kapitalisme, telah memberi racun kepada wanita-wanita di negara berkembang dengan mempromosikan susu formula berbagai brand terkenal, dengan keleb
ihan yang diluar nalar dan harga selangit. Hingga muncul budaya mereka yang berduit mampu beli dan akhirnya bisa punya anak sehat dan cerdas. Padahal, di negara mereka sendiri, Barat, susu formula tak mendapat tempat. Bagaimana mungkin kita yang berada di negeri mayoritas Muslim, beragama Islam kemudian malah meragukan keistimewaan ASI?