Andai Kenangan Bisa Bicara

Andai Kenangan Bisa Bicara

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Kedahsyatan yaumul kiamat memang luar biasa, membayangkan saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Sehingga bagi setiap muslim berlomba-lomba menjadi hamba terbaik adalah sebuah keniscayaan, apalagi menjadi bagian dari tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di hari akhir pastilah menjadi harapan.

Dalam tulisan ini kita tidak akan membahas yaumul kiamat lebih dalam. Namun, lebih lanjut kita akan berselancar pada golongan ke empat yang akan dilindungi Allah, yaitu dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.

Sepertinya tidak sulit menjadi golongan yang ke empat. Tapi tahukah kita, terkadang kita berteman dan bersahabat karena satu kepentingan yang sama, kesukaan yang sama, hobby yang sama, atau almamater yang sama.

Mungkin ada yang bilang, “saya tidak butuh teman”, “saya bisa mandiri tanpa sahabat”, “aku cukup dengan keluargaku”, dan sebagainya.Tapi, bukankah manusia adalah makhluk sosial yang dia butuh orang lain dalam hidupnya. Bahkan, tidak selamanya keluarga akan terus bersama kita. Bagaimanapun kita butuh teman.

Coba kita pindai memori kita, adakah dari teman-teman kita yang tulus menyayangi kita tanpa pamrih apapun. Yang meluruskan kita saat kita mulai melenceng dari jalan kebenaran. Yang akan menguatkan kita saat kita lemah. Yang menjadi sandaran saat kita letih. Serta, dia yang akan menjadi yang pertama mendapatkan kabar bahagia dari kita. Jika ada, simpan namanya di hati yang terdalam, mungkin dia masih selalu hadir di hari-hari kita selanjutnya.


Pertemanan ataupun persahabatan akan bisa kuat jika dilandasi oleh aqidah, karena aqidah ini akan menjadi pondasi terciptanya sebuah hubungan. Benci dan cinta karena Allah. Bertemu dan berpisah pun karena Allah. Berjuang bersama di jalan Allah. Sehingga pertemanan dan persahabatan bukan didasari oleh kepentingan-kepentingan sesaat semata. Namun murni karena Allah telah mempertemukan kita.

Hubungan persahabatan seperti inilah yang kelak akan membawa kita menjadi bagian dari orang-orang yang dinaungi Allah di yaumul kiamat. Jangan pernah menjadikan persahabatan seperti ini menjadi kenangan, karena kenangan tidak bisa bicara. Wallahu’alam.