Agar Tak Resah Saat Anak Belajar di Sekolah

arts and crafts child close up color

Agar Tak Resah Saat Anak Belajar di Sekolah
Oleh: Ummu Diar, S.Si

Healthy-sharia.com – Setelah sekian lama menjalani kegiatan pembelajaran secara daring akibat pandemi Covid-19, siswa sekolah kini diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Menteri Pendidikan dan Kebudyaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim telah mengumumkan diperbolehkannya kegiatan belajar tatap muka untuk kembali digelar. [1]

Nadiem Makarim mengatakan, pembelajaran tatap muka yang kembali akan dilakukan pada 2021 sifatnya bukan kewajiban. “Sekali lagi harus saya tekankan, pembelajaran tatap muka ini diperbolehkan, tidak diwajibkan. Diperbolehkan dan keputusan itu ada di pemda, kepala sekolah dan orang tua yaitu komite sekolah,” ujar Nadiem. [1]

Sekolah dibolehkan mengadakan tatap muka apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan, yang mengacu pada protokol kesehatan. Namun aktivitas pembelajaran tetap dilakukan dengan kuota terbatas, dengan melakukan rotasi.

Persyaratan ketat memang diberlakukan, sebab kondisi penularan belum juga berhenti. Walhasil perasaan senang akan kembali ke sekolah pun bisa jadi masih dihinggapi sejumlah keresahan. Sebab virus misterius ini tak peduli siapa yang dimangsa, tua-muda, besar-kecil sama-sama ada yang kena.

Tentunya besar harapan kita bagi yang berwenang agar sekiranya wabah dapat dituntaskan. 3T makin dimasifkan dan 3M terus diingatkan. Sebab kegiatan di atas tidak dapat dituntaskan secara mandiri. Memerlukan keahlian dan koordinasi yang rapi.

Jaminan wabah yang tuntas adalah faktor penting penghilang keresahan. Faktor utama untuk memberikan ketenangan saat anak harus belajar di sekolah. Keadaan ini yang mungkin terbaca oleh Amru bin Ash di masa lalu, sehingga beliau sigap memutuskan mata rantai wabah.

“Amr bin Ash beliau berkata kepada kaum muslimin, ‘Wahai manusia sesungguhnya wabah ini seperti api yang menyala-nyala dan manusia yang berkumpul ini bahan bakarnya’. Kayunya semakin berkumpul (manusia) maka semakin keras, dan cara mematikan api ini harus dipisah. Maka berpencarlah ke gunung-gunung, social dan pyhsical distancing itu ajaran dari islam, dan di zaman beliau wabah sudah mereda,” ungkap Raehanul, Spesialis Patologi Klinik dari Univeristas Gajah Mada. [2]

Dari sisi orang tua, upaya yang dapat dilakukan jikapun akan melepas anak ke sekolah antara lain:

  1. Memastikan kondisi lingkungan sekolah dan yang terkait aman dan memenuhi syarat pembelajaran tatap muka. Orang tua perlu aktif mencari informasi mengenai kondisi terkini covid di lingkup sekolah anak.
  2. Menguatkan iman dan imun anak. Anak perlu diajari bersabar untuk menerima kondisi belajar yang beda, dan diminta ridha bahwa kondisi ini dikarenakan sedang ada wabah. Anak pun perlu diberikan nutrisi fisik dan akal yang seimbang agar imunnya terjaga.
  3. Memahamkan anak untuk patuh protokol kesehatan, terutama 3M.
  4. Bertawakal sekaligus berikhtiar agar aktivitas belajar tidak mengalahkan hak terpeliharanya nyawa anak.

Langkah di atas adalah ikhtiar agar tak resah saat anak kembali ke sekolah. Dan akan lebih efektif bila berpadu dengan dukungan dari masyarakat dan yang terkait lainnya. Sebagaimana jaminan aman yang dihadirkan bersama, layaknya penanganan wabah di masa Khalifah Umar dan gubernur Amru bingung Ash, yang menjadikan Islam sebagai acuannya.

Namun demikan, dalam kondisi pandemi, mengizinkan anak kembali ke sekolah untuk belajar dinilai bukan keharusan. Sebab dari kementerian pun sifatnya masih sebatas membolehkan, bukan mewajibkan. Bagaimanapun hak hidup dan kesehatan adalah hal yang patut diutamakan.

Referensi:

  1. https://nasional.kompas.com/read/2020/11/21/07101241/sekolah-tatap-muka-dibolehkan-mulai-januari-2021-ini-teknis-pelaksanaan-dan?page=all
  2. https://republika.co.id/berita/q8b62k430/kisah-wabah-penyakit-di-zaman-amr-bin-ash